Tuesday, December 24, 2013

Seandainya Mobil Murah Menjadi TransJakarta

Seandainya nanti ada adik kelas yang menulis di kolom pencarian di Google dengan keyword semacam "penempatan STAN DJA", mungkinkah mereka akan menemukan blog saya? Mungkin saja, tapi di urutan berapa? haha.

Seandainya 10 Daihatsu Ayla dibuat untuk membangun satu bus TransJakarta, tentu saya akan bersungguh-sungguh berdoa agar Pak Boed tidak dikejar-kejar KPK terkait bail out Bank Century ketika nanti beliau turun tahta tahun 2014.
sumber: tribunnews.com

Wednesday, December 18, 2013

The Last Quarter 2013 Literatures

I have been here since September 30, 2013. It's mostly twelve weeks, the number of time I spent as 'not jobless'. Actually, It's not really productive with mostly 3 months being 'civil servant want to be'. I see myself substantially do nothing, but formally registered as new staff of Directorate General of Budget.

By the name of wisdom, I can objectively evaluate that, even I have no any production, I mean I (we; the new one) didn't as productive as other ministry of finance's staff, It's better for me because I spent the time by reading books. It's just a few, I think. But, It's better than when I was jobless :-)

Tuesday, December 10, 2013

Ada Bahagia; Ada Samsara

"Jika temanmu gagal, kamu akan merasa sedih. Tapi jika temanmu menjadi yang terbaik, kamu akan lebih sedih." (3 Idiot)
Memilih tanpa bisa menentukan. Demikianlah hidup di lantai birokrasi. Tapi untunglah kita masih diberi kesempatan memilih, sementara ada sebagian orang yang tidak diberi hak memilih, bahkan  ada yang tidak memiliki sesuatu untuk dipilih. Ada beberapa di antara mereka yang mendapat penempatan sesuai pilihannya dan tidak sedikit teman yang ditempatkan di tempat yang bukan diinginkannya. Satu di antara sedikit orang yang beruntung itu adalah saya.

Musafir Muda v2.0

Beberapa hari ini saya mulai merasa fine kalau nanti harus tinggal -membeli/membangun rumah- yang cukup jauh dari tempat kerja di Jakarta Pusat. Biasanya sih ke arah selatan sampai Bojonggede-Bogor. Kalau ke arah barat daya, ya sekitaran Bintaro. Kebanyakan sih begitu. Ditinjau dari bebepara faktor, dari hasil membaca informasi di sana sini, tinggal di hunian horizontal di pinggiran kota masih lebih mending daripada tinggal di hunian vertikal di pusat kota -for me.

Kita tinggal menyiasati moda transportasi buat commuting-nya. Ya pilihan yang enak sebenarnya adalah kereta lokal: commuter line. Dan alhamdulillah Pemda DKI sudah mulai menambah armada kereta dan semoga semakin berbenah ke depannya di segala sektor. Lha iya, saya 'kan hendak tinggal di Jakarta bukan untuk waktu yang singkat, insyaAllah.

Tuesday, December 3, 2013

I'm Going to Go Home for Good, InsyaAllah

Kita tidak bisa memilih di mana pertama kali menghidup udara, menangis, bahkan pipis. Maka, sudah pasti, tempat lahir adalah mutlak takdir Ilahi, tanpa adanya faktor usaha kita. Sedikit berbeda dengan tempat bekerja kita sekarang ini di mana kita diberi kesempatan untuk memilih --walaupun ketentuan tetap hanya milik-Nya. Jadi, mari saya anggap tempat lahir sebagai petunjuk awal di sepetak kecil dari Bumi, Allah mengirim kita menjadi khalifah.

Saya sekarang tinggal dan bekerja di Jakarta. Awalnya pilihan, sekarang menjadi takdir kehidupan. Di masa depan? Cateris paribus --jika keadaan lain tetap-- saya masih akan tinggal dan bekerja di ibu kota setidaknya selama mengabdikan diri di lantai birokrasi Kementerian Keuangan, sampai waktu yang belum saya tentukan. Meski begitu, saya hanyalah perantau di sini dan saya berencana pulang ke kampung halaman, suatu waktu. Karena saya tak terpikirkan untuk menghabiskan usia di Kemenkeu dan/atau bekerja sebagai PNS dan/atau di Jakarta. Dan, keluar dari PNS Kemenkeu nantinya hanyalah salah satu langkah yang harus saya ambil.

Thursday, November 14, 2013

Angin dan Kupu-kupu

/1/
setiap tiupannya hanyalah tarian atas ijin Sang Pengendali angin,
yang mengantar cinta dari benang sari kepada putik secara cuma-cuma
jangan kau bertanya, “Kepada siapa cinta kau teruskan?”
gerak arbiternya adalah titah Sang Makcomblang cinta satu-satunya

/2/
Dia mencipta kupu yang tak berakal dan tak bernafsu
yang bodoh dalam memilih, yang alpa dari berkeinginan
memilih putik adalah kehendak-Nya
mengantar cinta adalah titah-Nya
ia hanyalah jasa titipan cinta, kilat ataupun biasa

Dermaga

di seberang Malaka aku menantimu
mengharap dermaga memanggil kapalmu
menurunkan jangkar
mengantarmu
bersama seikat ilmu dalam tas cangklong

angin muson menyerbu tenggara
meniup mercusuar tanpa kabar
mencampur sari ke dalam putik
dikail arwana di antara hujan subuh
tapi kapalmu tiada berbau-bau

Rindu Palsu


hujan yang kejam selalu menyiksaku
dengan bunyinya yang memburu
seolah mengantar salam darimu

rindu menyuruhku menatap semu
selembar kertas berwarna dirimu
tipuan yang terabadikan
sebuah kebohongan yang nyata
tapi mata menyetuju
rinduku terkarantina, jinak sementara


April, 2011

Saturday, November 9, 2013

On the Job Training Week 5

Kami adalah pemuda gagah dan pemudi anggun dengan pekerjaan bersih, pakaian tersetrika rapi, berkantor di gedung -bagi saya- lumayan megah (terutama tampak luar dan lobby-nya), dengan gaji berada pada kisaran pertengahan untuk umur dan pendidikan yang bersaing di ibu kota. On the job training ini bukan tanpa manfaat, dan tidak pula saya berani mengatakan sia-sia. Setelah melewati seleksi akademis-kognitif yang ketat selama 3 tahun pendidikan, pekerjaan pertama-tama kami adalah tak jauh-jauh dari aktivitas administratif-klerikal, bahkan cenderung tidak berbuat apa-apa (dalam arti mendekati sebenarnya).

Tapi saya mencoba membela dengan mengatakan bahwa pekerjaan ini adalah dukungan bagi tugas dan fungsi utama suatu organisasi pemerintahan. Seperti kata ibu Sesdirjen Anggaran, Ibu Anandy, 1 M kurang 1 rupiah tetap bukan satu milyar. Iya, saat ini kami masih sedemikian itu kontribusinya.

Monday, November 4, 2013

Aku Ingin Tersenyum Saja

Facebook telah menjadi media mainstream sebagai ajang "curhat". Berbicara tentang dirinya sendiri: pikirannya, perasaannya, laporan temporer tentang keberadaannya, dan sikapnya.

Ketika menulis status, itu semacam berbicara sendiri sambil lalu di jalan yang ramai lalu lalang orang dan berharap mereka mendengar perkataan kita. Self-centered dan egosentrik. Atau ketika kita me-mention teman-teman FB kita, itu seolah-olah sedang berjalan-bergerombol dan mengobrol di antara sesamanya namun ingin orang lain memahami apa yang kita diskusikan. Seolah-olah pembicaraan kita adalah topik penting yang menguasai hajat hidup orang banyak.

Semacam ingat suatu iklan provider seluler? Ngomongin bisnis besar bareng teman-teman sambil suaranya digedein biar kedengeran sampai meja sebelah? It's just like that. Dan betapa tertipunya kita oleh keseolah-olahan.

Sunday, November 3, 2013

Family Gathering

It's a good Sunday to do everything. Jakarta has some great activities today: Jakarta Mandiri Marathon at National Monument, Monthly Islamic Lecture with Ustadz Yusuf Mansyur at Istiqlal, and Family Gathering of Finance Ministry. I love to do all of that. But, by the time schedule, I missed the marathon registration. And, I got none invitation to join the family gathering both formally nor informally --because I still on the job training. So, alhamdulillah it's the clue for me to visit Istiqlal totally --and only.

Terasing di Kampung Sendiri

Aku adalah kaum proletar yang Allah izinkan mengenyam pendidikan tinggi.
Pulang dari perantauan mencari ilmu, menetap hampir 10 bulan berturut-turut, saya seperti orang asing di kampung sendiri. Bukan karena secara fisik saya tak berbaur dengan masyarakat kampung, tapi lebih karena paradigma yang berbeda. Justru karena bersosialisasi dengan merekalah saya menghadapi permasalahan ini. Barangkali saya harus memaklumi, masyarakat umum tidaklah berkesempatan berpendidikan sebaik saya. Dan harus saya akui pula bahwa jalur pendidikan yang saya tempuh adalah pendidikan formal yang berbau kapitalis dengan sedikit bumbu religi modern yang cenderung instan.

