Tuesday, October 30, 2012

Wisuda: Post-Closing Trial Balance

Saya mengucapkan selamat berbahagia kepada STAN 2009 (D3) dan STAN 2011 (D1), yang pertama buat yang tidak ikut wisuda, karena sama dengan saya. Buat yang ikut wisuda, tidak usah berkecil hati karena menjadi orang kebanyakan sebagaimana mahasiswa baru lulus.

Mari berdoa, semoga ilmu kita bermanfaat dan perjuangan kita sebagai punggawa keuangan negara tidak diawali sebagai pengangguran.

Pada beberapa hal, saya sudah bisa mencapai tingkat pemahaman suatu peristiwa, tapi belum tentu dapat mengaplikasikannya pada kehidupan real (bukan hanya di otak saja). Sebagai gampangnya, saya berikan contoh dalam bentuk analogi berikut ini.
Saya mempunyai makanan favorit mie ayam Bang Tamrin (tetangga sekaligus saudara; selain mie ayam ini, saya tak begitu berselera dan cenderung menghindari #promosi). Maka, demi menuruti keinginan ini, pergilah saya menemui Bang Tamrin untuk memesan satu mangkok mie ayam yang lezat menggoda dan tentu saja dengan harga yang lebih tinggi daripada sekedar makan nasi, sayur, dan lauk ala mahasiswa. Saya makan dengan lahapnya. Dan, setelah 10 atau 13 menit, habislah mie, ayam, dan kuah dalam mangkok itu. Then, apa yang saya rasakan? Nothing remains. Semua makanan: yang enak, mahal, unik, dll., tidak ada rasanya setelah melewati kerongkongan. Tetapi berkurangnya uang masih kerasa efeknya. You get me?

Demikianlah, semuanya tidak terasa setelah itu terjadi. Hanyalah fantasi. Apa artinya fantasi? Khayalan. Sebuah kefanaan. Jelas saja, lha wong tubuh ini saja akan hilang kok, apalagi yang ada di dalam tempurung kepala (angan-angan)? Nah, ini dia yang telah saya pahami namun tetap saja saya bodoh karena mengikuti hawa nafsu.

Saya memang pernah ikut wisuda, sebagai panitia dan sebagai pengantar (bukan pendamping). Belum pernah diwisuda. Jadi, sebenarnya saya tidak tahu sehebat apa momen yang bersejarah, terkenang, valuable, tak terlupakan, sebagaimana status teman-teman melalui jejaring sosial. Tapi, saya kira, gitu-gitu aja sih. Bersejarah, terkenang, valuable, dan tak terlupakan mempunyai deskripsi yang hampir sama bagi banyak orang. Maka, sedikit banyak saya pun mengerti.

Mungkin karena saya berpikiran kolot atau karena saya kurang pergaulan, saya tidak tahu menahu soal saling kunjung sesama teman lintas kampus ketika wisuda (kalau soal perkenalan calon mantu kepada orang tua, saya tahu itu). Saya jadi merasa begitu terasing. But, I stay persistent in the line, my decision. Saya teringat kata-kata Gie, bahwa lebih baik terasing daripada menyerah pada kemunafikan. Zaman sekarang keakraban memang cenderung 'mahal', terlepas dari kenyataan bahwa saya kesulitan bergaul dan kurang supel -bagaimana saya akan mengikuti pergaulan bila saya harus 'membayar' mahal?

Saya mencatat ada beberapa teman yang tidak ikut wisuda, antara lain alasannya sebagai berikut.
1. Dengan sejumlah uang yang sama, dia berharap bisa menggunakan rezeki dengan lebih bermanfaat. Bahkan mahasiswa yang satu ini mengajak teman lain untuk melakukan wisuda di Panti Asuhan, mengajak berbahagia bersama anak-anak dalam rasa syukur yang sederhana namun bermakna. Saya tidak tahu apakah rencana ini terealisasi. But, salute for him.
2. Kelulusan ini tidak pantas dirayakan. Dia bercerita bahwa STAN bukan tempat yang cocok baginya untuk belajar. Bahkan ia bersedia kembali berkuliah mulai dari nol (S1 dari awal, bukan ekstensi) asalkan bisa sesuai keinginannya: Hubungan Internasional.
3. Seorang teman mengaku khawatir orang tuanya tidak akan suka dengan prosesi yang berlangsung selama wisuda, juga suasana yang terbangun diprediksikan akan bertentangan dengan prinsip orang tuanya. Ini -mungkin- sangat sensitif, tapi saya cukup memahami.
4. [Kalau tidak salah] Ada keperluan keluarga. Bahkan dia sudah mendaftar wisuda. Namun ia batalkan demi sesuatu yang lebih penting baginya.

Eh, kok rasa-rasanya hal yang tidak penting ini ditulis ya? Ya sudah, kuakhiri saja. Mohon maaf ya...

Salam,
@elmabruri


PS: Post-Closing Trial Balance adalah aktivitas terakhir yang dilakukan dalam satu siklus akuntansi sebagai kelanjutan dan akibat dari jurnal penutup (closing entries). Itulah mengapa tulisan ini berjudul demikian. Namun, sebenarnya masih ada langkah opsional setelah membuat post-closing trial balance, yakni reversing entries. Kita lihat saja nanti kebutuhannya sebagai jurnal pembalik di Taman Ispirasi ini.

No comments:

Post a Comment