Tuesday, August 28, 2012

Review Novel: Bumi Manusia

Sesiangan ini aku membaca novel Bumi Manusia, sejak beberapa hari yang lalu (akhir-akhir bulan puasa). Baru tersadar, novel ini luar biasa bagus! Padahal buku ini kubeli lebih dari setahun yang lalu di lantai Under Ground Blok M Square. Aku ingat, harganya Rp40.000 tak bisa kutawar, untuk barang bajakan yang seharusnya seharga Rp90.000 itu. Harganya cukup pantas -atau sebenarnya sangat pantas- untuk karya hebat seorang Pramoedya Ananta Toer. Dan, aku malu membeli bajakannya -mohon dimaafkan.

Aku tak mengerti sastra, tapi izinkanlah aku memberi sedikit kata penghargaan untuknya. Tentunya, bagi penulis sekaliber Mas Pram -siapa guwe panggil-panggil pengarang tersohor dengan sebutan 'mas'?- pujianku tak akan menambah kualitas karyanya. Pun tak ada nilainya. Tapi biarlah seorang pembaca berpendapat akan bacaan yang telah dipilihnya.

Meski demikian, aku akan mengatakan: inilah karya sastra. Atau setidaknya, bagian dari dunia sastra seperti Bumi Manusia-lah novel yang sesuai denganku. Yang kusukai. Maksudku, masing-masing orang punya sisi kesukaan tersendiri terhadap karya besar. Misalnya, begitu banyak pengagum Andrea Hirata, dan mungkin berjuta orang yang berbeda lebih suka membaca manga -komik Jepang- dengan bahasa ringan daripada novel dengan kalimat memukau. Itu masalah selera.

Hal yang membuatku kagum pada Bumi Manusia adalah dua unsur yang saat ini sering terpisah pada sebuah karya: keindahan dan kebermanfaatan. Betapa banyak tulisan para penulis -mungkin pemula- yang mementingkan keindahan. Itu terbukti dari trend buku yang laku di pasaran.

Memang tidak mudah memadukan dua unsur itu. Indah dapat dilihat dari cara penyampaiannya dan manfaat dapat diambil dari isi yang disampaikan penulis.

Aku memang tak cukup mengerti soal sastra, tapi dengan dua unsur itulah aku menilai suatu karya. Bagusnya penyampaian dapat dikuasai dengan berlatih. Sedangkan berbobotnya isi yang disampaikan dapat diperoleh dengan pengalaman dan luasnya wawasan. Aku kira begitu.

Cerita berputar pada tiga tokoh utama: Minke, Annelis, dan Nyai Ontosoroh. Jika dibuat sinopsisnya di sini tentu tidak cukup hanya beberapa paragraf. Yang jelas, tempo berjalan lambat membuka lakon Bumi Manusia. Pembaca akan terasa sangat menikmati ketika berada di tengah-tengah dengan tempo yang teratur dan kecepatan sedang. Di sini aku benar-benar seperti tertarik masuk ke panggung sebagai pemain figuran tapi menjadi bagian dari cerita. Tempo yang lebih cepat lagi menjadi penutup cerita. Dan, Mas Pram menutupnya dengan menggantung, membuat pembaca bertanya-tanya seandainya novel itu dilanjutkan.[aku tak tahu apakah tetralogi Buru sekuelnya -Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca, dan Jejek Langkah] Di novel itu pun telah disebutkan bahwa selamanya cerita yang menarik adalah cerita yang cenderung sedih dan susah, karena memang demikianlah kehidupan manusia di bumi -senang dan mudah hanya ada di kehidupan syurga.

Ada hal penting yang kucatat cari novel itu. Yaitu lima syarat yang ada pada satria Jawa: wisma (rumah, bukan sekedar alamat), wanita (lambang kehidupan dan penghidupan, bukan sekedar istri), turangga (kendaraan, bisa berupa ilmu pengetahuan), kukila (hobi), dan curiga (keris: lambang kewaspadaan, kesiagaan, keperwiraan, alat untuk mempertahankan 4 syarat sebelumnya). [entah kenapa aku perlu mencatat bagian yang satu ini]

Satu-satunya kekecewaanku terhadap Bumi Manusia adalah kehadiran nama Dr. Snouck Hurgronje. Pada novel dia ditampilkan sebagai bahan diskusi antara Minke, Sarah, dan Miriam. Disebutkan di sini doktor itu adalah seorang sarjana yang brilian: berani berpikir, berani bertindak, berani mempertaruhkan diri sendiri untuk kemajuan pengetahuan, termasuk penyaran penting dalam menentukan Perang Aceh untuk kemenangan Belanda. Seolah-olah Mas Pram melakukan propaganda untuk mengenal tokoh itu. Sayang, dalam pikiranku, Dr. Snouck Hurgronje adalah seorang antagonis. Melalui sumber lain, aku mengenal doktor itu sebagai seorang pengadu domba yang dengan cara inilah Aceh dapat dikalahkan Belanda -dan masih ada kejahatan lain yang dilakukannya.

But, overall, ini benar-benar karya luar biasa dari seorang prosais asli Indonesia kelahiran Blora, Jawa Tengah. Dan, aku menyesal mengapa baru membaca sekarang.

Salam,
@elmabruri

2 comments:

  1. Bumi Manusia yang aku pinjam dari Abdul, memang bagus, menggabungkan banyak unsur seperti budaya, sosial, kemanusiaan, dll....(memori setaun lalu, selesai di bulan syawal juga)
    aku baru baca sedikit untuk awal sekuelnya, sepertinya berkaitan....

    Novel Muhammad yg pernah km pinjam tempo hari udah selesai dibaca? Waktu tak pinjemin, aku sendiri juga belum baca, hehe

    kalau udah selesai, gmn pendapatmu ttg novel satu ini?

    ReplyDelete
  2. lho.. VIk buklane novel Muhammad udah kkembaliin? bwrarti udah selesai.

    nanti deh aku tulis di posting tersendiri..

    ReplyDelete