Saturday, October 26, 2013

Young Traveler: What is the purpose of traveling?

Mumpung masih muda, berkelanalah. Iya, berkelana bagus kalau tujuannya mencari ilmu. Seperti Imam Bukhori yang meninggalkan rumah dan ibu untuk menjelajahi negara-negara demi mengumpulkan hadist, mengikuti langkah demi langkah nabinya. Nah, sekarang, ilmu apa yang akan kudapatkan dari menjelajah selain ilmu dunia?
Menunggu Prameks @Stasiun Tugu
Sumber: dokumen pribadi

Friday, October 25, 2013

Berteman Kesendirian

Di rumah, rasanya dekat sekali dengan masa lalu. Sebab, banyak kenangan terarsip di kamar ini: buku-buku sekolah. Lalu dari situ, saya meliat ternyata sudah jauh diri ini melangkah. Membersamai banyak kawan, menemui beberapa 'lawan', dan kembali sendiri.
 
Senja di rooftop kantor
Sumber: dokumen pribadi

Wednesday, October 23, 2013

Review Buku "The Motor Cycle Diaries": Membonceng Che Guevara Berkelana ke Amerika Latin

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seorang kawan yang belum pernah saya temui ujung hidungnya yang telah mengenalkan --bahkan dengan berlebihannya menghubungkan-- Che Guevara, seorang revolusioner besar, dengan saya yang hanya berani melakukan pemberontakan kecil lewat surat terbuka. Di sinilah dia mengenalkan saya dengan Che [blognya].

sumber: goodreadscom

Reportase Jakarta Night Religious Festival

Dari Masjid Istiqlal kami bertolak ke Monas dengan sepeda motor. Sebagai warga Jakarta yang newbie, kami tak menyangka malam iduladha akan semacet ini, dan banyak jalan ditutup dan dialihkan. Sehingga kami sukses berputar-putar tanpa bisa mencapai Monas yang hanya sepelemparan batu dari Istiqlal. Ternyata euforia hari raya Islam sama saja dengan di kampung saya: banyak orang berbondong ke pusat kota untuk mengekspresikan suatu perayaan.

Setelah menyerah oleh kebingungan urusan arah jalan yang sebenarnya hanya keliru satu-dua blok dari Medan Merdeka, kami kembali ke Istiqlal untuk memarkir kendaraan. Lebih baik jalan kaki saja. Nah, sewaktu jalan saya dikenali dan dipanggil oleh seorang teman --berdua memakai sepeda motor-- yang waktu itu tidak saya ketahui identitasnya. Setelah saya konfirmasi, belakangan saya tahu mereka adalah kenalan sejak di kampus. Jika tebakan saya benar, mereka juga berkunjung ke acara itu lantaran ada Kyai Kanjeng sebagai salah satu pengisi acara. (kemudian dari mereka pula saya tahu bahwa Kyai Kanjeng tidak hadir.)

Menemukanmu

Kamu tahu di mana bisa menemukan diriku tanpa mencari, menunggu, atau menyapaku. Di Taman Inspirasi ini aku mencoba istiqomah menanam dan menemani perkembangannya. Beberapa waktu memang aku sempat vakum dari semua jejaring sosial. Sebabnya: mengasingkan diri, tapi bukan mengosongkan pikiran dari dunia. Sekedar mengamati. Dan ternyata itu tak banyak membantu menjernihkan suasana. Lebih baik aku fokus mempersiapkan bunga-bunga yang mungkin bisa menyejukkan hati di tamanku ini.

Monday, October 21, 2013

Musafir Muda

Bekerja di ibu kota, terutama Jakarta Pusat yang dari jendela kantornya terlihat Monas, dan pergi ke Istiqlal cukup dengan jalan kaki, pastilah jarang ada hunian murah di dekat tempat mengais rizki itu. Mencari kos pun tak bisa yang dapat dijangkau dengan hanya berjalan kaki -- kecuali sangat beruntung dan mungkin berkenan menurunkan standar kenyamanan. Maka, kita harus bersabar menghadapi mahluk menjengkelkan asli ibu kota bernama kemacetan, ketika pulang-pergi ke dan dari kantor.

Apalagi jika memikirkan tempat tinggal menetap di masa depan: rumah. Opsi yang ada, dengan standar harga pegawai muda Kemenkeu, adalah di beberapa tempat ini: Bintaro, Pondok Aren, Depok, Citayam, bahkan Bojong Gede. Semua ini berada di luar radius 15 km dari tempat kerja. Waktu tempuh 15 km di Jabodetabek tidak sama dengan jarak yang sama di Kebumen atau daerah lainnya. Mungkin tidak cukup ditempuh dalam waktu satu jam, apalagi jika menggunakan moda transportasi umum.

Review Buku "Tidur Nyenyak Ala PNS": Keren Juga

Dari lantai 18 Gedung Sutikno Slamet, saya ingin mengabarkan kepada para pembaca bahwa ternyata keren juga para birokrat di lantai ini, yakni ruang kerja Direktorat Penyusunan APBN, salah satu direktorat di Direktorat Jenderal Anggaran. Di antara tekanan pekerjaan penyusunan anggaran negara yang menguasai hajat hidup orang se-Indonesia ini, yang sering juga terombang-ambing karena pembahasan yang alot dengan DPR, masih menyempatkan diri menuangkan stres dalam bentuk tulisan yang bisa mengundang tawa atau sekedar senyum.
sumber: scribd.com

Thursday, October 17, 2013

Something Vacation [?]

Banyak orang yang ingin melihat keajaiban-keajaiban penciptaan Tuhan dengan mendaki gunung tertinggi, mengekplorasi daerah terpencil nun di timur Indonesia yang begitu menggoda, traveling ke penjuru dunia, dan mungkin menyelam ke kedalaman samudera.

Apakah kami lupa bahwa bangun dari tidur adalah sebuah keajaiban? Jika memang alasannya untuk melihat dan merenungi penciptaan Tuhan, tidak perlulah sampai segitunya: menghamburkan banyak sumber daya. Jujur saja seandainya memang ingin jalan-jalan, bersenang-senang, dan berlibur.

Friday, October 11, 2013

Gelembung Udara

Rutinitas dua minggu terakhir ini adalah seperti membuat gelembung udara di ruang terbuka. Udara di dalam dan di luar gelembung (yakni di udara terbuka), tetaplah zat yang mengandung nitrogen, oksigen, uap air, karbon dioksida, dan gas lainnya. Dua minggu ini status kami (saya) tidak lagi pengangguran akut, tapi pegawai magang di Kementerian Keuangan.
sumber: google.com

Tuesday, September 17, 2013

Exit-Poll Penempatan

Sewaktu diberi kesempatan memilih instansi penempatan, dari 11 instansi yang ada di bawah Kementerian Keuangan, saya memilih sebagai berikut.

1. Badan Kebijakan Fiskal (BKF): pilihan idealistis
Sesuai minat: ekonomi makro. Cenderung nonteknis. Di ibu kota; tidak berpindah-pindah. Meski gaji standar dan kuota kecil. Sedikit banyak saya dapat merencanakan masa depan melalui instansi ini: menjadi pengamat ekonomi, peneliti, penulis, atau mungkin finansial planner, mungkin pula bisa mendalami ilmu ekonomi syariah secara formal dan langsung. Selain itu, bagi saya, BKF mempunyai prestis tersendiri. BKF ini terkenal hanya menempatkan alumni STAN dengan kualifikasi super (IPK tinggi). Bonus kerjanya adalah banyaknya kesempatan beasiswa, mudahnya melanjutkan kuliah, dan adanya peluang perjalanan dinas ke luar negeri (denger-denger sih).

The Beauty of August Sky

Sekian bulan di rumah, awalnya saya menanti langit bulan Juli dengan ciri Summer Triangle-nya yang terbit sepanjang malam. Tetapi ternyata langit tak terlalu pekat untuk menyertakan bintang-bintang remang sebagai lampu hias di pentas malam. Malam seringkali berawan tipis meski tak lagi musim penghujan.

Scorpio mendominasi langit selatan. Ekor lengkungnya tampak jelas sekali dimulai dari si bintang paling terangnya, yaitu Antares. Si Kalajengking ini lumayan spesial bagi saya. Yah, karena di bulan Juli-Agustus inilah Scorpio menjadi magnet penglihatan setiap kita menengadah muka, dengan serta-merta terlihatlah mereka. Dengan mudah mereka kita temukan saat pukul 8, 9, atau 10 malam. Oleh karena inilah, saya kira, teman-teman menjadikannya simbol tim Astronomi Jateng 2008 dan dipasang di belakang jaket kami --ah masa lalu.

Monday, September 9, 2013

September 9th

Mencoba posting blog via aplikasi android.

Saturday, August 31, 2013

Kejar Setoran Agustus

Seperti kawan dekat yang lama tak berjumpa, saya pun tak tahu kata sapaan apa yang harus saya berikan ketika kembali bersua dengan Taman Inspirasi. Oke, saya tahu ini lebay, dan mungkin lebih lebay lagi karena saya membiarkan diri ini mengakui ke-lebay-an ini, dan setelah tahu bahwa adalah lebay mengakui ke-lebay-an ini dan tetap menulisnya pastilah semakin lebay, kemudian saya adalah lebay itu sendiri. Dan, yah sudahlah.

