Monday, September 3, 2012

Review Film: Negeri 5 Menara

Film "Negeri 5 Menara" bukan hanya bercerita tentang pendidikan ala pesantren, perjuangan tak kenal lelah, dan kepatuhan terhadap orang tua, tetapi juga tentang persahabatan. Maka, saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman satu kelompok belajar saya di dalam "Geng" Lebah, yaitu Yeni, Farid, Lutfi, dan Randy, yang bersepakat untuk menonton bersama film ini di Cinema 21 Bintaro Plaza. Pastinya, menonton bersama para sahabat akan jauh lebih berkesan daripada menonton seorang diri. Ya, film N5M ini seharusnya ditonton secara kolektif: bisa keluarga, teman satu kelas, kelompok belajar, "geng", dan lain-lain. Bagi pasangan muda-mudi, alangkah baiknya jika mengikuti saran saya: kali ini ajaklah keluarga besar calon mertua untuk menonton bersama, jangan berdua saja karena ini bukan film romantis :D.
 
Sebenarnya Cinema 21 Bintaro Plaza memperoleh kehormatan untuk menayangkan film ini sebelum dirilis secara resmi pada tanggal 1 Maret 2012. Sayangnya, pada tanggal 12 Februari itu, satu-satunya tanggal ketika Cinema 21 BP menayangkan film ini sebelum rilis, bertepatan dengan saat kami Ujian Akhir Semester 5. Kami tidak berani berkompromi soal ini. Meski tentu sangat ingin bagi kami untuk menonton film ini bersama A. Fuadi dan para pemain. Oh ya, saya mempunyai sebuah hipotesis mengapa Cinema 21 BP mendapat keberuntungan memutar film N5M sebelum rilis. Mungkin karena Bang A. Fuadi bertempat tinggal di bilangan Bintaro. Setidaknya, mendahulukan tetangga itu adalah hal yang baik.

Ketika film ini tayang perdana secara serentak, yakni tanggal 1 Maret 2012, kami sedang libur kuliah dan pulang ke kampung masing-masing. Sekembalinya ke Bintaro, kami segera menyepakati sebuah tanggal. Hari Rabu tanggal 14 Maret menjadi keputusan bersama. Malam itu kami berlima menonton film N5M.

Cerita Film N5M

Sungguh pun produser maupun sutradara menginginkan cerita yang berbeda dengan versi novel, dalam film ini--lagi-lagi sebagaimana film adaptasi dari novel--suasana yang terbangun tidak mampu menampilkan seluruhnya seperti suasana dalam novel. Orang-orang telah sepakat bahwa film pada dasarnya memang membatasi imajinasi penonton. Maka, wajar bila banyak orang yang menganggap suatu film tidak bisa mewakili gambaran yang ada pada novel. Sebenarnya, ini hanya masalah imajinasi yang beda antara pembaca dengan sutradara. Namun, saya kira sang Sutradara, Affandi Abdul Rahman, sudah memberikan visualisasi yang paling mewakili dari semua imajinasi yang ada di kepala pembaca novel.

Film yang termasuk drama ini cukup banyak menampilkan humor ala pesantren. Terbukti dengan beberapa kali terdengar suara tawa dari para penonton. Demikian pula dengan saya. Meski begitu, pesan "man jadda wajada" tetap tersampaikan.
 
Satu adegan yang cukup menggelitik adalah saat Alif berpose bersama keluarga Ustadz Khalid. Sampai adegan itu, rencana Alif hampir berjalan sesuai harapannya. Ia bertaruh dengan Sahibul Menara untuk sebuah foto Sarah. Di sini, dapat diambil pelajaran bahwa kerja keras Alif selama ini untuk mendapatkan foto Sarah dan dirinya dalam satu frame memang tidak membuahkan hasil. Ini adalah kejadian--yang menurut saya termasuk--force majeure. Kehadiran Kyai Rais yang menghalangi kamera adalah kejadian di luar kendali Alif. Maka, "man jadda wajada" saja tidak cukup.
 
Mungkin ending film terkesan memotong cerita, buru-buru, kurang halus, mengecewakan, tiba-tiba, dan terlalu singkat. Tentunya ini terasa seperti memaksakan cerita berakhir dengan biasa. Dibanding versi novel, ending-nya lebih kerasa. Namun Bagi saya, itu karena seharusnya film "Negeri 5 Menara" langsung bersambung saja ke film "Ranah 3 Warna". Menurut buku yang saya baca tentang pembuatan film ini, pengambilan gambar untuk ending memang terkendala oleh waktu yang disediakan oleh pihak keamanan di London, yaitu hanya 1 jam.
 
Semoga ini bukan kebetulan. Kami memang berlima. Mungkin, di pikiran kita masing-masing, kami mematok satu menara untuk menjadi tujuan kami kelak.
Mereka berenam adalah shohibul menara. Kami berlima, saya ingin menamai "Geng" Lebah ini sebagai Shohibul Perpustakaan, karena kami dipertemukan di perpustakaan.

Untunglah saya sudah lama membaca novel N5M. Jadi, ketika nonton filmnya, saya sudah lupa detil ceritanya. Namun sejujurnya, salah satu momen yang saya tunggu-tunggu adalah kemunculan Sarah. Bagaimanapun, saya ingin mencocokkan imajinasi Sarah dalam otak saya dengan apa yang ada di film. Dan, ternyata, kemunculan tokoh Sarah tidaklah signifikan dalam film (sebagaimana dalam novel, sebenarnya). Saya agak kecewa. Namun akhirnya saya mendapat pencerahan, bahwa film ini bukanlah film percintaan. Maka, sudah seharusnya dibuang jauh-jauh pikiran seperti itu.

Salam,
@elmabruri

No comments:

Post a Comment