Monday, August 6, 2012

Membingkai Kengangan Jilid 2

Aku telah berusaha meyakinkan ibuku perihal ketidakikutsertaanku pada wisuda tahun ini. Sedikit banyak, ibu memahami.

Aku bukan anak kecil lagi yang ingin pakaian baru untuk lebaran, aku pun bukan mahasiswa yang mempunyai permintaan seperti orang kebanyakan. Pada beberapa hal, aku telah mencoba untuk mematikan rasa. Sangat munafik jika aku mengatakan bahwa aku telah meniadakan rasa ingin (nafsu). Tapi keputusanku saat ini benar-benar berpihak pada 'tidak mengikuti wisuda'.

Apa kata orang nantinya? Terserah saja. Anjing menggonggong, kafilah berlalu.

Sebenarnya sangat lebay bila aku harus menuliskan hal ini di blog. Tak perlu rasanya hal yang tak penting kok dibesar-besarkan. Tapi, jika aku mau bertindak ekstrem, aku akan balik bertanya, "Untuk apa ikut wisuda?" Bagiku, tradisi yang jauh dari substansi tidak perlu diikuti, apalagi dilestarikan.

Ketika suatu kesempitan -finansial- membuat kita bijaksana, maka nikmat Tuhan manakah yang akan kau dustakan?

Semakin berumur, berbagai pengalaman hidup membentuk diriku untuk tidak menghambur-hamburkan uang. That's it. Mungkin bagi mereka apalah arti uang satu juta untuk acara sepenting wisuda -yang mungkin hanya sekali dalam hidup. Sudah kukatakan, dalam hal ini aku telah mematikan rasa untuk keinginan 'membingkai kenangan sekali dalam hidup' ini.

Aku dapat mengatakan bahwa ada alibi mulia di balik absennya aku dari Wisuda 2012: setiap rizki yang diamanahkan kepada kita, akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak.

Aku berusaha mengingatkan diri sendiri dengan menuliskannya. Bahwa, rizki setiap orang memang berbeda. Tidak perlu iri dan merasa tidak adil. Tapi seberapa bermanfaat rizki itu bagi kehidupan adalah berada ditangan kita penentuannya. Dan kepada kitalah pertanggungjawaban akan penggunaan setiap kesempataan akan ditanyakan.

Lihat, kalimatku menjadi begitu bijaksana. Betapa nikmat Tuhan terlalu banyak yang kita dustakan. Bahkan kesemptian adalah nikmat yang harus kita syukuri ketika keadaan ini membuat kita bertindak lebih baik.

Kebanyakan alasan teman-teman yang mengikuti wisuda adalah seputar sebagai cara membanggakan orang tua bahwa anaknya telah lulus dari suatu institusi pendidikan. Secara, STAN gitu loh! -'so what?' I say.

Biarlah terasing, asalkan dengan keterasingan itu menjadi populer. Ups, itu sih seperti tag iklan di tivi. Think again. Always on: bebas itu nyata.

Maksudku: biarlah terasing, asalkan bersama orang-orang terkasih.

Tapi aku salut dengan ide seorang teman mahasiswa yang ingin mengalihkan dana wisudanya untuk kegiatan yang menurutnya jauh lebih bermanfaat dan berarti. Dia, bersama teman-teman sevisi dan sehati, berencana melakukan wisuda independen di suatu panti asuhan. Kegiatannya pun akan sama: mensyukuri kelulusan, hanya saja mereka melakukannya bersama anak-anak yatim piatu. Mereka menolak wisuda dan memiliki alternatif solusi yang mulia dan bisa ditiru. Tidak seperti aku yang egois ini.

Awalnya, dengan begitu kurang ajarnya aku meniatkan uang yang sedianya untuk wisuda akan aku gunakan untuk mendanai pengalaman. Melancong ke negeri seberang: membuat passport, memesan tiket pesawat, dan jalan-jalan. Dengan jumlah dana yang sama, aku bisa mengekskusi rencana ngawur-ku itu. Tapi, setelah kupikir-pikir, kalau demikian aku sama saja membela keinginan istriku daripada memenuhi hak ibuku [itu hanya perumpamaan].

Tapi, bagaimanapun, aku ini adalah seorang anak laki-laki. Sampai kapanpun, aku tetaplah seorang anak laki-laki di hadapan ibu. Jika ibu tidak merestui lobiku, aku harus mengikuti perintahnya -ikut Wisuda 2012. Tentu saja, orang tua -atau siapa pun- tidak bisa memaksaku. Karena, ditangankulah kendali untuk mendaftar atau tidak.

Dua tahun lalu, tepat tanggal 12 Oktober 2010, aku menjadi Panitia Wisuda 2010 yang bertempat di SICC. Tahun ini, insyaAllah wisuda akan dilaksanakan pada tanggal 10 Oktober 2012 di SICC juga, haruskah aku ke sana lagi?

Salam hangat dariku,

@elmabruri

No comments:

Post a Comment