Pada intinya adalah telah lama taman ini tidak saya tambah koleksi pot bunganya. Terakhir kali posting adalah 1 Juli yang mana merupakan hampir 2 bulan yang lalu. Jadi, saya membujuk diri untuk keluar dari gubuk perasingan di tempurung kepala sendiri untuk kembali mencangkul sepetak tanah demi menanam setangkai bunga di Taman Inspirasi.

Monday, July 1, 2013

Catatan 8 Bulanan: STAN Buka Pendaftaran Lagi

#CatatanTerlambatPosting

Kemenkeu RI membuka kesempatan bagi putra-putri terbaik bangsa (ceileh...) untuk mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Sila mencari infonya sendiri di laman-laman resmi milik STAN, BPPK, atau Kemenkeu.

Pada tiap kesempatan berbincang dengan calon lulusan SMA, saya tidak pernah mengajak-ajak mereka untuk berkuliah di STAN, bahkan cenderung "memboikotnya". Alih-alih mempromosikan kampus saya sendiri dengan pernak-pernik kemeriahannya, saya membeberkan hal-hal negatif yang mungkin bagi sebagian teman dianggap sebagai aib --yang harus ditutupi. Menariknya, ada seorang adik kelas SMA yang lulus tahun ini meminta kepada saya menceritakan sisi negatif itu untuk disampaikan ke orang tua agar dia tidak "disuruh" kuliah di STAN. Karena dia ingin kuliah di FTTM ITB. Alhamdulillah, kabar terakhir yang saya tahu, dia diterima di sana lewat jalur SNMPTN (yang udangan itu ya?). Jika pun motifnya sama, yakni pekerjaan-setelah-kuliah yang menjanjikan, FTTM ITB adalah lebih baik daripada PNS Kemenkeu. Sampai jumpa di gerbang kemerdekaan, brooo...

Saturday, June 22, 2013

Saran untuk Liputan6.com: Menyebarkan Virus Optimisme Lewat Berita

Informasi di internet bagai ikan di lautan. Saking banyaknya, kita bisa menemukan berita yang sama di tempat berbeda, berualang-ulang dan mirip. Begitulah dunia pemberitaan era digital dewasa kini. Untuk menjadi aktual, tajam, dan terpercaya, setiap media online mungkin bisa dengan mudah memenuhinya, atau setidaknya merasa telah mencapai kualifikasi itu. Bahkan, inilah syarat standar media pemberitaan. Namun, apakah semua berita yang disajikan secara aktual, dikupas dengan tajam, dengan jaminan sumber informasi yang terpercaya cukup untuk menjadi rujukan masyarakat untuk menggali suatu berita?
Halaman muka Liputan6.com

Thursday, June 20, 2013

Tour d' Dieng 2012

Minggu, 9 Desember 2012
@Masjid Kauman
Mengembarakan diri di kota bersuhu dingin, tidur di lantai tegel masjid kauman Wonosobo tanpa matras, ane tak betah dari tidur singkat malam Minggu tadi. Bahkan mimpi pun tidak. Alam ini seperti tak bergerak. Semuanya dalam diam bisunya. Masih jauh dari subuh. Ane ingin berpindah tidur yang lebih nyaman. Ternyata ada seorang lain selain ane yang tidur di masjid itu, setelah mondar-mandir mencari kemungkinan pengelana yang menganggap masjid sebagai rumahnya.

Thursday, June 13, 2013

Aku Ingin Jogja Jadi Ibu Kota Sepeda Indonesia

Pariwisata termasyhur. Perekonomian stabil. Budaya lestari. Ilmu pengetahuan melangit. Religiositas membumi. Keramahtamahannya melekat di jiwa. Pemerintahnya mengayomi; masyarakatnya bersinergi. Begitulah Yogjakarta adanya. Pantas bila keistimewaannya melegenda.

Namun, Jogja yang romantis bukanlah negeri utopis. Kecantikan Jogja tidaklah nirmala. Pertumbuhan ekonomi yang ditandai modernisasi infrastrukur dan kemajuan teknologi membawa serta bayang hitamnya. Masyarakat mulai meresahkan kemacetan di beberapa jalan utama Kota Jogja. Jalan Malioboro padat merayap. Jalan Solo, Jalan Laksda Adisucipto, ramai kendaraan bermotor melaju kencang. Sebagian badan Jalan C. Simanjuntak diserobot untuk parkir sembarangan. Trotoar Jalan Kaliurang Sekip di sekitaran UGM digunakan oleh pedagang kaki lima berjualan mulai sore hingga malam. Dari Jalan Kusumanegara hingga Jalan R.E. Martadinata, sepeda motor dan mobil berderet-deret ketika terjebak lampu merah.

Wednesday, June 5, 2013

Ekspedisi Tenggara: Pantai Lembu Purwo (Rowo)

Pada mulanya adalah Pakdhe (AS) dan Pakcik (AN) yang sering bercerita soal pantai Rowo yang teduh. Nah, pantai kok teduh? Imajinasi saya tak bisa melukiskan seperti apa pantai yang tak panas, pohon-pohon cemara yang hijau, air yang mengalir tenang karena ada sungai bermuara. Hasrat saya menggebu ingin berjumpa dengannya [hoho]. Sayangnya, pakdhe tidak merekomendasikan sendirian bepergian ke sana bagi orang asing (bukan penduduk lokal yang belum pernah ke sana).
Ane - Pakcik - Pakdhe narsis via self timer photography


Friday, May 17, 2013

Forum Jumat Pagi: 5S+2D

Tersebab DPPKAD Kebumen hanya merumputkan 3 pemainnya, perlu tambahan kuota dari sisi pemain impor. Hadirlah mereka yang sedang berstatus sebagai bujang hampir-mapan (sebagai bentuk optimis dari "pengangguran") hadir dalam futsal rutin Jumat pagi. Tersebutlah inisial nama kami (secara alfabetis): AAQ, AM, AN, APN, IA, PP, dan YR.

Saya mencoba menghadirkan obrolan tentang lini masa akun twitter Timses 2012 yang semalam tiba-tiba ramai. Ada apakah? Sayangnya bukan press release. Tapi sepertinya ada desas-desus inisiasi pergerakan untuk memperjuangkan nasib tanpa melaui jalur timses. PP kemudian mengkonfirmasi bahwa ada seorang teman yang berinisiatif beraksi damai sebagai bentuk protes terhadap keadaan ini. Menurut PP, teman tadi ingin membuat semacam petisi yang ditandatangani teman-teman seangkatan yang akan diberikan kepada pemerintah (Kemenkeu atau KemenPAN & RB?) bersama sebuket bunga.

Namanya juga rencana aksi, meski damai, ia adalah bibit suatu pergerakan. Bibit atau biji sebaiknya ditimbun di dalam tanah, disembunyikan, bukannya diangkat ke permukaan. Bisa-bisa hilang tersapu angin, kan? Masih kata PP, rencananya akan bergerak underground sih, menghubungi teman-teman yang setuju secara sembunyi-sembunyi. Tapi kok belum sampai pada saya? Normalnya, berhubung saya ini pernah berada di pihak oposisi, saya adalah orang yang tepat untuk diajak aksi semacam ini.

Eh, tapi kenapa saya malah ikut mengangkat bibit aksi ini ke permukaan dengan menuliskannya di Taman Inspirasi? Sebab saya pikir, taman ini sepi pengunjung kok. Jadi tidak akan terlalu berpengaruh. Pun, ini sudah terlalu lambat. Khawatir saya, tanda tangan belum terkumpul banyak, eh sudah ada pengumuman penempatan [aamiin]. Piye, masih mending ikutan Pergerakan 28 Desember lalu kan?

Tentu saja, menteri keuangan tak luput dari obrolan tadi. Setelah beliau mengesahkan berbagai peraturan yang membatasi ruang gerak kami, eh beliau berpindah tugas menjadi Gubernur BI akhir Mei ini. Beliau tidak mendampingi berjalannya peraturan-peraturan itu sebagai Menkeu. Sementara, sepertinya, berkas penempatan belum sampai di meja beliau. FYI, peraturan-peraturan yang menyesakkan nafas kami itu antara lain: moratorium pegawai, batasan usia 25 tahun untuk tugas belajar S1 sementara ada larangan melanjutkan pendidikan sebelum 2 tahun sejak PNS dan rata-rata umur kami saat ini adalah 22 tahun, dan rencana (desas-desus) larangan menikah bagi pegawai sesama Kementerian Keuangan.

Setelah bosan dengan tema penempatan yang sebenarnya sudah buntu sejak jauh-jauh hari, obrolan melebar ke mana-mana, bahkan bercabang-cabang: tentang mitos jaman kecil, kenangan SMA, sedikit tentang sepak bola nanti malam (final Copa del Rey), dan lain-lain. Karena kami bertujuh, cukup sulit membuat satu pembicaraan yang melibatkan ketujuh orang secara bersamaan. Kadang, ada forum kecil di antara forum bertujuh, terlebih ketika obrolan menyinggung kenangan waktu SMA (lima di antara kami adalah alumni SMAN1 dan duanya alumni SMAN2).

