Monday, September 24, 2012

Capacity Building

Berangkat Capacity Building
Sumber foto: www.mediacenterstan.com
Ketika adzan 'ashar berkumandang, gelombang pertama CB sedang beriring-iringan menuju Cijantung. Aku sempat ketiduran di truk, itu artinya perjalanan tidak cukup singkat. Mungkin mencapai satu jam. Barangkali yang terhebat dalam perjalanan ini adalah ketika iring-iringan mobil ini melenggang di antara rentetan kendaraan lain. Khusus kendaraan nomor 15 yang kutumpangi ini menyalakan sirine. Dengan penampilan sekeren ini, lampu merah tidak berarti apapun. Maka, aku pikir: Kopassus adalah sepasukan tentara negera yang kebal hukum di jalanan. Itu namanya hak khusus. Do you agree?

Sampai di sekitar gerbang Makopassus, kami diturunkan dengan teriakan-teriakan agar moving menjadi lancar. Kami berlari tanpa membawa barang-barang. Kupikir, the game is now begin. Maka kemudian, apapun yang akan terjadi, berbahagialah karena dilatih oleh pasukan khusus.


Kami masih berada di jalur kendaraan umum. Satu sisi jalan diblokade khusus untuk kami berjalan menuju tempat beraktivitas nantinya. Kebetulan aku berada di tiga baris terdepan. Jadi aku tahu bahwa di depan kami tampil sebagai pengawal barisan adalah sebarisan marching band Kopassus. Katanya, kami akan berjalan lama menuju markas.
Sumber foto: stan.ac.id


Sampai di pelataran Gedung Nanggala, kami berbaris acak. Kemudian di atur tiap kompi dan peleton. Kami masih susah diatur. Kemudian masuk ke Gedung Nanggala, mungkin, karena hujan turun. Belum ada tanda-tanda kami akan sholat ashar. Waktu itu sudah sekitar setengah lima.

[Sepertinya] Upacara Penyambutan. Pembacaan tata tertib. Dan lain-lain. Pukul lima seperempat. Mulai gundah. Tapi kami semua diam. Tidak ada yang berani interupsi. Kegiatan dilanjutkan.

Hampir setengah enam. [Mungkin] Mereka baru menyadari bahwa sebagian besar dari kami adalah muslim. Mereka menawarkan [lebih tepatnya meminta] agar kami menjamak sholat ashar kepada maghrib. Apa mereka bilang? Kami menolak serentak. Maka kami di-moving ke barak.

Tinggal berapa menit lagi menuju matahari terbenam? Aku tak tahu. Tapi semua orang paham: waktunya sangat sempit. Beruntungnya aku yang berada di Kompi A Peleton 1 (satu kompi t.d. 3 peleton). Seingatku, peletonku berjalan terdepan menuju barak. Tapi Kompi A mendapat jatah di barak lantai 4! Ikuti saja. Begitu masuk barak, aku langsung memilih satu velbed (tempat tidur) di pinggir koridor agar mudah moving-nya. Persiapan kalau ada "apa-apa".

Segera ke kamar mandi. Mengambil wudhu. Pada kondisi seperti ini, menyelamatkan diri sendiri adalah hal utama dan pertama. Masih ada waktu beberapa saat (mungkin beberapa hembusan nafas) setelah salam, belum terdengar adzan magrib. Alhamdulillah, sedikit lega (banyak nggresula-nya).Beberapa teman mengatakan meng-qodho sholat 'asharnya. Beberapa lagi menganggap dosa karena meninggalkan sholat 'asharnya ditanggung mereka (Kopassus dan lembaga [STAN]).

Aku berusaha tidak menyalahkan Kopassus. Banyak dari mereka yang nonmuslim. Sebenarnya salah kita (atau mungkin saya) sendiri takut menyatakan eksistensi kita sebagai muslim yang taat. Kita terlalu takut kalau-kalau sebuah interupsi bisa membuat nyawa kita melayang. Padahal, seberat-berat hukuman mungkin hanyalah push up sepuluh kali. Allahumma ighfirlana.


Kejutan pertama adalah makan malam. Kami harus menghabiskan makan malam hanya dalam waktu 5 menit menurut perhitungan mereka. Aku yakin sebenarnya lebih singkat dari 5 menit. Jelas sekali, aku perlu perpanjangan waktu.

