Tuesday, October 30, 2012

Yudisium: Closing Entries

Tentu, arti dari closing entries adalah jurnal penutup. Tapi yang saya maksudkan di sini tidak seperti acara milik spesialisasi Akuntansi di setiap penghujung masa pendidikan -semacam prom night [?]. Meski, mungkin saja dasar pemikiran penggunaan istilah ini bermiripan maksud dan tujuannya.

Closing Entries (tulisan ini) adalah jurnal penutup saya sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) angkatan 2009 (saya rasa perlu saya tulis nama kampus saya itu; bagaimanapun, itu almamater saya).

Ditandai dengan Yudisium hari pertama untuk Program Diploma III Keuangan Spesialisasi Akuntansi dan Spesialisasi Kepabeanan dan Cukai pada hari Rabu 3 Oktober 2012, saya secara resmi tidak lagi menjadi mahasiswa STAN (secara tidak resmi status mahasiswa telah berakhir sejak 3 hari yang lalu, yakni habisnya masa berlaku KTM 30 September 2012).

Tidak ada yang perlu dirayakan dengan kelulusan kali ini. Tapi, saya begitu menyesal ketika suatu pagi menelepon Biyung (Jawa: ibu).

"Lagi ngapaian, Ma?" (tentunya setelah saya terjemahkan bebas ke dalam Bahasa Indonesia).
"Lagi masak. Bikin among-among."

That's it. Saya memang tidak memberitahukan kepada Ibu-Bapak berapa IPK saya. Hanya saja, saya dengan jujur mengakui bahwa saya lulus dengan nilai yang tidak baik, tidak juga jelek. Not too bad. "Sedang-sedang saja berarti," mungkin hanya itu yang Biyung pahami. Pun mengabarkan nilai secara kuantitas tidak akan berarti banyak bagi mereka. Namun, dengan kelulusan saya ini, Biyung membuat among-among untuk dibagikan kepada para tetangga sebagai bentuk sederhana dari rasa syukur atas pencapaian si anak.

FYI: Among-among adalah nama khusus untuk makanan yang diberikan kepada para tetangga pada momen tertentu yang istimewa. Waktu saya kecil, among-among berbentuk tumpeng meski tidak selalu nasi kuning untuk dimakan bersama anak-anak sebaya. Kini budaya itu hampir-hampir sudah punah dan telah kembali pada substansi: memberikan makanan (sudah dalam bentuk siap saji) kepada para tetangga sebagai bentuk syukur atas momen-momen tertentu.

Betapa durjana saya sebagai anak, karena tidak benar-benar serius kuliah khususnya setelah tahun pertama.

OK. Tulisan ini mungkin lebih tepat jika dinamakan "Pengakuan Dosa-dosa".

Maka, tak apa saya beberkan di sini IP dan IPK saya. Semester 1: IP 3,69 (tertinggi di kelas, bersama seorang teman); semester 2: IPK 3,52; semester 3: IP 3,17; semester 4: IPK 3,14; semester 5: IP 2,90; dan semester 6: IPK 2,88 (belum termasuk nilai PKL dan laporannya dengan bobot 4 SKS). Dengan demikian, sepanjang saya berkuliah di STAN dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2012, saya mendapatkan IPK 3,23 yang disebut pada peringkat 5XX dari 877 mahasiswa Akuntansi (saya tidak mendengar dengan jelas) waktu Yudisium kemarin. FYI: di STAN, IP diakumulasikan tiap semester genap (untuk keperluan seleksi sistem DO), khusus untuk Yudisium (untuk keperluan ijazah dan kelulusan) baru diakumulasikan seluruh SKS.

Dapat dilihat bahwa angka-angka itu selalu menurun, yang jika diplotkan pada diagram kartesius dan ditarik garis, akan dihasilkan gradien negatif. Sebenarnya, saya sudah menduga akan mendapat IPK 3,2X. Sayangnya, harapan saya tidak kesampaian untuk menjadi mahasiswa ideal (yang IPK-nya 3,25).

Itu memang angka. Tapi bukan berarti tak mampu bercerita banyak hal, meski tidak segalanya.

Dan lagi, dosa saya sebagai anak yang berkuliah di STAN saya tutup dengan ketidakikutsertaan saya dalam wisuda tahun ini [di kampus ini, wisuda tidak wajib]. Saya tidak mengijinkan orang tua ikut berbangga bersama orang tua lain demi melihat putera terbaik mereka diwisuda sebagai sarjana muda (Pembantu Ajun Akuntan dengan gelar A.Md.).

Untungnya, bulan depan Mbak Arum akan diwisuda [lagi] (di kampusnya, wisuda diwajibkan). Jadilah, semoga, ini bisa menjadi momen pengganti wisuda saya. Malah baik adanya, karena tidak perlu dua kali bolak-balik ke Jakarta dalam waktu dekat dan tentunya tidak memakan biaya dobel.

Kembali ke pengakuan dosa-dosa.

Selama hidup di rantau orang, anak nakal yang satu ini tidak serius bekerja sambilan. Pernah bekerja serabutan: ngajar les dari SD sampai SMA, membagikan kuisioner, membagikan brosur bimbel, membuat soal dan pembahasan untuk buku panduan USM, joint venture mendirikan bimbel (baru 1% mungkin), "calo" kos-kosan. Dan, tak satu pun dilakukan dengan serius. Hanya coba-coba. Trial and error. Haha. Error.

Alih-alih bekerja sambilan selayaknya mahasiswa lain, anak nakal yang satu ini malah coba-coba menulis dan berharap ada keuntungan finansial yang didapatnya untuk mencukupi kebutuhan. Dan tentu saja tidak tercapai. Ada sih karya tulisnya yang nyantol di buku antologi, tabloid kampus, dan majalah remaja lokal Jawa Tengah. Tapi itu tak seberapa dibanding koar-nya yang tak bermakna.

Ada juga aktivitas yang tampaknya sebagai anak baik, ngaji kitab kuning, tahsin, dan juga jadi pengurus gadungan pada beberapa organisasi/kepanitiaan. Pernah juga mewakili kampus untuk ikut pertandingan olahraga antar-PTK se-Indonesia. Ngajar TPQ beberapa pekan.

Selebihnya adalah nekat bersepeda malam ke Pantai Utara Jawa di Teluk Naga, pulang tersesat di Bandara Soekarno-Hatta tengah malam, lalu menginap di masjid karena kemalaman. Bersepeda STAN-UI bersama teman SMA. Minum-minum teh hangat manis bareng 2 bujang tanggung tiap beberapa minggu sekali. Jalan-jalan. Feel like nobody.
And.... Ya sudahlah -saya merasa tidak harus merampungkan tulisan ini panjang-panjang. Adalah tidak baik mengungkapkan aib sendiri, karena bahkan Allah telah menutupi aib-aib hamba-Nya (maka kita tak perlu membukanya). Dan karena itulah, ada orang yang menganggap saya baik.

Saya akhiri saja tulisan ini dengan harapan semoga saya termasuk golongan orang-orang yang beruntung, yakni orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin. Aamiin.

Terima kasih.

Salam,

@elmabruri

No comments:

Post a Comment