Monday, September 3, 2012

Prepegan @Tanah Abang

Aku memang lebih suka menghindari inflasi daripada meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Atau, bagaimanapun kau berpendapat, inilah aku yang suka menekan pengeluaran daripada menambah pendapatan. Karena, kata Adam Smith, pertumbuhan ekonomi mengakibatkan surga yang hilang. Bukankah lebih baik jauh dari neraka daripada dekat ke surga? Lagipula, pertumbuhan ekonomi tidak selalu berarti pemerataan kesejahteraan.

Berbagai tempaan hidup telah membentukku untuk memiliki prinsip 'berbelanja berdasarkan kebutuhan', bukan 'berdasarkan keinginan'. Kebutuhan pun harus dikembalikan kepada substansi. Aku membutuhkan pakaian, maka aku akan membeli penutup aurat. Tidak memilih rupa, apalagi merk. Kriterianya hanya satu: wajar.

Untuk bisa disebut 'wajar' sendiri ada beberapa standar: sederhana dan pantas. Sederhana dapat berarti murah, simpel, dan tidak berlebihan. Pantas dapat berarti mencerminkan pemakainya. Tapi bukan ini yang akan kupersoalkan.

Sabtu (4/8) ini aku pergi ke Pasar Tanah Abang bersama beberapa teman tingkat II ('Geng' Lebah). Mereka berencana membeli baju buat lebaran. Aku katakan 'mereka' karena aku tak termasuk. Sebenarnya aku tidak ada urgensi untuk membeli apapun di TA (Tanah Abang). Hanya saja, atas nama kebersamaan dan persaudaraan, aku menemani mereka. Aku pun menyelipkan harapan, mungkin aku bisa membeli baju kemeja putih lengan panjang untuk Yudisium (kelulusan) nantinya. Maksudku, aku tak perlu pergi ke TA hanya untuk membeli kemeja putih lengan panjang. Karena, di toko swalayan dekat kampus pun ada dengan harga yang sesuai kualitasnya. Hanya saja aku lebih mempunyai banyak pilihan di Pasar TA.

Ada sedikit sesal karena ternyata gerbong kereta penuh sesak oleh para calon pembeli. Aku baru tahu, ternyata efek idulfitri itu segila ini di ibu kota. Orang-orang berbondong-bondong berbelanja. Padahal, kami naik Commuter Line, bukan KRL kelas Ekonomi. Dan, hampir semua memiliki tujuan yang sama: Stasiun Tanah Abang.

Menuju Pasar TA pun jalan penuh sesak. Bahkan untuk berjalan saja susah, macet. Dan, senggal-senggol tak terhindarkan.

Di pasar TA, pada hiruk pikuknya keramaian, aku menyadari satu hal: aku sedang mengikuti tradisi yang kubenci. Tidak semua keramaian tak kusukai. Tapi ini adalah keramaian yang tidak baik. Di siang bolong, warung makan dibuka terang-terangan. Es dijajakan. Seakan-akan semua ilmu yang selama ini kutuntut tidak berarti apapun; aku bergerak saja mengikuti kehendak lingkungan.

Bahkan, ekonomi syariah tidak akan menyelamatkan fenomena berbelanja masa kini, ketika manusia berbelanja berdasarkan keinginan. Ekonomi syariah menyelamatkan suatu transaksi menjadi halal, tetapi tidak cukup mampu mengamankan transaksi jual beli berdasarkan keinginan. Karena itu tidak diatur oleh syariah.

Ohya, 'prepegan' adalah kata yang sering dipakai oleh masyarakat di kampungku -Kebumen- untuk menyebut aktivitas berbelanja menjelang hari lebaran. Kira-kira demikian.

Menutup kalimat ini, aku menghimbau kepada kawan-kawan yang membaca tulisan ini untuk membiasakan diri tidak melakukan pengeluaran di luar kewajaran meski menjelang lebaran. Sadar atau tidak, ekonomi bergejolak. Inflasi.

Additional note:
Tulisan di atas kubuat beberapa hari setelah pergi ke Tanah Abang, seingatku sebelum mudik. Beberapa hari kemudian aku membaca kolom Opini pada harian Kompas tanggal 13 Agustus 2012 yang cukup mengena dan sesuai dengan tulisan ini (aku mengklipingnya). Opini itu ditulis oleh Bapak Ali Mustofa Yaqub, imam besar Masjid Istiqlal, dengan judul "Bergesernya Perilaku Ramadhan". Intinya, beliau menyoroti perilaku konsumtif dan konsumeris muslimin di Indonesia ketika Ramadhan tiba. Ini sangat berbeda dengan apa yang dituntunkan Nabi Muhammad s.a.w. selama bulan Ramadhan. Abdullah bin Abbas menuturkan, "Apabila datang bulan Ramadhan, Nabi sangat dermawan ibarat angin yang kencang."

Pada bulan ini, umat Islam tak makan dan minum seharian, tetapi ajaibnya konsumsi makanan meningkat signifikan (Indonesia Consumers, 2004; Zainal A Hidayat, Kompas, 3/10/2006), seperti yang beliau kutipkan dalam opininya itu.

Salam,
@elmabruri

2 comments:

  1. Membaca tulisan ini aku jadi teringat 2 Cagub Jakarta (sedang sangat bersaing) tentang pendapat kedua pihak itu dalam mengatasi kemacetan di Jakarta. Menurutku mirip. Yang satu lebih suka jauh dari neraka. Satunya lagi lebih suka dekat dengan surga. :-D

    ReplyDelete
  2. haiii there :)
    lama gak nongol di blog-ku..

    kalau kau prepegan di TA, saya prepegan saat masa KKN, menemani simbah2 (83 tahun) yang tetap maksa pengen pergi ke pasar menjelang lebaran. woooooow banget lah budaya menjelang hari fitri yang satu ini.

    ReplyDelete