Ajaibnya, tema yang biasanya tak luput pada obrolan sebelumnya, hari ini tak tercium baunya. Apalagi kalau bukan wanita dan menikah. Tapi tetap: Kejar 25 Broooo...!!

Oh ya 5S+2D adalah singkatan untuk 5 single dan 2 double. Artinya, peserta majelis Jumat pagi tadi terdiri dari 5 bujang hampir-mapan yang masih single (a.k.a. Jomblo) dan 2 bujang hampir-mapan yang sudah berpasangan tapi bukan menikah (in relationship). Ini bukan dalam rangka promosi atau iklan lho ya... Tapi ketahuilah bahwa kata "hampir" di depan kata "mapan" tidak perlu eksis kalau regulasi birokrasi tidak berbelit-belit.

Salam rindu dari tukang kebun di Taman Inspirasi,
@elmabruri

Catatan 7 Bulanan

Apa yang dulu saya tanyakan adalah: KAPAN? Kalau saja dijawab: SEPTEMBER, itu lebih melegakan meski bukan yang diharapkan. Dan, karena tindakan inilah saya dihujat, dianggap melakukan tindakan makar yang merusak kekompakan dan berpotensi membahayakan teman-teman seangkatan. Kenyataanya sekarang?

Yah, pilihannya memang antara maju serentak atau diam bersama. Tapi bukan berarti mendiamkan kan? Mungkin, terpaksa diam. Atau, dipaksa diam? Hati ini mencoba memaafkan meski otak ini menolak lupa.

Awalnya memang saya berdiri pada dua posisi. Pertama, sebaiknya saya menggunakan waktu luang yang melimpah ini untuk meningkatkan kompetensi diri. Kedua, saya boleh-boleh saja mempertanyakan kejelasan proses pengangkatan dan penempatan; kritis terhadap kebijakan yang mungkin dirasa tidak memenuhi keadilan para pihak. Saya memutuskan untuk mengambil kedua peran tersebut dengan cara saya sendiri. Penundaan ini adalah bagian dari qadha Allah, tapi kita punya kesempatan untuk mengubahnya, mengusahakan agar waktu luang ini lebih singkat daripada prediksi kita berdasarkan pengalaman tahun lalu. Maka, sudut pandang masalah yang bisa diambil adalah hubungan antara kita --temen-temen alumni 2012-- dan birokrasi.

Sekarang sudah lewat tujuh bulan. Adalah perbuatan yang hampir sia-sia jika melakukan aksi protes serentak, apalagi mengulang kicauan yang sama di pagi buta. Waktunya kian dekat, meski belum bisa dipastikan. Apa yang sebaiknya dilakukan sekarang adalah benar-benar menyelamatkan diri sendiri dari kehampaan. Sekarang, penundaan itu telah nyata menjadi takdir Allah, dan tidak mungkin mengubah masa lalu. Hidup harus berlanjut.

Mulai dari sini, sudut pandang haruslah antara kita dan Tuhan. Sebab hidup memang akan dimintai pertanggungjawaban. Tentu tidak keren jika ditanya untuk apa hidup ini dan saya menjawab: 7 bulan di antaranya saya adalah pengangguran meski saya sepenuhnya sadar pada usia seproduktif ini seharusnya saya bekerja untuk diri saya sendiri dan ummat. Pertanggungjawaban ini subjektif, tergantung apa yang kita kerjakan untuk merespon takdir Allah berupa penundaan ini.

Saya pun sebenarnya bisa memprediksi penundakaan ini bakalan lama. Bagaimana tidak lama kalau waktu itu (Desember) tidak ada kepastian apa-apa. Jelas, mereka tidak bisa berjanji apa-apa dalam waktu dekat. Ya karena khawatir akan mengecewakan. Juga karena mereka tahu, tidak mungkin pengumuman penempatan bisa dalam waktu dekat sementara berkas masih di tangan mereka, para pejabat yang belum petinggi itu. Kepastian prosedural administratif, jikapun ada, biasanya memakan waktu yang tidak singkat.

Barangkali, saya terlalu peduli pada apa yang seharusnya saya tidak ambil pusing. Dalam hal ini, berusaha menyelamatkan diri sendiri sama sekali bukanlah egoisme. Lagipula, sok menolong orang dengan cara yang mereka sendiri tidak berkenan bukanlah heroisme.

Tetap semangat, masih mengirim rindu dan salam hangat untuk pengunjung Taman Inspirasi dari mana pun asalnya.

Tukang kebun,
@elmabruri

Monday, May 13, 2013

Pemadaman Massal: Bedhug dan Kenthong

Kumpulan Twit saya bakda maghrib tadi.

dulu, bedhug/kenthong sbg tanda mushola/ masjid akn adzan. biar msyarakat jauh tau. skrg gaperlu krn ada listrik dan TOA. bkn ttg
bid'ah.

nah, klo pamadaman listrik kyk skrg, ya baik klo kenthong/bedhug dtabuh.

mgkin suatu saat d masa depan, pas mati lampu, takmirnya BBM-in jamaah masjid, "eh, muadzin lg adzan tuh. yuk ke masjid."

budaya itu anak kandung peradaban. teknologi yg mendukung dakwah skrg ga sama dg teknologi peradaban walisongo..

Bharatayudha 2.0

Suatu saat, mungkin akan terjadi perang sudara di Indonesia, seperti konflik-konflik yang saat ini membara di negeri Timur Tengah. Di Indonesia, perang itu bisa terjadi antara muslim tradisionalis yg kekeuh dengan kekunoannya (untuk tidak mengatakan kebodohannya) dengan muslim modernis yg kaku (untuk tidak mengatakan radikalnya).

Mungkin aku berada di antara keduanya, atau malah menjadi bagian keduanya? Di satu sisi aku ini bodoh, di sisi lain aku ini frontal.

Ya Allah, selamatkanlah kami dari fitnah akhir zaman.

Saturday, May 11, 2013

Titip Rindu Buat Mbakku

Kepada kakak perempuanku tercinta seorang dan satu-satunya,
di Jakarta

Assalamu 'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Kedhini-kedhana. Anak yang hanya dua: perempuan dan laki-laki. Ada yang bilang, keluarga sudah lengkap jika sudah hadir 2 anak dengan kombinasi laki-laki dan perempuan. Tapi sungguh, ternyata dua anak saja tidak cukup.


Seperti yang telah kusampaikan tempo waktu, keluarga ini tidak mempunyai banyak waktu berkumpul lengkap anggota keluarganya. Padahal, hanyalah 4 orang jumlahnya. Waktu kita kecil, Bapak merantau. Sebagai perantau, meski cukup sering pulang, tetap tidak sama dengan keluarga dengan kehadiran seorang ayah di tengah-tengahnya setiap hari. Baru lima atau enam tahun keluarga ini berkumpul, mbak Arum yang kemudian "terpaksa" hijrah (sebagai mana kosakata yang dipakai mbakyu) ke Jakarta.

Wednesday, May 8, 2013

Hearts

Yang saya maksud dengan Hearts di sini bukanlah "hati-hati" (hehe) bukan pula jantung-hati dalam jumlah banyak, melainkan sebuah permainan matematika tentang peluang di dalam himpunan yang terbatas. Ini terdapat di komputer dengan sistem operasi Windows. Coba deh.

Tuesday, May 7, 2013

Kejar 25 Broo

Harap tenang, sedang ada pembacaan buku "Di Jalan Dakwah Kugapai Sakinah".

Monday, May 6, 2013

Skenario Pengibulan

Hari Senin. Pakai kemeja lengan panjang warna biru muda dan celana-kain hitam. Sepatu kantor. Berkalungkan KTM, berangkat ke perpusda tepat pukul 8 pagi. Ternyata ada jarkom: dosen tidak datang, kuliah ditunda Sabtu. Ah, okelah. Buka file "Selayang Pandang Hukum Murabahah BMT - Baitul Mal wa Tamwil". Aktifkan wifi, download "Tour de France Stage 7 Highlight". Sambil menunggu, baca file yang tadi dibuka. "Ping!" eh ada pesan masuk di grup Whatsapp "Kejar 25 Brooo" dan "Nasa Community".

Semacam kuliah mandiri tanpa ikatan dinas. Menyugesti diri bahwa saya masih pelajar/mahasiswa. Mengelabui tetagga bahwa diri ini bukanlah orang-yang-memiliki-nikmat-waktu-luang-banyak (a.k.a pengangguran).

NB: Cerita di atas hanyalah fiktif belaka.

Sunday, May 5, 2013

A

N

Saturday, May 4, 2013

The Man in the Middle

Barangkali, nasihat paling aman dalam menjalani kehidupan ini adalah berjalanlah di tengah-tengah. Tentu bukan setengah-setengah. Tidak keras, jangan lembek, tapi lembutlah. Yang namanya gesekan selalu terjadi di kulit luarnya. Dan garis singgung pasti salah satu titik tepi lingkaran, bukan di tengahnya.

