Tuesday, August 28, 2012

Aku Anak Manusia, bukan Anak Indonesia

Kepeduliaan sosial itu melintasi batas-batas kenegaraan dan tanah air. Bagi saya, lebih baik tidak mengaku sebagai warga negara Indonesia bila representasi dari rakyat yang ditunjukkan oleh wakil rakyat adalah wajah-wajah kemewahan. Maka saya heran bila banyak pemain bola berbondong-bondong mengajukan diri untuk dinaturalisasi menjadi WNI sedangkan saya lebih memilih 'merdeka' dari ikatan persaudaraan dengan wakil rakyat hanya karena atas dasar senegara dan setanah air.

Keadilan sosial itu tidak terbatas pada kewarnanegaraan. Kalau mereka tetap mengaku berkewarganegaraan Indonesia dengan sikap congkaknya, maka ijinkan saya mengajukan diri untuk dinaturalisasi sebagai warga negara kebebasan. Tanah air adalah tempat lahir, yang padanya tak bisa memilih. Saya lahir di Indonesia, maka tanah air saya Indonesia. Kewarganegaraan bisa memilih dan saya memilih menjadi warga bumi yang membumi dan terlepas dari segala ikatan warga negara oleh sebab ketanahairan.

Saya mulai mengerti mengapa orang yang cinta tanah air lebih memilih mengabdi kepada selain tanah airnya. Tanah air memang ibu kandung mereka, tapi wakil rakyat adalah ibu susuan yang buruk gizinya. Dan, ibu kandung pasti akan lebih bahagia bila anaknya bermanfaat bagi sesama manusia daripada berbakti pada ibu susuan yang semena-mena.

Bahkan nilai-nilai kemanusiaan berada di atas nasionalisme. Jika membela negara justru membuat penderitaan bagi kemanusiaan, maka saya memilih menentang negara. Apalah arti nasionalisme bila saya harus mengakui wakil rakyat sebagai representatif diri saya sementara mereka bahkan tidak peduli dengan kemanusiaan.

Kalau bukan karena lahir di Indonesia, tahukah mereka bahwa banyak orang lebih memilih berperikemanusiaan daripada membela tanah air? Sekali lagi, berlaku adil bagi sesama manusia tidak terbatas pada sekat-sekat kewarganegaraan dan ketanahairan. Lebih baik bagi saya untuk bersaudara dengan manusia Indonesia atas nama kemanusian, bukan atas nama Indonesia itu sendiri. Membantu mereka tidak sama dengan membantu Indonesia, bila Indonesia adalah ruang Banggar senilai Rp20 M.

Standar apa yang mereka pakai? Mereka berdalih, semua harga telah sesuai standar. Furnitur ruangan diimpor langsung dari Jerman, bukan Jepara.

Malu aku jadi orang Indonesia, bila bersaudara dengan orang seperti mereka.

Siapa orangnya yang tidak geram dengan proyek ruang Banggar senilai Rp20 M itu? Kalau hanya ada satu jawaban, semua tahu apa jawaban pertanyaan ini. Dan apakah itu manusiawi? Jika mereka masih mengaku manusia, maka saya memilih mengaku bukan manusia.

Salam,

@elmabruri

No comments:

Post a Comment