CB Day #1 [Rabu, 12 September 2012]

Upacara Pembukaan. Mungkin CB yang sebenarnya akan dimulai setelah kami mengenakan pita tanda kompi (merah, biru, atau kuning). Aku membayangkan bentakan, push up, dan lari keliling kompleks. [ternyata tak satupun itu terjadi]

Setelah CB Gelombang I resmi dibuka, prajurit Kopassus yang membina kami disebut Pelatih (kalau tidak salah sebutan pembina ditujukan untuk mereka yang berada di pucuk pimpinan commitee CB ini). Sedangkan para peserta CB, kami, disebut siswa atau siswi.

#Pita Putih

Banyak sekali siswa yang mengenakan tambahan pita, selain pita penunjuk kompi (merah, biru, dan kuning), di lengan kirinya. Pita putih, artinya: diharap Pelatih (Kopassus) berlemah lembut kepada siswa/i tersebut.

Sebagian besar dari mereka adalah siswa yang membawa lemak -beserta penyakitnya- di gentong perutnya. Kasihan sekali; badan boleh besar, tapi kemampuan tidak ada [demikian komentar para pelatih]. Tipikal birokrat. Dalam kondisi demikian, aku hampir-hampir selalu ingat lirik lagu Sheila on 7 yang berjudul Generasi Patah Hati: "Perut buncitmu adalah kurusnya bayi mereka". Sindiran halus ini begitu mengena bagi para birokrat. Terlepas apakah perut buncit itu karena terlalu lama duduk di kantor dengan jam olahraga yang minim (atau sama sekali tidak pernah) atau memang kemakmuran yang terlalu ditumpuk-tumpuk di perut (padahal rakyat banyak sekali yang kelaparan).

Aku yang kurus kering ini memang tak berarti bebas dari penyakit. Tapi, kata Pelatih, jika di umur 21 saja sudah sakit-sakitan, gimana umur 35 nanti? Kata beliau juga, di umur ini kita masih bisa mencari potensi fisik yang kita miliki. Barangkali bisa menjad atlit. Atau, setidaknya sebagai olahraga favorit. Aku tertarik dengan obrolan bebas ketika pelatih I Made Amat berkeliling di antara siswa-siswi yang dukuk menunggu kegiatan berikutnya.

Beliau rutin nggowes tiap Sabtu. Sudah candu. Kalau absen karena ada acara lain, sampai kepikiran. Beliau pernah bersepeda dari Jakarta ke Palembang selama seminggu (aku yang tanya waktu tempuhnya itu).

Pertanyaan keduaku: apa pengaruh bersepeda bagi kesehatan organ vital (terutama pria; tentu karena aku lelaki yang sering bersepeda). Pertanyaanku ditanggapi serius dan beliau membenarkan pentingnya mengetahui cara mengatur sadel agar baik. Aku merasa menjadi orang penting dengan pertanyaan tadi. Sayangnya beliau tidak menjelaskan detil posisi sadel yang baik seperti apa. Mungkin dikira beliau itu tidak penting. Padahal aku sangat ingin tahu. Nanti deh aku cari di internet.
:
Semua orang ingin mengatur, tapi tak ada yang mau jadi pemimpin. Ketika ada instruksi dari pelatih untuk meniadakan suara mulut (bicara) saat makan, banyak sekali yang justru bersuara, "Sssssstttttttssssss". You see. Semua ingin mengatur (orang lain), tapi diri sendiri mereka melanggar, bukan? Mereka berharap orang lain diam, tapi diri sendiri bersuara. Seorang pemimpin seharusnya diam (karena ada instruksi diam dari Pelatih) dan dengan begitu orang lain akan mencontohnya. Dan cukup mengangkap tangan kanan dengan mengepal sebagai instruksi tutup mulut!

:::

CB Day #2 [Kamis 13 September 2012]

Dua hari hampir berlalu dan belum terjadihal-hal yang 'mengerikan'. Kegiatan yang cukup melelahkan hanyalah kegiatan fisik, tentu saja. Kegiatan yang sulit adalah menghabiskan jatah makan dalam waktu yang kata mereka 5 menit. Aku yakin sebenarnya kurang dari itu. Sedangkan kegiatan yang terberat adalah MCK dengan kamar mandi dan WC yang begitu. Aku selalu malas melihat banyak orang menggunakan fasilitas umum dengan standar masing-masing. Aku nggak sreg aja.
:
Aku pikir hidup dalam keadaan darurat seperti ini tidak baik juga.
:
Sampai hari kedua ini, malam hari, hampir-hampir kegiatan kami hanyalah baris-berbaris, bernyanyi, dan makan.
:

Bener-bener overload ini perut. Baru saja makan malam. Lalu kami disuruh ngariung di ruang makan tadi untuk mencatat beberapa lagu baru yang harus kami nyanyikan saat moving. Beberapa menit kemudian snack malam keluar dan kami berpasang-pasangan saling menyuapi.

