Thursday, October 25, 2012

Filosofi Nasi Penggel

Sejak semalam langit terang tak berawan, bahkan langit berkorban jutaan bintangnya demi sebiji bulan yang separuh bulat, tanggal 7 bulan Haji. Maka, langit yang tak berawan semalam menjadi tersangka utama turunnya suhu dari normalnya pagi hari yang baru masuk musim penghujan ini (karena tak ada awan yang menimbulkan efek rumah kaca).

Dan pagi masih melanjutkan cerahnya dengan sigapnya Sang Surya menyinari dunia. Ini waktu yang hebat untuk bersepeda pagi. Bersama para anak sekolahan, menyusuri jalur yang sama ketika beberapa tahun yang lalu saya bersekolah di SMP dan SMA. Semacam nostalgia.

Melintasi jalan depan almamater, SMPN 3 Kebumen, lalu SMAN 1 Kebumen pada jalan lainnya, sampailah saya di alun-alun Kebumen setelah 30 menit perjalanan santai. Kebetulan SMAN 1 berada di pojok timur laut alun-alun. Dari pojok itu saya mengililingi alun-alun untuk mencari satu target: penjual nasi penggel. Setelah sekali putaran, ternyata hanya ada satu pedagang yang pagi itu menyediakan nasi penggel, maka saya kembali ke sisi barat alun-alun, berseberangan jalan dengan Masjid Agung Kebumen.

Sumber foto: http://wisata.kompasiana.com/kuliner/2012/02/08/nasi-penggel-kuliner-khas-kebumen-yang-hampir-punah/


Nasi penggel [baca: pѐnggѐl] adalah salah satu makanan khas Kebumen, sebuah kabupaten di pesisir selatan Jawa Tengah. Nah, berhubung saya ini asli Kebumen, cah Bumen, merasa wajib memperkenalkan kuliner yang satu ini kepada Kawan-kawan sekalian. Tapi, sebelumnya, saya harus mencoba terlebih daluhu. Tidak mungkin saya akan mengajak orang lain untuk mencicipi nasi penggel sedangkan saya sendiri sudah lupa bagaimana rasanya (sudah lama sekali tidak makan nasi penggel, hehe). Maka, pagi itu memang saya mengagendakan untuk membeli nasi penggel.

Tak terbiasa makan di keramaian, pusat jajan, ataupun tempat umum lainnya, maka tak ada pilihan lain kecuali memesan nasi penggel dalam bungkusan saja. Lagipula, saya ingin makan pagi bersama Ibu (saya kira Bapak sudah berangkat kerja ketika saya sampai di rumah nanti). Saya memesan dua porsi.

Nasi penggel biasanya disajikan di atas piring beralaskan daun pisang yang dikukus terlebih dahulu. Daun pisang yang dikukus menjadi lebih lemas, tidak mudah sobek ketika dibungkus, dan beraroma khas. Bila Kawan mencium wanginya, Kawan akan terbuai dalam ketenteraman, kedamaian, dan kepasrahan.

Apa yang saya butuhkan sebagai makanan sempurna: nikmat, bergizi, namun sederhana (murah) -dan insyaAllah halal, dapat secara lengkap diperoleh dari sajian satu porsi nasi penggel. Nasi yang dibuat bulatan sebesar bola pingpong, antara 8-10 buah tiap sajiannya, disiram dengan sayur gori (nangka muda) dengan campuran daun ibu dan tahu, dan dilengkapi dengan gulai kikil sapi, adalah sarapan yang cukup istimewa bagi bujangan yang baru lepas dari status mahasiswa seperti saya :-).

Saya pikir, harga Rp7.000 cukup representatif dengan apa yang saya dapatkan: lezat, bergizi, murah, mengenyangkan, dan yang terpenting, alami dan halal -insyaAllah. Namun, saya tidak menyarankan untuk menyantap nasi penggel tiap pagi, karena selain tentu saja bisa membuat kebosanan, mengkonsumsinya membutuhkan anggaran yang sedikit lebih besar daripada masakan Ibu di rumah.

Selain di alun-alun Kebumen, penjual nasi penggel dapat ditemukan di kawasan Tembana, arah barat laut alun-alun sekitar 2 kilometer, setelah Jembatan Tembana. Atau, Kawan bisa langsung menuju pedangan nasi penggel pertama kali, yaitu di Desa Peniron, Kecatan Pejagoan, sekitar 7 kilometer ke utara dari Jembatan Tembana.


Seperti yang saya bilang di awal, nasi penggel memang nasi yang sederhana. Tidak mewah, tidak kurang. Cukup adanya. Bahkan, lauk daging hanyalah bagian dari kulit sapi. Ini menandakan bahwa tidak perlu bermewah-mewah sebagai menu makan.

Nasi penggel mengutamakan kesahajaan. Penampilannya yang didukung oleh daun pisang yang dikukus menjadi pakaian yang pantas baginya. Ini mengingatkan saya pada masa kecil ketika membeli bubur. "Makan pakai daun pun jadi." Begitulah pesannya.

Nasi yang pulen ini dibuat bulatan-bulatan seolah-olah mengajarkan pada kita untuk membagi makanan dengan adil, tidak terburu-buru, dan telah memperkirakan segala sesuatunya sebelum memulai melakukan pekerjaan (sebelum memakannya). Dan dengannya kita makan dengan teratur, agar organ pencernaan tidak kaget juga.

Kalau mau ditaksir gizi yang terdapat di dalamnya sih, tidak ada sesuatu yang istimewa. Nasi, sayur, dan lauk adalah standar bahan makanan sehat orang Jawa, bahkan Indonesia. Nasi tentu saja mengandung karbohidrat. Sayur gori dengan tambahan daun ubi adalah sayur hijau berprotein tinggi. Lauk kikil sapi adalah lauk kenyak yang unik yang selain mengandung protein hewani, katanya sih, baik dikonsumsi bagi pria dewasa (tahu kan maksud saya :-)).

Dan, sebagai catatan pentingnya adalah nasi penggel, terutama kikil sapinya, sangat tidak direkomendasikan bagi penderita kolesterl tinggi. Jadi, nasi penggel hanya diperuntukkan bagi Kawan-kawan yang sehat dan tidak ada pantangan makanan dari dokter. Dan, sekali lagi, nasi penggel adalah nasi yang bersahaja.


Meski tak ada dokumentasi pribadi, saya berharap bahasa tulis ini mampu membuat Kawan bertandang ke Kebumen dan mencicipi nasi penggel ini.

Salam,
@elmabruri

No comments:

Post a Comment