Tuesday, October 30, 2012

Nonmonetary Transaction

Transaksi nonmoneter. Transaksi yang tidak melibatkan uang. Maka, tidak menyebabkan inflasi.

Meski, tentu saja, setiap penyerahan yang bernilai tertentu, dikenakan pajak.

Saya sejalan dengan pemikiran ekonom klasik Adam Smith dan tidak suka pemikiran modern-monetarist John Maynard Keynes.

Fenomena Nikah Muda

Well... Blogpost ini mungkin akan sedikit menarik, tapi tidak segalau yang Kawan-kawan kira. Nikah muda telah menjadi fenomena di kampus ini. Eits, bukan berarti mahasiswanya sudah pada berkeluarga. Untuk menjadi mahasiswa D3 dan D1 di kampus ini, Kawan-kawan harus berstatus sebagai lajang/belum menikah dan bersedia untuk tidak menikah selama masa pendidikan.

Nah, setelah selesai masa pendidikan, ditandai dengan yudisium, ditambah dengan ikatan dinas yang menjamin adanya pekerjaan tetap, maka pilihan menikah adalah kebijakan yang wajar-wajar saja bagi para alumni kampus ini. Nah, sekarang pun saya sudah menjadi alumni, hanya saja statusnya masih menggantung belum ada kejelasan berikutnya.

Wisuda: Post-Closing Trial Balance

Saya mengucapkan selamat berbahagia kepada STAN 2009 (D3) dan STAN 2011 (D1), yang pertama buat yang tidak ikut wisuda, karena sama dengan saya. Buat yang ikut wisuda, tidak usah berkecil hati karena menjadi orang kebanyakan sebagaimana mahasiswa baru lulus.

Mari berdoa, semoga ilmu kita bermanfaat dan perjuangan kita sebagai punggawa keuangan negara tidak diawali sebagai pengangguran.

Pada beberapa hal, saya sudah bisa mencapai tingkat pemahaman suatu peristiwa, tapi belum tentu dapat mengaplikasikannya pada kehidupan real (bukan hanya di otak saja). Sebagai gampangnya, saya berikan contoh dalam bentuk analogi berikut ini.

Yudisium: Closing Entries

Tentu, arti dari closing entries adalah jurnal penutup. Tapi yang saya maksudkan di sini tidak seperti acara milik spesialisasi Akuntansi di setiap penghujung masa pendidikan -semacam prom night [?]. Meski, mungkin saja dasar pemikiran penggunaan istilah ini bermiripan maksud dan tujuannya.

Closing Entries (tulisan ini) adalah jurnal penutup saya sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) angkatan 2009 (saya rasa perlu saya tulis nama kampus saya itu; bagaimanapun, itu almamater saya).

Thursday, October 25, 2012

Filosofi Nasi Penggel

Sejak semalam langit terang tak berawan, bahkan langit berkorban jutaan bintangnya demi sebiji bulan yang separuh bulat, tanggal 7 bulan Haji. Maka, langit yang tak berawan semalam menjadi tersangka utama turunnya suhu dari normalnya pagi hari yang baru masuk musim penghujan ini (karena tak ada awan yang menimbulkan efek rumah kaca).

Dan pagi masih melanjutkan cerahnya dengan sigapnya Sang Surya menyinari dunia. Ini waktu yang hebat untuk bersepeda pagi. Bersama para anak sekolahan, menyusuri jalur yang sama ketika beberapa tahun yang lalu saya bersekolah di SMP dan SMA. Semacam nostalgia.

Melintasi jalan depan almamater, SMPN 3 Kebumen, lalu SMAN 1 Kebumen pada jalan lainnya, sampailah saya di alun-alun Kebumen setelah 30 menit perjalanan santai. Kebetulan SMAN 1 berada di pojok timur laut alun-alun. Dari pojok itu saya mengililingi alun-alun untuk mencari satu target: penjual nasi penggel. Setelah sekali putaran, ternyata hanya ada satu pedagang yang pagi itu menyediakan nasi penggel, maka saya kembali ke sisi barat alun-alun, berseberangan jalan dengan Masjid Agung Kebumen.

Sumber foto: http://wisata.kompasiana.com/kuliner/2012/02/08/nasi-penggel-kuliner-khas-kebumen-yang-hampir-punah/

Thursday, October 18, 2012

Harapan untuk PLN: Terus Terang, Terang Terus

Jika mengingat bahwa malam hari akan terasa demikian purba tanpa adanya listrik, siapa lagi yang akan kita sebut kiprahnya selain Perusahaan Listrik Negara (PLN). Namun, jika meninjau bahwa PLN memang bertugas demikian, mengelola sumber daya bidang kelistrikan di negara ini, maka sudah sepantasnya PLN bertugas demikian. That's only standard. Memang itulah yang harus dilakukan PLN.

 


Wednesday, October 3, 2012

Belajar Tanpa Akhir: Sebuah Epilog Oleh A. Musthofa Bisri

Tempo hari saya membaca sebuah tulisan bagus oleh A. Musthofa Bisri (Gus Mus) yang menjadi epilog sebuah buku. Sejujurnya saya tidak membaca buku itu meski memiliki versi elektroniknya. Secara garis besar saya tahu buku itu berbicara apa. Namun, saya bersyukur membaca random buku itu dan epilognyalah yang saya pilih. (Mungkin karena sedang malas membaca).

Supaya pembaca mudah memahami epilog ini, saya katakan bahwa buku itu adalah tentang reaksi terhadap ide pembentukan negara agama. Menurut Gus Mus, buku tersebut mengingatkan bangsa Indonesia tentang adanya bahaya tersembunyi dalam gagasan dan usaha-usaha untuk mengubah Indonesia dari negara bangsa menjadi negara agama, Negara Islam.