Tuesday, August 28, 2012

Review Novel: Sang Penandai

Seharian Minggu (26/8) ini habis hanya untuk membaca novel "Sang Penandai" karya Tere-Liye. Hampir-hampir tak melakukan kegiatan berarti. Entah karena bergerak pasif seperti ini atau cuaca yang tak cerah, tubuhku terasa kaku tetapi lelah, sedikit merasa dingin, tetapi suhu tubuh tak seperti biasanya.

Kuakui, kecepatan bacaku rendah. Namun demikian tidak berarti pemahamanku akan isi cerita dan cara penyampaian lebih baik dari pembaca lainnya. Aku memang membaca rinci setiap katanya; sayang melewatkan satu huruf pun dari buku. Ini pun tidak berarti aku belajar banyak soal merangkai kata-kata menjadi cerita yang menarik.

Tapi biarkan aku berkomentar tetang Sang Penandai.

Pada dasarnya aku tak suka kisah fantasi. Itu tidak nyata. Maksudku, novel fantasi -meski melakonkan cerita kemanusiaan- tidak dapat dijadikan acuan bagi kehidupan nyata manusia. Tidak aplikatif. Meski, tentu saja, cerita fantasi harus diambil substansinya.

Khusus untuk Sang Penandai, aku bisa mengatakan kalau ini novel galau. Sekilas demikian. Cerita yang mengambil waktu abad pertengahan -sepertinya- di Eropa ini diawali dengan Jim, seorang pemuda sebatang kara (yatim piatu) dan miskin, yang jatuh cinta dan dibalas cinta oleh putri Raja bernama Nayla. Hubungan mereka bersemi selayaknya jamur di musim basah. Tentu saja, pihak kerajaan melarang hubungan itu dengan menyiapkan perjodohan yang tak pernah diinginkan Nayla. Maka, Nayla meminta Jim, kekasihnya -di novel ini disebut sebagai cinta sejati (sangat termehek bukan?), untuk membawa kabur dirinya dari pingitan dinding kerajaan. Dasar Jim seorang pemuda miskin yang pengecut, dia mengingkari janjinya untuk menjemput kekasih hatinya. Singkat cerita, Nayla memilih untuk bunuh diri dengan meminum racun.

Namun, diakhir cerita Jim diajak untuk berdamai dengan masa lalunya tersebut. Tentu maksudnya adalah biarlah masa lalu itu ada sebagai kenangan yang tersimpan untuk tidak pernah diambil kembali. Biarlah masa lalu itu ada tanpa mempengaruhi kehidupannya saat ini. Tak apa jika Jim tetap mencintainya sampai mati asalkan itu tidak mematikan jiwanya.

Memang, ada sisi 'bahaya' bagi para pembaca jika tidak cermat membaca pesan Tere-Liye yang tersirat. Hal yang berbahaya itu adalah jika pembaca merasa benar dengan apa yang dilakukan oleh Jim sepanjang sisa hidupnya. Jim tidak mencintai wanita lain dalam sisa hidupnya selepas kematian Nayla. Bahkan, ketika Jim dipaksa oleh Sang Penandai untuk melakukan perjalanan bersama Armada Kota Terapung untuk menemukan Tanah Harapan, ia tetap bergelut dengan masa lalunya, menyesali kepengecutannya akan cinta Nayla.

Perjalanan ini sendiri memakan waktu bertahun-tahun dan telah mengubah Jim dari seorang pengecut menjadi seorang pemberani dengan tidak melepaskan sisi sensitifnya terhadap perasaan sampai menjelang ajalnya. Kalau aku raba-raba dari deskripsi Tere-Liye sepanjang novel ini, aku dapat berpendapat bahwa perjalanan itu dimulai di Benua Eropa dan diakhiri di Nusantara (Pulau Sumatera).

Novel tersebut memang tidak membawa-bawa soal Tuhan dan ketuhanan. Kekuasaan langit yang disinggung-singgung pada beberapa bagian novel hanya berarti kekuatan luar biasa di luar kemampuan manusia. Sama sekali tidak menyisipkan prinsip hidup manusia beragama dalam urusan 'percintaan'. Maksudku, ekstremnya begini: cinta sejati -seyogyanya- hanya ada setelah menikah. Manusia menikah hanya karena satu hal, yaitu jodoh yang sepenuhnya merupakan kuasa langit. Setelah itu, barulah 'cinta' mengambil alih peran.

Tapi cerita tentang Jim tidak mengelaborasi sisi aturan itu. Novel lebih berpesan kepada para pembaca untuk mengolah perasaan yang disebut cinta -sebenarnya aku enggan menyebut kata yang satu ini, terlalu lembek dan termehek-mehek. Dan, sebenarnya aku tidak punya wewenang untuk menyinggung masalah perasaan yang satu itu.

Maka, baca sajalah novel itu. Serius, Anda tidak akan menyesal karena telah membacanya.

Salam,

@elmabruri

No comments:

Post a Comment