Jangan berada di ekstrem kanan atau ekstrem kiri. Di antara barat dan timur. Tidak perlu menjadi nonblok, asal tidak plin-plan.

Antara "tahu sedikit tentang banyak" atau "tahu banyak tentang sedikit"? Kalau bisa sih tahu banyak tentang banyak. Kalau tidak bisa, cobalah menjadi ahli pada suatu bidang dan tetap mampu mengerjakan hal lainnya.

Eh, langit kemarau mulai menampakkan kemeriahannya. Duet Scorpio-Sagitarius mendominasi langit hampir sepanjang malam. Seseorang berdiri di keremangan malam, di bawah keramaian langit bulan Mei, masih menanti antrian dan undian penempatan. Semoga............

eh, BTW, "The Man in the Middle" saya dapatkan dari seorang teman SMA. Sepertinya, ini nama sekelompok peretas. Kebetulan dia memang suka iseng main begituan.

Friday, May 3, 2013

Sandiwara

Hidup ini hanyalah senda gurau dan sandiwara belaka. Maka, berjuanglah untuk lakon hidupmu sendiri. Jangan hanya menjadi penonton pentas hidup orang lain. Ikut tertawa dan menangisi kebodohan mereka, di lain kesempatan menjadi komentator di luar lapangan; jangan begitu.

Live the life, D!

Nasihat buat Bang D (Bang Dul :D) dari tukang kebun di Taman Inspirasi.

Thursday, May 2, 2013

Obat Galau Malam Jumat

Beginilah tukang kebun melihat kehidupan di Taman Inspirasi.

Benang sari mengemas rindu ke dalam butiran serbuk. Sebuah paket berbungkus senyum tulus siap dikirimkan, tanpa nama dan alamat tujuan.

Datang empat sekawan regu pengantar, sebuah pasukan khusus yang bodoh dalam memilih dan alpa dari berkeinginan. Merekalah mahluk tak berotak, namun kesetiaan menjadi tasbihnya. Kupu, kumbang, burung, dan angin adalah kurir cinta dari benang sari kepada putik. Jasa titipan cinta, kilat ataupun biasa.

Putik anggun dalam tafakurnya, menanti silaturrohmi tukang pos yang tak pernah bolos. Dengan menengadah doa, putik melantun syair selamat datang, sebuah kado tanpa nama dan alamat pengirim ia pangku tanpa ragu.

Sebab benang sari dan putik yakin akan pengetahuannya: kupu, kumbang, burung, dan angin adalah agen resmi yang dipilih langsung oleh Sang Mak Comblang cinta satu-satunya. Mengantar cinta adalah titah-Nya.

Maka, obat galau malam Jumat: Allohumma sholli 'ala Muhammad wa'ala ali Muhammad.

Wednesday, May 1, 2013

May Day: Antara Tidak Bersyukur dan Mengubah Nasib

Rizki memang telah ditetapkan Allah, tetapi upah mininum adalah kebijakan yang bisa ditinjau kembali keadilannya.

Tempo waktu ada teman berpendapat di akun FB-nya, bahwa upah/honor sejumlah 850K sebulan itu sudah lebih baik daripada tak ada sama sekali. Disyukuri saja, jangan mengeluh terus.

Memang tidak sedikit teman yang berkomentar galau terkait kemungkinan honor magang yang hanya segitu. Tak sedikit pula nasihat untuk mensyukurinya. Saya? Saya sebisa mungkin menghindari berkomentar di tempat-tempat seperti itu. Selalu ada saja hal tak penting untuk diperdebatkan oleh orang-orang dengan nikmat waktu luang yang melimpah. Lebih baik menulis di Taman Inspirasi meski tak banyak pengunjungnya. Di sini lebih tenang.

Dan, inilah pendapat saya. Kalau memang jumlah honor segitu disepakati sebagai kezaliman eksploitatif terhadap calon buruh birokrasi, kita bisa membicarakannya dengan para pihak yang bersangkutan. Tidak hanya menggerundel di grup tertutup.

Bersyukur pun bukan diam saja terhadap ketidakadilan yang menimpa kita. Lebih lanjut, syukur itu urusan hati mahluk dan Kholik. Mengingatkan saudara untuk selalu bersyukur adalah kebaikan. Tapi mendakwa hati yang kufur nikmat berat pertanggungjawabannya.

alhamduliLlah. Salam dari Taman Inspirsi,
@elmabruri

Wednesday, April 24, 2013

Bukan Berpuisi

Apalah arti puisi ketika ekspresi menyembunyikan arti. Dan diksi mengundang kernyit di dahi.

Sampaikanlah kebenaran meski ia bukanlah puisi.

Saturday, April 20, 2013

[Catatan Hati Eyang Mabrur] Habis Sirius, Terbitlah Vega

Jarak April dengan September itu jauh ya? Hampir saja sejauh Alpha Lyrae (Vega) dan Alpha Canis Mayoris (Sirius). Selisih bujur Vega dan Sirius itu sekitar 180 derajat, entahlah jarak diagonal sesungguhnya (saya tak sempat lagi menghitung dengan trigonometri bola). Keduanya memang tidak pernah bertemu. Sebaik-baik kesempatan untuk berjumpa dengan kedua mahluk cantik ini adalah ketika Sirius terbenam dan terbitlah Vega (musim kemarau di Indonesia), atau sebaliknya terbenamnya Vega disusul terbitnya Sirius (musim penghujan). Karena jaraknya tidak persis 12 jam (180 derajat), mungkin ada kesempatan langka untuk dapat memergoki keduanya di malam yang sama pada menit yang sama sesaat sebelum terbitnya matahari di bulan Juli atau sesaat setelah terbenamnya matahari di bulan Januari. Namun, hamburan cahya senja dan fajar membuat kemungkinan itu menjadi teramat kecil.

Eh, sebentar....sebentar.... Kenapa April dan September? April adalah bulan ini dan September adalah bulan pelaksanaan TKD (Tes Kemampuan Dasar), katanya. Jadi, berhubung jeda waktu April-September itu cukup lama, menunggu akan begitu membosankan. Perlu adanya semacam katalis agar waktu 5 bulan tersebut terasa menggairahkan.

Bagaimana kalau katalisator yang berfungsi juga sebagai manajemen konflik ini berupa STuMPAN? STuMPAN itu ya semacam STuMK yang saya terbitkan akhir tahun 2012 lalu, hanya beda alamat tertujunya. Hehe. Tidak....tidak....tidak... Saya hanya bercanda. Tidak ada niatan lagi untuk bergurau dengan pemerintah lewat surat terbuka-terbukaan #ups. Tidak mudah menyalakan lilin di siang hari meski hal tersebut tak terhalang oleh peraturan.

April ini akan ada hujan meteor. Ada pula peringatan Hari Kartini. Waktunya berdekatan. Tulisan ini pun terbit membersamai momen keduanya. Kalau menurut mitologi, Vega adalah seorang gadis yang berdiri di bantaran sungai Susu (Milkyway). Meski asal kata "Vega" disinyalir berasal dari bahasa Arab "al Waqi" yang berarti "elang jatuh", nama Vega di Cina menjadi Xunu (semacam gadis lah pokoknya) dan di Jepang menjadi Orihime (nama perempuan). Bukan maksud untuk mempercayai mitologi, tapi nama Vega agaknya memang nama perempuan.

Dan, teman-teman saya menyamarkan sebuah nama wanita di balik nama Sirius. Jadi klop deh: keduanya cocok untuk simbolisasi nama wanita. Habis Sirius Terbitlah Vega. Bagi yang cukup paham dengan peta langit malam, ini sungguh keren. Fakta bahwa langit April dihiasi bintang paling terang di langit malam (Sirius) yang akan terbenam menjelang pergantian hari, lalu digantikan dengan bintang yang sama menariknya, Vega. Sekedar informasi saja, Vega adalah bintang standar yang menjadi acuan kecerlangan.

Tentang Lyrids Meteor Shower ini, atau hujan meteor-hujan meteor lain, sebenarnya tidak ada keistimewaan-keindahan yang perlu digadang-gadang dengan begadang. Yah, alam ini memang sudah diciptakan demikian indahnya. Jadi, semuanya indah apa adanya. Maka, yang membuat suatu momen itu bisa menjadi berkesan adalah soal dengan siapa kamu menikmati momen hujan meteor di sekitar rasi Lira ini.

Jadi, dengan siapa kamu melihat Lyrids Shower tahun ini?

Saya? Yang jelas tidak sendirian. Bersama kamu, dan banyak orang; kita hanya berbeda tempat saja.

Ada yang mengatakan bahwa meteor adalah bintang yang digunakan Allah untuk melempari setan. Memang, fungsi bintang yang dijelaskan dalam al Quran itu hanya tiga: menghiasi langit, penunjuk jalan, dan pelempar setan. Namun, tentu tidak banyak yang bisa dihubungkan dari bintang sebagai pelempar setan dengan kemanusiaan. Jadi, saya mencukupkan diri dengan memanfaatkan bintang sebagai penunjuk jalan sekaligus hiasan di langit. Wallahu a'lam.

