Monday, August 6, 2012

Tiket Mudik dan Masjid 'Kubah Emas' Dian Al Mahri

Tangerang Selatan, pukul 10.00

Barangkali karena aku dianggap lebih tahu jalan, kang Bahtiar -teman sekos- memintaku menemaninya -sebagai penunjuk jalan- ke Kampung Rambutan untuk mendaftar mudik gratis ke Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Sedikit banyak aku memang tahu jalan TB Simatupang, tempat pendaftaran itu. Ditambah lagi, aku cukup mudeng membaca peta. Sejak dari Lebak Bulus, hampir-hampir tidak pernah belok; berkendara terus mengikuti jalan. Di samping kanan-kiri jalan tol lingkar luar Jakarta, itulah jalan TB Simatupang. Ancer-ancer tempat pendaftarannya adalah 200 meter setelah Terminal Kampung Rambutan, Wisma Astoria.


Sempet salah karena aku mengira Pasar Rebo sebagai terminal Kampung Rambutan, ternyata masih satu kilometeran ke timur. Setahuku, juga berdasarkan peta, terminal Kampung Rambutan berseberangan jalan dengan TMII. Nah, jalan di sekitaran TMII begitu banyak, melayang-layang, dan saling tindih. Aku asing dengan jalan ini; sepertinya itu pertama kalinya aku lewat situ. Tapi rambu-rambunya cukup jelas hingga kami dapat menemukan Terminal Kampung Rambutan dengan mudah -karena sangat terlihat jelas juga. Setelah berkali-kali bertanya, sampai juga kami di depan Koperasi Paguyuban Jawa Tengah se-Jabodetabek, 200-an meter di sebelah barat terminal.

Kampung Rambutan, Jakarta Timur, pukul 11.00

Kerumunan massa sudah membanjiri halaman depan tempat pendaftaran #lebay. Ternyata animo masyarakat akan mudik gratis begitu tinggi. Seperti antrian pembagian zakat di kota-kota besar saja. Kami turut berdesakan.

Ternyata, mudik gratis ini tidak hanya untuk warga Kabupaten Batang, tetapi untuk seluruh Jawa Tengah! Informasi sebelumnya yang kudapatkan kurang tepat; ada beberapa bagian yang tidak lengkap. Sekarang aku tahu: mudik gratis ini diselenggarakan atas bantuan Gubernur dan Bupati/Walikota se-Jawa Tengah dan Bank Jateng. Tentu saja, salah satu tujuannya adalah Kabupaten Batang. Maka, kami kemudian mencari informasi adakah Kebumen menjadi tujuan mudik gratis ini. Ternyata iya, tapi kuota telah penuh. Aku mencari tempat tujuan yang kiranya melewati Kebumen: Purworejo. Katanya, penuh juga. Aku masih berusaha, kutanyakan adakah kursi kosong untuk Banyumas. Ternyata ada. Aku meminta formulir. Kukumpulkan formulir sebagai antrian.

Sebenarnya aku tidak membawa fotokopian KTP karena awalnya aku tak berniat mendaftar -tak tahu kalau ada tujuan ke Kebumen dan sekitarnya. Sambil menunggu panggilan, aku pergi mencari kedai fotokopi yang cukup sulit kutemukan karena jauh dari hiruk-pikuk instansi pendidikan.

Kuota untuk Batang memang tidak cukup banyak, tapi peminatnya juga tidak membludak. Maka, tak perlu menunggu lama, kang Bahtiar dipanggil dan mendapat tiket mudik gratis menuju Batang. Sedangkan aku masih menunggu lama untuk tiket Banyumas. Sampai akhirnya antrian selesai, aku belum dipanggil.

Untungnya, aku berinisiatif menyambangi ruang petugas lewat pagar di samping. Seorang ibu-ibu menanyaiku. Aku mengadukan kenapa aku belum dipanggil dan masih adakah kuota untuk Banyumas. Ternyata sudah tidak ada. Maka, kukatakan kalau sebenarnya aku mau ke Kebumen. Mimik ibu itu seperti berubah. Seperti menemukan tetangga di perantauan. Aku berharap ada keajaiban berupa wild card mudik gratis tujuan Kebumen. Aku hanya disuruh bersabar; aku menunggu. Aku semakin mencurigai bahwa ibu itu sedang menyelipkan satu tiket khusus untukku. Tapi entahlah, akhirnya aku tak mendapatkan tiket Kebumen.