CB Day #3 [Jumat 14 September 2012]

Aku melihat kelebihan berat badan di bagian perut adalah sebuah derita.
:
Be calm, boy. Dunia takkan berubah jika kau mengkritiknya, menghujatnya, ataupun menangisinya. Tapi duniamu akan lebih baik jika kau tersenyum menghadapinya.
:
Ketika disuruh memperkenalkan diri pada sesi istirahat latihan PBB (Peraturan Baris-berbaris], aku mengatakan hobiku adalah: menulis, bersepeda, dan memandang langit malam. Kemudian terdengar seperti "wwwoooooyyyyysss". Mungkin bagi mereka, "memandang langit malam" adalah galau dan melo.
:
Menyedihkan bagi seseorang yang tak mengenal dirinya sendiri.

:::

CB Day #4 [Sabtu 15 September 2012]

Bangun pagi, kami mengingat-ingat: Minggu-Senin-Pulang.

Kalian bisa berhasil kau berlatih lebih keras.

Percaya deh, Kopassus lebih ramah daripada Panitia Dinamika 2009 dan MOS.


Kata Zig Ziglar: kehormatan dapat dibentuk oleh ketakutan dan keseganan.

CB Day #5 [Minggu 16 September 2012]

Berarti hari ini yel-yelnya: Senin-Pulang.
:
Tadi pagi menyempatkan telpon ortu.
:
Kuliah tentang Transfer Pricing, tidak cukup mudeng. Coba deh nanti cari di internet.
:
Kadang keramaian memang membahagiakan, tapi hatimu bisa jadi sepi. Maka, carilah dirimu pada damainya malam di bawah gemerlapan bintang.
:
Note FB

Demi mengabarkan sedikit kesanku terhadap CB ini untuk teman-teman gelombang berikutnya, aku menulis note FB. Berikut note itu:

Note ini saya tulis pertama sebagai pertanggungjawaban saya atas status tempo hari yang sepertinya menimbulkan salah paham (status tsb sdh sy hapus).

Tidak perlu menuliskan lagi status itu, tapi semoga note ini cukup menjelaskan keadaan tempo hari yg membuat sy jadi lebay (mungkin jg alay) lantaran curhat di FB. Saya juga berharap ada kebaikan dr note curhatan ini.

Jadi, hari Sabtu kemarin kami ada kegiatan melanjutkan evaluasi Peraturan Baris-berbaris (PBB) dan Peraturan Militer Dasar (Permidas) menjelang ashar. Mungkin karena waktu yang sangat terbatas, sholat ashar yang sedianya dilakukan di barak, diralat menjadi di gedung olahraga. Bayangkan, kami harus sholat bersajadahkan matras yang biasa digunakan untuk berlatih segala macam seni bela diri itu. Tentu saja matras tersebut tidak terjamin bebas dari najis. Ditambah lagi kami harus wudhu di toilet yang kotor. Kita tahu bahwa toilet adalah tempat kita mengeluarkan najis-najis. Karena waktu itu kami semua bersepatu, maka kami terpaksa tanpa alas kaki ketika mengambil wudhu dan berjalan menuju matras tempat kami akan sholat. Sepanjang perjalanan itu, tidak ada jaminan bahwa kita terlepas dari najis. Medan yang kotor itu lebih mendekati bernajis, pastinya demikian.

Bukan sok suci, tapi ini adalah rangkuman celoteh teman-teman yang juga merasa tak nyaman jika harus sholat dengan kondisi demikian.

Ini bukan pertama kalinya kedongkolan menjalari kami. Pada kali pertama menginjakkan kaki di maskas ini, hampir kami kehilangan sholat ashar. Apa pasal?

Adzan ashar berkumandang ketika kami berada dalam perjalanan dari Bintaro ke markas ini. Turun dari truk, adalah pawai penyambutan. Dilanjutkan dengan pengarahan di gedung olahraga. Sampai setengah 6 sore kami masih di gedung tersebut yang mana tak ada tempat yang layah buat sholat, pun tak disiapkan.