Tentang ibu kita Kartini, saya sendiri belum membaca buku beliua "Habis Gelap Terbitlah Terang"

Seandainya dulu tidak ada Kartini yang memperjuangkan pendidikan bagi kaumnya, apakah kalian wahai para wanita akan bersekolah? Jawabannya: tentu saja tetap bersekolah. Perjuangan hak wanita untuk bersekolah bukanlah soal keberadaan Kartini, tetapi peluang dari keadaan yang ada. Saat itu wanita ditutup haknya memperoleh pendidikan. Menyadari bahwa pendidikan adalah hak manusia, maka itu perlu diperjuangkan keberadaannya. Dan, Kartinilah yang mengambil peran itu. You get me?

Seperti "ramalan" bahwa umat ini akan dimenangkan pada akhirnya, yang menjadi fokus bagi individu bukanlah bagaimana caranya. Setelah keyakinan pada kabar ini, mereka yang memilih memperjuangkannya adalah yang turut dalam sejarah dan kebahagiaan. Umat ini akan tetap menang, apakah di dalamnya ada kamu atau tidak di baris perjuangan?

Oh ya, kembali soal Lyrids Meteor Shower. Sudah tahu kan di mana posisi hujan meteornya? Saya kira sudah banyak info di jagat maya tentang peristiwa astronomis ini. Jadi, tak perlu saya mengulang informasi yang sama. Tapi bolehlah saya sedikit merangkumnya. Tentu saja, namanya juga Lyrids Shower tentu meteor akan muncul dari rasi Lyrae. Rasi ini cukup sulit ditemukan secara lengkap karena saking kecil dan sedikitnya anggota. Mudahnya, tentu kita pakai bintang paling terang di rasi Lyrae, yaitu Alpha Lyrae atau si Vega. Patokannya, dia akan terbit di arah timur laut sekitar pukul 11 malam pada tanggal 20-an April ini. Di arah barat sedikit ke selatan, Sirius hampir terbenam.

Sebenarnya meteor ini bisa disaksikan sejak 16 April. Tapi, seingat saya, puncaknya adalah pada tanggal 23 April. Kapan waktu paling tepat untuk mengintipnya? Tentu setelah jam 11 malam. Kalau jam segitu baru terbit, kulminasi atas terjadi pukul 5 pagi. Sudah kepagian bro and sist. Lagi pula pegal juga kalau harus mendongakkan kepala. Jadi, sebaiknya kita bangun jam 2 pagi qiyamul lail, lalu stargazing deh. Posisi Vega berada pada ketinggian sekitar 45 derajat. Pas banget.

Selamat merenung!

Salam dari Taman Inspirasi
@elmabruri


Eh, BTW nama siapa yang ada di balik nama Sirius dan Vega?

Sunday, March 24, 2013

Yamaha New Xeon RC: Sang Srikandi

"Semua mata tertuju padamu."

Rasanya ungkapan yang biasa digunakan untuk melabeli juara ajang pemilihan ratu kecantikan Indonesia ini cocok benar digunakan untuk menyambut lahirnya ratu baru motor skutik bebek dari rahim Yamaha. Betapa tidak, skubek (skuter bebek) ini menjadi andalan Yamaha demi menjawab tantangan konsumen akan motor matik serbabisa dengan menyematkan banyak keunggulan dan teknologi canngih terbaru.




Kehadiran motor matik di Indonesia tak lepas dari andil Yamaha mendatangkan Nouvo pada 2002. Tentu saja, dengan ini kita harus mengakui kehebatan Yamaha dalam membentuk opini publik bahwa motor matik tidak bisa dipandang sebelah mata dari tipe motor lainnya. Sehingga, sangat layak bagi Yamaha dinobatkan sebagai "Bapak" motor matik. Maka, ahlinya motor matik? Pasti Yamaha.

Saturday, March 16, 2013

Menyalakan Lilin di Siang Hari

Awalnya, tulisan ini akan berjudul "[Bukan] Press Release: Menyalakan Lilin di Siang Hari". Terlalu menggelitik, nanti jadi banyak pembacanya. Sebab, tulisan ini diperuntukkan bagi yang merasa biasa membaca tulisan saya tanpa di-tag. Biarlah saya menggantung selembar tulisan ini di Taman Inspirasi. Dan mari, tulisan saya yang membuat keributan kecil itu sebut dengan STuMK (tak ada lagi tulisan itu dalam kepanjangannya).

Mengapa tidak menulis catatan ini di grup tertutup atau di catatan FB?

Pertama, keributan kecil itu diketahui oleh khalayak lebih luas daripada lingkup yang merasa hanya "terkena panasnya" api lilin itu.

Kedua, teman saya di FB hanya sekitar 1370. Padahal, lulusan STAN 2012 prodi D3 saja lebih dari 1700. Jadi, banyak teman seangkatan yang tak bisa membaca tulisan ini padahal mereka terkena dampak atas tindakan saya dulu. Saya hanya perlu menuliskannya, lalu mem-publish-nya tanpa memaksa orang untuk membacanya (meski saya berharap kalian dan mereka tahu).

Mungkin ini akan terlihat sebagai pembelaan diri, ataupun rasionalisasi. Apapun itu, setidaknya menuliskan catatan ini adalah media terapi atas rasa tidak enak saya memikirkan keributan kecil itu.

Mengapa tidak melakukan diskusi dulu dengan teman-teman seangkatan?

Sistem yang ada mengharuskan sebuah aspirasi merangkak melalui jalur hieraskis (dari kaum proletar kepada kaum ningrat). Oke, saya memang tidak membicarakan tindakan saya di forum tertutup itu. Namun, saya melakukan jajak pendapat sederhana melalui status FB beberapa minggu sebelumnya. Hasilnya, selalu ada pro dan kontra.

Nah, kalau aspirasi saya adalah "publik perlu tahu masalah ini". Bagaimana aspirasi ini bisa terwujud jika menghadapi sistem demokrasi yang selalu memenangkan golongan mayoritas? Apalagi dengan penyaluran aspirasi dengan sistem hieraskis itu?

Sebelum merilis tulisan itu, saya telah berkonsultasi dengan seorang dosen STAN bukan widyaiswara. Beliau, tidak usah sebut nama, melihat bahwa hal itu (menulis surat terbuka di media online) merupakan hak siapa saja. Beliau mewanti-wanti agar dalam menulis saya tidak menunjukkan emosi berlebihan. Harus senetral mungkin. Selalu ada tiga sisi dalam setiap masalah: your side, the other side, and the truth.

Salah satu kesalahan saya adalah tidak mengkonsultasikan isi tulisan itu kepada beliau. Namun, salah seorang teman FB yang telah biasa menulis berkomentar: tulisannya "well prepared". Berarti dia memiliki penilaian yang sama dengan saya. Juga, ini cukup mewakili bahwa tulisan itu sudah memenuhi kriteria "berirama rendah". Kalau ada yang bilang tulisan itu tidak cerdas, bolehlah disebut begitu, kadang kecerdasan tidak diperlukan untuk bersopan santun.

Ada yang berpendapat bahwa ini adalah masalah internal kita, tidak ada orang luar yang berkepentingan. Lagi-lagi, saya tak bisa memaksakan pemahaman saya. Bahwa publik (dalam bahasa demokratis berarti "rakyat") berhak untuk tahu segala sesuatu yang diwakilkan kepengurusannya kepada lembaga yudikatif, eksekutif (pemerintah) dan legislatif.

Ini bukan lagi jaman geosentris, maka jangan egosentris. Egosentris dan geosentris sama-sama mempunyai pijakan yang jelas: egois alias mementingkan diri sendiri. Dan, Galileo dihukum karena mengatakan kebenaran, bahwa bumi bukanlah pusat dunia. Lho, apa hubungannya?

Kecenderungan orang memang menutupi apa-apa yang terjadi di tungku perapian rumah tangganya. Kalau itu memang aib, anggota keluarga justru wajib menutupinya. Masyarakat bukanlah stakeholders rumah tangga orang, tapi rumah tangga negara. Dan, pemerintah adalah bagian dari negara. Di negara demokratis ini, rakyat berdaulat mengetahui aib-aib di dalam rumahnya.

Dalam pandangan saya, publik perlu tahu realisasi kebijakan pemerintah terkait uang (APBN) yang mereka percayakan. Dan adalah sah-sah saja bila "orang dalam" mengabarkan ini kepada rakyat dalam bentuk ocehan burung di pagi hari. Sebab, birokrat sebenarnya adalah abdi negara, bukan abdi pemerintah.

Jadi, rakyat adalah pihak yang berkepentingan.

Namun, saya tidak bisa memaksa pemahaman orang lain tentang ini. Pun, jika didiskusikan terlebih dahulu, minoritas akan selalu kalah dalam dunia demokrasi. Golongan mayoritas secara alamiah telah menjelma menjadi kaum tiran.

Bagaimanapun, saya tetap merasa tidak enak (nah lho, biasanya orang merasa tidak enak itu karena bersalah?).

Tidak perlu meminta maaf bagi kalian yang telah mengolok-olok saya dengan perbendaharaan kata kotor yang kalian miliki. Mulutmu harimaumu. Mulutku juga harimauku.