Ketika ada petugas lain yang menanyaiku dan mendapati tujuanku adalah tiket Banyumas, aku ditawari untuk pindah ke jurusan Cilacap saja. Wah, lebih jauh lagi dari Kebumen. Setelah kupikir-pikir, Cilacap adalah hasil yang lebih baik daripada aku pulang dengan tangan hampa. Maka, aku masuk ke ruang petugas untuk mengambil tiket Cilacap.

Di dalam ruangan, aku mencoba melobi lagi ibu-ibu tadi. Aku masih berharap ibu itu mengeluarkan tiket special edition untukku yang bukan siapa-siapa beliau. Akhirnya, aku tetap diberi tiket Cilacap dengan special term. Ibu itu akan mencarikan tiket Kebumen, aku disuruh menghubunginya sore atau malam apakah ada tiket Kebumen yang bisa ditukarkan dengan tiket Cilacap. Aku diberi nomor teleponnya. Lumayan lega, meski aku teringat jarak yang harus kutempuh jika keesokan harinya aku menukar tiket itu. Bintaro-Kampung Rambutan tidak dekat, apalagi jika ditempuh dengan angkot. Tidak dekat itu dapat berarti biaya angkot yang harus kukeluarkan. Aku harus berhitung cepat untuk memilih apakah aku harus menukarkan tiket dengan tambahan biaya transportasi menuju Kp. Rambutan ataukah tambahan uang transport untuk Kebumen-Cilacap. It's fine if I have to barter the ticket. Berpindah bus di tengah perjalanan bukan pilihan yang enak ketika mudik lebaran, pikirku.

Masjid "Kubah Emas" Dian Al Mahri, Depok, pukul 15.00

Aku sudah berkali-kali pergi ke UI, tapi tidak sampai kawasan Depok. Ternyata Depok adalah kota yang hidup, ramai, dan cukup glamour. Perekonomian berdetak kencang. Mobilitas riuh. Depok, kota seribu angkot.

Masjid Kubah Emas, aku hanya sering mengenal namanya, tanpa tahu informasi lebih lanjut tentang letaknya selain berada di Kota Depok. Ternyata, masjid kondang ini terletak jauh dari hiruk pikuk Depok. Berkilo-kilo meter kami menempuh jalan beraspal, beberapa orang telah kami tanyai, barulah kami mendapati masjid ini di Kecamatan Limau. Secara geografis, masjid ini sudah dekat dengan daerah Parung, Bogor.

Tepat sesuai harapan awal kang Bahtiar, kami sholat 'ashar di masjid ini. Sampai di sana belum masuk waktu 'ashar. Jadi, kami mempunyai waktu istirahat. Sambil rebahan, kami memandang kagum masjid megah ini dan ngobrol.

Sekilas saja aku tahu bahwa masjid ini didirikan oleh seseorang, bukan suatu badan tertentu. Kupikir, betapa mulia orang itu dalam menyedekahkan hartanya. Dari poster pada mading, pendiri masjid ini adalah seorang perempuan.

Tak lama rebahan, adzan dikumandangkan. Ketika sholat akhirnya akan dimulai, sang imam begitu cermat dalam menertibkan jamaah. Juga, tidak tanggung tanggung, untuk jamaah laki-laki yang paling hanya satu atau dua baris ini, ada bilal untuk mengiringi komando sang imam. Mungkin karena letak jamaah wanita yang berada jauh dibelakang dan luasnya masjid ini, perlulah adanya peran bilal.

Kesimpulan

Dalam satu hari ini, kami telah melewati 3 propinsi: Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.

Hanya butuh waktu 1 jam untuk pulang dari Masjid Kubah Emas menuju Bintaro via Cinere-Lebak Bulus.

And so, alhamdulillah untuk hari ini.

No comments:

Post a Comment