Awalnya kami disuruh menjamak saja sholat ashar kami. Apa mereka bilang?Tentu kami menolak. Akhirnya kami dibawa ke barak. Meski dikomando oleh tentara, memindahkan 574 mahasiswa membutuhkan waktu yang tidak sedikit.

Maka beberapa teman mengaku kehilangan waktu asharnya. Beruntungnya saya berada di Kompi A Peleton 1 yang berbaris terdepan. Alhasil, rombongan pertama ini menyelesaikan sholat ashar supercepat. Ini kejadian hari Selasa (11/9). Nah, pada Sabtu (15/9) itu kami disuruh sholat ashar di tempat yang tidak layak.

Itu sedikit tentang mengapa saya mengurangi respek sy pada pasukan istimewa ini.

Namun, akhirnya saya menyadari bahwa kami sendiri juga salah karena tak mampu menolak perintah itu. Padahal kita bisa berkoordinasi dulu dengan para pelatih untuk bernegosiasi tempat sholat: minta sholat di masjid meski agak jauh.

Saya juga memaklumi bhwa beberapa pelatih adalah nonmuslim, juga kebijakannya sering berbeda dengan adanya pergantian piket.

Makanya, kalau bisa ya usul sama pelatihnya.

So far, makanan di sini lebih enak daripada makanan saya sehari-hari. Hanya saja kami tidak dapat menikmatinya karena kita harus makan dengan batasan waktu yang sangat sempit.

Kalau sy bilang sih, panitia Dinamika 2009 masih lebih 'keras' daripada pasukan istimewa ini, karena mereka telah menggunakan standar ukuran dengan tepat.

Hampir-hampir aku dapat mengatakam bahwa CB ini adalah berbaris, nyanyi, dan makan.

Sy sendiri overestimate tentang kegiatan fisiknya. Sy kira keg fisik CB ini below standar.

Dan, lusa siang kami pulang.

[Sampai di sini selesai note-ku]

CB Day #6 [Senin, 17 September 2012]

Besok siang kami pulang.

Kuliah Tata Upacara Militer [TUM]
Oleh I Komang Sigit Puspita (pangkat Letnan, sedengarku).
Lahir 29 tahun yang lalu di Banyuwangi.

Daripada ngantuk, nulis ah. Apa aja. Yang penting mengalihkan rasa kantuk ini.

Ceramah AntiKorupsi KPK
Oleh Muzakir Harun dan Yudi Harahap.

Aku punya kata-kata untuk teman-temanku di luar sana.

"Kalian yang turun ke jalan, beraksilah dalam damai. Tidak usah anarki, apalagi sampai merasa sendirian memerangi korupsi. Meski tidak turun ke jalan-jalan, kami di sini harus berdiri tegar untuk menghadapi gempuran dari dua arah. Dari dalam, kami harus menolak korupsi dan membenahi iklim birokrasi menuju Good Goverment. Dari luar, kami harus bersabar karena prasangka yang buruk terhadap kami."
:::

Malam ini ada kuesioner dibagikan. Untuk mengisi kolom "Dua kata yang menjadi kesan CB", aku menuliskan "BOROS ANGGARAN" (dalam kapital).

CB Day #7 [Selasa, 18 September 2012]

Bangun tidur, rasanya seperti rakyat jelata yang mendengar pengumuman bahwa negaranya akan memproklamasikan kemerdekaannya hari itu. Di sini kami memang tidak 'disiksa', tapi dibina dan ditempa. Namun kerinduan kami kepada kehidupan normal telah begitu menggebu. Maka, wajar saja bila ini serasa pernyataan merdeka yang akan diresmikan pukul 09.00.

Upacara Penutupan. Kami lega. Secara resmi kami bukan lagi peserta CB dan karenanya mereka tidak mempunyai hak memperlakukan kami sebagai anak binaan (siswa/siswi).

Acara bebas di Gedung Nanggala.

Aku akan menyoroti beberapa penampilan improvisasi teman-teman yang kebetulan dari kompi lain. Serta merta dua orang maju sebagai MC acara bebas ini. Dalam beberapa kalimatnya, mereka berdua sering menirukan gaya bicara para pelatih yang dalam hal ini mereka pertunjukkan sebagai parodi. Aku pikir hal ini telah kelewatan. Adalah tidak pada tempatnya seseorang menirukan gaya bicara orang lain dengan tujuan mengolok-olok.