Segala perbendaharaan kotor yang sempat sampai ke mata saya, tidak masalah bagi saya. Setiap orang mempunyai keberanian masing-masing untuk menyatakan sikap tidak suka kepada tindakan saya, meski dengan cara yang menyedihkan.

Tidak semua hal terkait peristiwa pascaterbit STuMK saya tulis di sini. Beberapa karena saya tak ingin mengompori kebakaran lain (saya menerima saja apa yang mereka katakan, meski saya tahu itu terlalu lucu; ada kusimpan saja beberapa potong informasi). Beberapa karena akhirnya informasi tersebut dirilis oleh pihak yang berwenang.

Kalem saja. Masyarakat akan belajar. Tapi saya juga tidak bisa memaksakan pemahaman bahwa tidak perlu khawatir dengan efek negatif dari tindakan ini. Maksud saya, seorang pemimpin tidak akan memecat seorang OB (office boy) karena dia mengatakan, "Maaf Pak, upil Anda kelihatan." Kalau Si OB itu dipecat? Ya berarti Si Bos sebenarnya ingin memelihara upil sebagai trademark. Biarkan saja.

Sebuah kelahiran, selalu disertai dengan darah dan tangis, Kawan. Jadi, kalau hanya melamun di pinggir sungai, pasti dia bukan Michael Phelps.

Tapi, sesuatu yang membuat saya melongo adalah pernyataan: kalau mau protes, nantilah kalau sudah turun SK; atau kalimat lain yang senada. Maka saya tahu, tindakan saya seperti menyalakan lilin di siang hari.

You see? No komen dah...

Saya seperti bintang pada fase deret utama, atau bahkan sekelas bintang katai, di kemeriahan langit nebula kepala kuda (horsehead nebula), begitu terasing dan terabaikan, yang tiba-tiba mengeluarkan cahaya terang melalui peristiwa bernama supernova. Dan, supernova adalah usaha penghabisan sebuah bola gas pijar menunjukkan dirinya secara jujur. Bahwa, supernova menguras hampir seluruh energinya.

Tahukah kamu apa yang mungkin terjadi setelah meledaknya bintang? Sebuah bintang mungkin akan menjadi bintang neutron atau lubang hitam, tergantung massanya. (oh tidak, ini hanya pengandaian yang saintifik dan keren; tapi tidak cukup relevan :D)

Sebenarnya saya ingin jadi golongan pertengahan, mereka aman. Tapi Tuhan tidak sedang bermain dadu ketika menentukan siapa manusia Bumi Indonesia yang harus menulis STuMK. Maka, ini bukan lagi masalah siapa si Penulis goblok ini. Tapi waktulah yang akan memunculkan orangnya dan akumulasi kekecewaan adalah amunisinya.

Pesan saya, kalau nanti saya ditempatkan di sudut sempit negeri timur jauh, kalian boleh tertawa sepuasnya. Tapi jangan lupa bahwa Tuhan tidak sedang bermain dadu. Nah, kalau pengangkatan kita lebih lambat lagi, artinya seorang penulis STuMK saja tidak cukup.

[Tapi sebenarnya ini aksi yang nanggung dan terlanjur saya padamkan sendiri sebelum ada kobaran kecil. Baru anget-anget tahi ayam].

Salam Satu Jiwa,
@elmabruri

NB:
Saya tidak mengizinkan seorang pun untuk mengkopi dan menyebar link posting tulisan ini.

Draf awal tulisan ini dibuat tanggal 14 Januari 2013.

Perlukah Melestarikan Budaya Leluhur?

Dulu saya berpikir bahwa kita harus melestarikan budaya nenek moyang, yang katanya luhur itu. Sebutlah misal: memahami dan mengaplikasikan aksara Jawa. Sekarang saya berpikir bahwa budaya sebagai anak kandung peradaban akan menyesuaikan masa/waktu berlakunya. Tidak ada urgensi apapun untuk mempertahankan budaya yang tidak sejalan dengan gerak zaman. Interaksi manusia akan menghasilkan kebudayaan baru. Tidak masalah dengan hilangnya suatu budaya asalkan tercipta budaya baru dengan nilai yang sama atau lebih baik.

Termasuk di dalamnya adalah kotak-kotak manusia dalam kelas-kelas fisik. Selama ini kita mengenal orang Papua (pedalaman) dengan rambut kribo dan koteka.

Selama ini kita didoktrin bahwa identitas suatu bangsa adalah sejarahnya. Sebuah bangsa yang lupa akan para pahlawannya, dianggap kehilangan jati dirinya. Ini tidak sepenuhnya benar. Di masa kini, jati diri suatu bangsa dilihat dari visinya di masa depan.

Visi di masa depan itu dibentuk oleh akal, ilmu, dan nurani. Akal adalah jalan pembuka menuju pengetahuan; ilmu akan menuntun kita pada kebijaksanaan; nurani yang datangnya dari hati -bisikan Tuhan- menjadi konfirmasi atas kebijaksanaan sang ilmu.

Dan ketahuilah bahwa yang memiliki masa depan itu hanyalah Tuhan. Maka, kehidupan ini memang menuju Tuhan. Muaranya, mau tidak mau, adalah nilai yang dianggap paling universal dari kehidupan, yaitu kemanusiaan. Sehingga klasifikasi yang paling adil untuk mengenal manusia adalah dengan melihat siapa Tuhan dari seseorang (lho, kenapa Tuhan? Ya karena manusia ini ciptaan Tuhan; lalu Tuhan dikenal dengan lingkup agama). Dengan klasifikasi agama, setiap orang akan dikenal di luar batas-batas kewilayahan (negara, kota, pulau, RW, ataupun RT), gender, suku, warna kulit, dan sebagainya. Dan tentunya, dalam melaksanakan keagaman masing-masing diterapkan prinsip "agamamu agamamu; agamaku agamaku". Setiap agama boleh bersyiar, tapi tidak boleh mengganggu agama lain, apalagi memaksa.

Tapi, bukankah hikmah dari bersuku-suku dan berbangsa-bangsa adalah menjadikan kita saling mengenal?

Ya, kita mengenal suatu bangsa dengan karakternya. Perbedaan lainnya hanyalah identitas, bukan prioritas. Seperti ketika kita mengenal seseorang dengan namanya. Maka, sebenarnya saya begitu heran ada yang rela berkorban nyawa untuk kehormatan kelompok/golongan, suku, ras, bangsa, atau bahkan negaranya. Yang saya maksudkan adalah seperti contoh ini: seseorang akan marah jika bendera negaranya diinjak-injak orang asing. Karena hal ini, seseorang bisa mati terbunuh. Sangat lucu bukan?

Bahkan, orang Palestina yang menghadang peluru tentara Israel dengan niat kemerdekaan tanah airnya tidaklah mulia. Mereka seharusnya maju perang demi mendapat kemerdekaan dalam melaksanakan agamanya. Meski, kenyamanan dalam melaksanakan agamanya tidak bisa dicapai tanpa kedaulatan wilayah Palestina dari cengkeraman Yahudi. Sangat tipis memang, tapi jelas ada batas pembedanya. Ini seperti rizki yang sudah ditetapkan, tapi kita harus tetap berusaha menjemputnya. [sama juga dengan berbuat baik dengan niat untuk balasan syurga, padahal seharusnya berbuat baik hanya karena Allah, lalu terserah kepada Allah akan membalasnya dengan apa -tapi Allah telah berjanji akan membalas kebaikan dengan syurga-].


Fakta bahwa setiap yang bernyawa akan mati -apalagi sebuah negara, suku, ras, dll pasti akan sirna- menggiring kita untuk percaya bahwa ada kehidupan setelah mati (daripada tidak percaya bahwa tidak ada kehidupan setelah mati yang artinya kehidupan di dunia ini berhenti di liang kubur, kan lebih baik percaya -berharap- ada kehidupan setelah kematian yang pintunya adalah liang kubur?)

Maka, sekali lagi. Hidup ini untuk kebaikan masa depan. Maka, tidak usah ragu untuk melepaskan apa saja yang terjadi di masa lalu yang mengganggu tercapainya masa depan. Ingat juga, masa depan adalah akhirat dan Sang Pemilik Akhirat adalah Allah swt.

Salam,
@elmabruri

Fenomena Nikah Muda Jilid #2

Telah terbukti, alumni STAN terkena 'sindrom' nikah muda, bahkan ketika pengumuman penempatan belum jelas kabarnya. Anyway, saya mengucapkan selamat berbahagia dulu, semoga selamat sampai di tujuan, menjadi keluarga SAMARA, dan keberkahan Allah atas kalian kedua mempelai. Yah, meski 3 orang seangkatan yang saya tahu telah melangsungkan akad nikah tidak saya kenal persis orangnya.

Tidak sedikit alumni STAN yang terkena virus asmara lokasi, meski 'stok' mahasiswi di kampus ini hanya menutupi 1 dari 5 laki-laki yang ada. Kelangkaan individu berjenis perempuan justru berpotensi terjadinya anggota himpunan tak berpasangan dalam korespondensi satu-satu.

Jadi, sebenarnya saya mau membahas tentang pasangan-pasangan itu, wabil khusus mereka yang menganut metode 'penjajagan' pranikah dan status ini ditampilkan kepada khalayak ramai. Baik status yang tersurat seperti "in relationship with" di FB maupun yang tersirat (berdasarkan pengakuan dan/atau tindakan).

