Tuesday, October 30, 2012

Fenomena Nikah Muda

Well... Blogpost ini mungkin akan sedikit menarik, tapi tidak segalau yang Kawan-kawan kira. Nikah muda telah menjadi fenomena di kampus ini. Eits, bukan berarti mahasiswanya sudah pada berkeluarga. Untuk menjadi mahasiswa D3 dan D1 di kampus ini, Kawan-kawan harus berstatus sebagai lajang/belum menikah dan bersedia untuk tidak menikah selama masa pendidikan.

Nah, setelah selesai masa pendidikan, ditandai dengan yudisium, ditambah dengan ikatan dinas yang menjamin adanya pekerjaan tetap, maka pilihan menikah adalah kebijakan yang wajar-wajar saja bagi para alumni kampus ini. Nah, sekarang pun saya sudah menjadi alumni, hanya saja statusnya masih menggantung belum ada kejelasan berikutnya.

Banyak saya mendengar teman-teman, juga orang lain yang entah darimana saya tahu, mereka takut dengan yang namanya nikah muda. Namun, anehnya kebanyakan dari mereka sudah memulai pencarian pasangan sejak usia sangat belia: SMA. Setuju?

Lalu apa yang mereka cari? OK. Mungkin ada yang menjawab: sekedar mencari teman dekat yang saling menginspirasi, memotivasi, dan mungkin juga menjaga diri. Terserah mereka lah ya...

Memang, pada usia 21+, jarang ada laki-laki yang berani melompat langsung menuju fase pernikahan (membangun rumah tangga) sementara mereka telah menemukan gadis/perempuan yang mereka harapkan akan menjadi istrinya beberapa tahun mendatang.

You see? Aneh bukan? Kalau misalnya, seorang laki-laki berencana menikah pada usia 25 tetapi sekarang sudah menetapkan calon (mereka sebut sebagai 'pacar'). Saya hampir-hampir yakin bahwa laki-laki ini berharap 'pacar'nya saat ini akan menjadi istri dan ibu bagi anak-anaknya 4 tahun lagi. 4 TAHUN lagi -perlu saya tegaskan.

Bukankah kalau kebersamaan mereka telah dihalalkan secara agama, mereka akan lebih lega secara moral, emosional, dan spiritual? Dan, tentu saja .... (Kawan boleh berimprovisasi untuk mengisi titik-titik itu). Eh, maksud saya dengan (...) itu adalah keuntungan yang telah mereka dapat di waktu sekarang (dengan adanya pernikahan) daripada jika menunggu 4 tahun lagi.

Ngomong gampang, kamu sendiri berani ga?

Haha. Iya. Lha wong saya kan belum menentukan wanita mana yang saya (atau ibu saya) pilih. Bahkan inisialnya belum Dia kasih tahu. Kalau sudah?

Saya pikir, akan ada banyak sekali kebaikan jika 2 orang mukmin (yang berbeda jenis) menjadi cermin satu sama lain dan keduanya telah terikat oleh pernikahan.Kemudian, yang dibutuhkan adalah komitmen.

Kenapa yang dibahas laki-laki? Karena aku lelaki, dan perempuan kan default-nya ikut saja.

FYI: UU Nomor 1 Tahun 1974 menyebutkan bahwa batas minimal laki-laki menikah adalah usia 19 tahun dan perempuan usia 16 tahun dengan syarat ada izin tertulis dari orang tua/wali bagi calon mempelai yang belum berusia 21 tahun.

PS: Sejujurnya saya pernah tidak suka dengan fenomena nikah muda terutama karena kebanyakan terjadi pada kaum intelektual muda (saya berpikir bahwa intelektual muda dan lajang mempunyai konsentrasi dan kontribusi yang tinggi bagi kemajuan bangsa). Sekarang saya welcome saja meski saya sendiri bukan salah satu pelakunya.

Salam,

@elmabruri

No comments:

Post a Comment