Wednesday, October 3, 2012

Belajar Tanpa Akhir: Sebuah Epilog Oleh A. Musthofa Bisri

Tempo hari saya membaca sebuah tulisan bagus oleh A. Musthofa Bisri (Gus Mus) yang menjadi epilog sebuah buku. Sejujurnya saya tidak membaca buku itu meski memiliki versi elektroniknya. Secara garis besar saya tahu buku itu berbicara apa. Namun, saya bersyukur membaca random buku itu dan epilognyalah yang saya pilih. (Mungkin karena sedang malas membaca).

Supaya pembaca mudah memahami epilog ini, saya katakan bahwa buku itu adalah tentang reaksi terhadap ide pembentukan negara agama. Menurut Gus Mus, buku tersebut mengingatkan bangsa Indonesia tentang adanya bahaya tersembunyi dalam gagasan dan usaha-usaha untuk mengubah Indonesia dari negara bangsa menjadi negara agama, Negara Islam.

"Sedangkan bagi Muslim, perubahan ini akan berarti penyempitan, pembatasan dan hilangnya kesempatan untuk menafsirkan pesan-pesan agama sesuai dengan konteks sosial dan budaya bangsa Indonesia, dan setiap pembacaan yang berbeda dari tafsir resmi negara akan menjadi subversif dan harus dilarang."

Dapat saya katakan dengan ekstrem begini: Di Indonesia saja paham-paham agama sudah mulai banyak dan terus berkembang. Paham mana yang akan dipakai resmi oleh negara? Tentu yang paling benar, sementara masing-masing merasa paling benar. Bisa jadi konflik sesama saudara semakin nyata dan tak terhindarkan jika Indonesia menjadi negara Islam.

"Bagi Islam sendiri, formalisasi akan mengubahnya dari agama menjadi ideologi yang batas-batasnya akan ditentukan berdasarkan kepentingan politik. Islam yang semula bersifat terbuka dan luas, hidup layaknya organisme yang komunikatif dan interaktif dengan situasi dan kondisi para penganutnya, dan akan dibungkus dalam kemasan ideologis dan berubah menjadi monumen yang diagung-agungkan tanpa peduli pada tujuan sejati dan luhur agama itu sendiri. Akhirnya, agama menjadi ghayah, tujuan akhir, bukan lagi jalan sebagaimana semula ia diwahyukan. Keridlaan Allah yang merupakan ghayah pun semakin jauh."

Saya memahami paragraf tersebut sebagai kekhawatiran beliau akan terbatasnya pemahaman agama bangsa Indonesia terhadap Islam sebagaimana yang hanya diatur oleh negara. Sementara Islam itu luas dan tidak terbatas pada kenegaraan semata.

"Andai masing-masing terus belajar, saling mendengarkan dengan yang lain, tentu pemahaman mereka akan lebih baik dan lengkap. Karena sebenarnya, kebenaran kita berkemungkinan salah, dan kesalahan orang lain berkemungkinan benar. Siapapun yang telah tertutup mata hatinya -antara lain karena merasa diri paling pintar dan paling benar- tidak akan mampu melihat pemahaman lain yang berbeda, yang tersisa adalah arogansi (takabbur) dan penolakan terhadap yang lain. Ketika arogansi dimulai, ketika mendengarkan orang lain diakhiri, ketika belajar dihentikan, maka kebodohan dimulai, suatu keadaan yang sangat berbahaya bagi yang bersangkutan dan seluruh umat manusia."

Oleh paragraf ini saya tersindir. Sebenarnya saya sedang berusaha untuk tidak fanatik kepada kelompok manapun. Namun, kenyataannya saya selalu memilah-milah setiap informasi yang datang. Sumber informasi menjadi begitu penting dibanding informasi itu sendiri. Mungkin awalnya sikap ini didasarkan pada kewaspadaan. Akan tetapi akhirnya menjadi suatu ketakutan tersendiri untuk mengeksplorasi pengetahuan dari sumber yang bersilangan.

Lalu bagaimana saya bisa belajar dengan baik jika ketakutan menerima sesuatu yang tidak tepat lebih besar pengaruhnya dibandingkan dengan rasa ingin tahu?

"Kebodohan adalah bahaya tersembunyi yang ada dalam setiap orang, mengatasinya adalah dengan terus belajar dan terus mendengarkan orang lain."

Jika memang seseorang masih belajar dan mendengarkan pengetahuan dari orang-orang di kelompoknya, sangat tidak pas jika orang tersebut mengadili orang pada kelompok lain dengan pemahaman yang dimilikinya. Seseorang yang buta bisa saja mengatakan gajah adalah binatang yang besar dan kokoh seperti tiang karena dia merangkul kakinya. Seseorang buta yang lain boleh saja mengatakan gajah adalah binatang yang tipis tetapi lebar lantaran dia meraba kupingnya. Maka, tidak mungkin masing-masing orang itu menghakimi lainnya dengan pengetahuan yang masih sempit.

Merasa paling benar dan menyeluruh pengetahuannya? Tunggu dulu.

"Sekali lagi, ketidaktahuan bisa diatasi dengan melihat, mendengar, dan memperhatikan. Dengan terus belajar. Yang sungguh sulit dan menjadi masalah adalah jika orang tidak lagi memerlukan belajar dan mencari kebenaran karena merasa sudah sempurna pengetahuannya dan menganggap diri paling benar. Siapapun mungkin akan sepakat bahwa kebodohan adalah sesuatu yang sangat berbahaya, namun tidak setiap orang sadar akan bahaya laten kebodohan dalam dirinya sendiri."

Saya menambahkan. Fanatisme, cinta buta, dan taqlid buta lebih berbahaya daripada aksi teror maupun kriminalisme. Maka, teruslah belajar. Belajar tanpa akhir.

"WaLlahu A'lam."

NB: Apa yang ada di dalam tanda petik adalah cuplikan dari tulisan beliau.

Salam,
@elmabruri

No comments:

Post a Comment