Thursday, October 18, 2012

Harapan untuk PLN: Terus Terang, Terang Terus

Jika mengingat bahwa malam hari akan terasa demikian purba tanpa adanya listrik, siapa lagi yang akan kita sebut kiprahnya selain Perusahaan Listrik Negara (PLN). Namun, jika meninjau bahwa PLN memang bertugas demikian, mengelola sumber daya bidang kelistrikan di negara ini, maka sudah sepantasnya PLN bertugas demikian. That's only standard. Memang itulah yang harus dilakukan PLN.

 


PLN sebagai salah satu perseroan di bawah Kementerian BUMN yang mewakili negara dalam mengelola sumber daya yang menguasai hajat hidup orang banyak, harus berlaku seadil-adilnya bagi seluruh penduduk Indonesia. Masyarakat Indonesia, seluruhnya, adalah stakeholders (pemilik kepentingan) dari listrik, tidak hanya mereka yang telah mempunyai rekening listrik sendiri, apalagi hanya pelanggan listrik dengan daya besar.

Diskriminasi Pelayanan

Tidak bermaksud membandingkan kinerja PLN dengan pengelola listrik negeri tetangga, tapi inilah fakta yang dengannya kita dapat belajar. Menurut Pengurus Harian YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia), data aduan masalah listrik di Indonesia masih 15 persen, sedangkan di Malaysia hanya 3 persen. Sementara itu, di Hongkong sudah tidak ada pengaduan masalah kelistrikan.

Pengaduan, kadang tidak enak mendengarnya. Tapi sebenarnya pengaduan adalah hal yang lebih baik didengarkan ketika si Pengadu mengutarakannya kepada pihak yang dimaksud (PLN), daripada aduan itu dilontarkan di dunia maya jejaring sosial.

Seseorang melalui status FB-nya, kemarin malam saya baca, mengatakan demikian:

Pemadaman listrik hanya di Kalimantan. Kalimantan pusat suplay energi listrik seluruh Indonesia bahkan sampai luar negeri. Ibarat pepatah, tikus mati di lumbung padi. Kita yang mempunyai bahan bakar listrik, malah tanah kita tercinta gelap gulita setiap hari. Sedangkan di tanah Jawa, yang tanahnya tidak menghasilkan bahan bakar sama sekali, mereka terang benderang, kota-kota penuh dengan lampu gemerlap. Semua kota tidak pernah mengalami pemadaman seperti Kalimantan.

Saya berpikir, bahwa memang selalu ada diskriminasi alamiah antara pulau-pulau di Indonesia. Jadi, seakan-akan wilayah Indonesia itu seperti yang tertuang dalam Perjanjian Linggarjati, yakni wilayah Indonesia hanya terdiri dari Pulau Jawa, Madura, dan Sumatera. Saya katakan alamiah, karena sejak dulu memang demikian yang terjadi.

Termasuk masalah keberadaan listrik yang langka di Kalimantan dan Indonesia Timur adalah kebiasaan pemerintah (secara umum) dalam memberikan perhatian. Maka, saya berharap, PLN menjadi motor penggerak dan perintis pemberi perhatian kepada Kalimantan, Sulawesi, dan Indonesia timur dalam hal kelistrikan. Mengingat listrik kini telah menjadi kebutuhan yang harus ada pada era modern, insyaAllah kebudayaan modern yang intelek akan mengikuti kemana listrik mengalir.

Terus Terang

Saya membayangkan betapa hebatnya PLN. Kebutuhan listrik negara yang sangat besar dari Sabang sampai Merauke, khususnya ketika malam hari, hanya dikelola oleh sebuah institusi bernama PT PLN (persero). Sungguh hebat bukan buatan. Tentunya, PLN ini bukan lembaga kecil yang mudah diurus. Maka, dengan demikian, adalah wajar terjadi penyimpangan di sana-sini. Namun, saya berharap, PLN berterus terang kepada diri sendiri tentang apapun, termasuk jika terjadi penyimpangan di dalam tubuh keluarga besar PLN.

Berterus teranglah. Dimulai dari diri PLN sendiri dalam melaksanakan tanggung jawab sebagai satu-satunya pemegang wewenang pengelolaan listrik negara. Pendeknya saya berharap, jangan ada korupsi, jangan ada kolusi, jangan ada nepotisme, dan jangan ada konspirasi.

Di sini saya berharap dan mendukung PLN yang telah menyatakan komitmennya terhadap implementasi tata kelola perusahaan yang baik (good corporat governance), seperti misalnya diumumkan di media masa menjelang hari raya keagamaan (dalam hal ini idulfitri) yang menyatakan bahwa PLN memperingatkan kepada seluruh stakeholders/rekanan/mitra kerja untuk tidak mengirimkan parcel/bingkisan/hadiah dalam bentuk apapun kepada pejabat/karyawan PT PLN (Persero) baik ke tempat kerja atau ke rumah yang bersangkutan dalam rangka Hari Raya Keagamaan maupun hari-hari lainnya (Kompas, 13 Agustus 2012).

Potensi Energi Terbarukan

Indonesia yang berada di khatulistiwa ini mempunyai segala potensi energi terbarukan yang dibutuhkan di masa kini dan masa depan. Saya berharap PLN melihat potensi ini dengan secermat mungkin. Misalnya, Indonesia merupakan negara maritim yang potensinya bukan hanya bersifat fisik saja, tetapi ombak laut merupakan energi besar yang dapat menghasilkan tenaga listrik. Begitu juga dengan banyaknya sungai yang ada di seluruh pulau di Indonesia. Ini merupakan karunia Tuhan bagi bumi Indonesia yang harus kita syukuri dengan pemanfaatan yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan bangsa.

Tentus saja, sebagai orang awam, saya hanya bisa berharap dari tulisan ini. Langkah selanjutnya haruslah PLN yang mempunyai sumber daya manusia yang ahli di bidangnya. Kami sebagai masyarakat hanya bisa mendukung dengan penuh harap demi keberhasilan bersama.

Terang Terus

Akhirnya saya berharap PLN juga sukses menyadarkan masyarakat akan pentingnya hemat energi, khususnya listrik. Mari bersama-sama masyarakat kita ciptakan budaya hemat. Hemat bukan tentang meminimalkan uang yang kita bayarkan, tetapi tentang energi yang kita simpan untuk kesempatan mendatang.

Semoga, PLN tetap jaya dalam menerangi bangsa dan negara Indonesia bukan hanya menjadikan kegelapan malam menjadi bercahaya, tetapi juga membawa Negara Kesatuan Republik Indonesia menuju masa depan yang terang benderang. Aamiin.

Salam hangat,

@elmabruri

No comments:

Post a Comment