Aku tak tahu bagaimana sejatinya perasaan para pelatih pada saat itu. Kalau dilihat sekilas sih mereka biasa saja, atau memaklumi. Jangan salah, Kopassus adalah kumpulan orang-orang yang pandai mengelola emosi. Mereka tidak sembarangan menunjukkan ekspresi wajah. Aku hanya yakin bahwa hal itu telah menyimpang dari adat kesopanan seorang akademisi.

Para pelatih Kompi A berpesan agar Kompi A tidak menampilkan yang selebay itu. Kalau ada yang seperti itu (laki-laki tapi berkumpul dan menari, -pen), pindah saja ke kompi lain (yang dimaksud sebenarnya adalah Kompi C).

Ini penampilan Kompi B:

Aku taksir ada dua puluhan orang (mungkin 24) maju ke depan, berbaris, lalu salah satu memainkan lagu Heavy Rotation-nya JKT48 dari ponsel. Kalau aku berpendapat sih, mereka berhak mempunyai idola di dunia hiburan (itu urusan mereka). Akan tetapi, ketika mereka menampilkan itu di hadapan acara resmi kampus dengan memakai seragam dan KTM, bagiku itu suatu penodaan nama baik. Bagaimana orang akan menilai (dalam hal ini hanya Kopassus yang menilai, tetapi hal ini akan diketahui khalayak ramai ketika aku menuliskannya di blog; apa salahku menceritakan fakta?) melihat sebuah institusi pemerintahan ternyata begitu lebay dan alay-nya? Aku merasa mereka (stakeholders a.k.a. rakyat Indonesia) akan kecewa dengan para cendekiawan muda bangsa calon birokrat ini.

Bagaimana penampilan Kompi A? Kami, termasuk aku, berharap ada penampilan stand up comedy dari Komandan Peleton 1. Sempat kami dibuat tertawa terpingkal-pingkal pada acara bebas suatu malam sehabis makan. Aku pun berpikir bahwa ini akan jadi humor yang lebih intelek daripada tarian-tarian konyol barusan.

Tapi sang Danton tidak berkenan. Penonton sebanyak 574 siswa/i bukanlah audien efektif untuk pertunjukkan stand up comedy. Akhirnya dari pihak pelatih menyindir-nyindir bahwa ada seorang danton yang menyukai pasukannya sendiri selama di CB ini. Singkat cerita, Sang Danton maju dan berimprovisasi untuk hal yang ingin diungkapkannya pada seorang siswi di bawah komandonya. Aku lebih melihat dari sisi hiburannya saja, bahwa sang Danton memang punya selera humor yang cerdas dan bagus. Aku pun tak bisa menceritakan ulang di sini. Kalau ada seseorang yang kebetulan merekam momen itu, lebih baik diunggah saja di portal online agar banyak orang terhibur karenanya.

Sebelum pulang menuju kampus, kami masih punya jatah makan siang. Bayangkan, pukul 6 kami sarapan, pukul setengah sepuluh ada makan snack. Menjelang pukul 11 ada makan siang yang dimajukan waktunya. You get me? Benar-benar boros [tapi aku bersyukur karenanya; haha, kapan lagi?].

Tapi makan siang ini istimewa, karena pelatih dan siswa/i makan bersama di lantai gedung Nanggala dengan hikmat dan nikmat. Momen ini pun menjadi hal yang -mungkin- paling ngangeni dari CB Gelombang Pertama ini.

Overall, It's good to have this moment in life.

Salam,

@elmabruri

4 comments:

  1. this is epic...epic...visit:

    http://witchinkitchen.wordpress.com/2012/09/07/when-you-travel-alone-in-iceland/

    mengembara di Iceland, siap tahu kau minat juga, hahaha.

    Sorry dul, komenku gak nyambung sama postmu gini. Soalnya sy mau berbagi link tapi bingung hub kamu lwt apa, gak ada no HP, gak ada email, FBpun dblock sama server sini. hehe

    ReplyDelete
  2. pengalaman CB emang asyik ya dul :)

    ReplyDelete
  3. Kang Habib: 3 gelombang.

    Desti: makasih Des udah ngusahain kasih info ini. But, I'll read it later. Simpan dulu.(lagi di warnet soalnya..haha)

    Ulin: ya..bolehlah..

    ReplyDelete