[Tersebab saya sedih melihat teman di socmed yang sudah terang-terangan ngebet nikah, udah ada pasangan, alumni STAN keduanya #ups, tapi belum menemukan titik temu kesepakatan nikah. Mohon maafkan sahaya, jikalau tulisan ini cukup kasar.]

Saya akan mengkategorikannya ke dalam dua kondisi: 1) mereka yang telah sepakat untuk menjalin hubungan pernikahan tapi belum berani dan 2) mereka yang telah merasa cocok tapi belum bersepakat untuk memulai ikatan resminya (tentu saja, belum berani juga).

Golongan pertama, biasanya terkendala masalah biaya. Entah itu maskawin, walimah, atau nafkah. Serius hanya ini masalahnya? Bukan, saya bilang. Masalah sebenarnya adalah gengsi. Lah, maskawin berupa sandal jepit saja boleh kok? Saya tidak bercanda. Sandal jepit boleh, artinya bahwa tidak perlu muluk-muluk yang namanya maskawin itu. Karena, sebaik-baik maskawin itu yang mudah (belum tentu murah lho ya). Yang bikin susah sebenarnya adalah tradisi dan persepsi, termasuk persepsi kita sendiri. Kita tahu sendiri, hidup di Indonesia yang kaya akan tradisi itu gampang-gampang susah (note that: 2X gampang, 1X susah; so?).

Tradisi ini berada di luar diri kita, sedangkan persepsi ada di dalam diri kita. Kalau yang ini: susah-susah gampang. Persepsi itu adalah: pernikahan adalah momen paling bersejarah dalam hidup sehingga harus benar-benar berkesan (nah, seringkali kita juga bepersepsi "berkesan" diartikan dengan "wah"). Jadi, ada dua persepsi dalam diri kita. Susah-susah gampang.

Golongan kedua saya bilang, secara kasar, sebagai pesakitan. Kenapa? Aneh saja. Kalau sudah merasa cocok, artinya tidak mau ganti dengan yang lainnya, mantep, tunggu apa lagi? Selanjutnya ya sama kayak golongan pertama, tidak usah pertimbangkan materilnya yang serba wah. Lebih cepat, insyaAllah lebih baik. Dan, yang terpenting segera HALAL.

[Lancar kamu ngomongin orang, kamu sendiri pegimana?]

Ane pan udeh bilang, mau kejer setoran 2014 dulu. Abis itu dah baru mikirin.

Saya sih tidak tahu seberapa biaya menikah beserta segala serba-serbinya pada kehidupan modern sekarang ini. Namun, kalau melihat sejarah, Ali memberikan baju perangnya senilai 400 dirham (setara 28jt saat ini) kepada Rasulullah sebagai mahar atas Fatimah, termasuk biaya pernikahan dan perlengkapan rumah tangga. Rasulullah sendiri pernah memberikan mahar 500 dirham (setara 35jt saat ini). Ada pula sahabat yang melapor telah menikahi perempuan dengan maskawin sebutir emas sebesar kurma, lalu Nabi memerintahkan kepada sahabat itu untuk mengadakan walimah setidaknya dengan seekor kambing. Secara ringkas, seyogyanya biaya walimah tidak melebihi maskawin.

Kalau saya sih berharap nantinya (walimah) yang serba sederhana saja. Tapi saya sendiri belum memikirkan konsepnya, tanpa meninggalkan jauh dari kebiasaan masyarakat (biar tidak kaget, gituuu). Intinya: SUBSTANCE OVER FORM. Sebagai orang akuntansi, kalau hanya mengerti kaidah itu tanpa paham aplikasinya, IPK tinggi tidak ada artinya masbro and mbaksist..... #eh.

Salam,
@elmabruri

Obrolan Jumat Pagi

Apa yang akan dibicarakan jika ada 6 alumni STAN berkumpul?

Setiap Jumat pagi adalah jadwal rutin futsal DPPKAD Kebumen. Tahun lalu 5 mahasiswa STAN melaksanakan studi lapangan di kantor itu. Singkatnya, sejak saat itu sampai sekarang, jika kami kebetulan sedang berada di Kebumen, mereka selalu mengajak kami futsal. Nah, selama masa menunggu penempatan, inilah rutinitas kami yang hampir pasti setiap pekannya.

Kira-kira pukul 9 lebih, kami selesai bermain. Sambil menunggu keringat kering, kami duduk mengobrol. Topik yang tak pernah luput dari pembicaraan adalah tentang nikah dan penempatan. Atau, penempatan dan nikah (suka-suka kau lah menyebut mana duluan). Ketika pembicaraan tentang penempatan masuk jalur buntu ketidakpastian dan kami tak tega mengumpat pemerintah, topik berlari menuju angan-angan di masa depan: berkeluarga. Nah, sepertinya menarik nih untuk di post di Taman Inspirasi. Hitung-hitung menambah koleksi taman yang akhir-akhir ini jarang ditanami.

Mari saya mulai dari Mr. I yang sebenarnya sudah tak asing lagi untuk berbicara soal nikah muda. Sejujurnya saya tidak percaya dengan sepak terjangnya dalam berburu --obrolan pribadi saya dengannya jarang menyentuh sisi yang beginian. Menurut cerita teman-teman, dia begitu aktif mencari tulang rusuknya yang hilang: telah banyak nama target berbeda yang saya dengar dari teman. Maka, dia harus menimpali setiap 'tuduhan' terhadap dirinya itu di berbagai forum meski bukan dia yang membawa kabar dirinya sendiri. Sepertinya, Mr. I ini lebih nyaman berbicara terbuka secara 4 mata dengan semua orang. Statusnya saat ini tetap masih mencari --saya tidak tahu apakah agendanya ke Jakarta minggu ini ada kaitan dengan gosip terbaru tentangnya. #ups

Kemudian Mr. Q. Sungguh kawan, ini menarik. Namun maafkan jika saya tidak lihai menyampaikannya dengan baik di sini. Mr. Q ini cukup bisa dikategorikan ke dalam para pencari yang aktif, sebenarnya. Namun, ia terganjal peraturan tak tertulis dari orang tua, khususnya ibu, tentang kriteria calonnya. Tidak perlu dijabarkan di sini apa saja permintaan ibunya tersebut. Yang jelas, terjadi benturan kepentingan antara ibu, saudara kandung, dan dia. Selain ibunya memberikan syarat yang mengikat yang memberi dampak kesulitan baginya menemukan si calon yang memenuhi hasrat sang Ibu, Mr. Q juga tidak berada dalam status lampu hijau. Dia masih mempunyai 2 (kalau tidak salah) kakak lelaki yang bujang.

Lanjut Tuan P (khusus yang satu ini saya merasa tidak enak menggunakan Mr.). Barangkali, di antara peserta kongres ini, yang paling terlihat konstelasinya hanyalah Tuan P. Dia sudah memiliki calon sejak SMA! Wow. Itu bukan kabar mengejutkan sebenarnya. Tapi, jika kawan tahu latar belakang Tuan P dan calonnya, diketahui bernama Miss I, barangkali kawan akan tercengang. Ini seperti kisah dalam sinetron-sinetron di mana ada putri istana jatuh hati dengan anak rakyat biasa dan kedua belah pihak telah merestui. Oke, mungkin perumpamaan ini terlalu berlebihan. Saya sendiri pun baru tahu bahwa, sebagaimana saya dengar dari Mr. Q yang diaminkan oleh Tuan P, Miss I merupakan anak dari sebuah keluarga berpengaruh di Kebumen sedangkan Tuan P adalah orang kebanyakan. [Saya hanya berusaha menyampaikan fakta dengan bahasa halus tanpa bermaksud menyinggung sentimental masyarakat tentang strata sosial]. Awalnya orang tua Mr. P merasa keluarga Miss I terlalu berlebihan untuk putra ragil mereka. Tapi, Tuan P masih belum mendaftarkan diri di KUA karena 1) Miss I baru akan lulus kuliah September depan, 2) SK belum di tangan, dan 3)Tuan P masih mempunyai kakak perempuan yang lajang. [namun, katanya sudah memberikan lampu hijau.]

Next: Mr. J. Sebenarnya, Mr. J tidak PKL di DPPKAD. Berhubung dia pernah ikut futsal ini, masuklah ia pada daftar orang yang akan saya kupas di sini. Haha. Yah, meski saya sendiri tidak tahu peta perjuangan dan jejak langkahnya dalam urusan ini. Saya tidak tahu jika telah ada target tertentu setelah dia tidak lagi dengan, katanya sih, Miss R yang adalah teman SMA. #UpsLagi

Berikutnya, Mr. N. Kawan, tentang yang satu ini, sebenarnya saya tidak enak membicarakannya di tempat umum -blog- ini. Kisah ini mirip-mirip cerita khayalan di mana ada seorang laki-laki yang hanya mempunyai perasaan-ketertarikan dengan seorang wanita meski wanita itu telah terikat-tidak-resmi dengan lelaki lain. Kisah mengharukan, bukan? Atau justru miris --maaf saya harus mengatakan ini. Sampai saat ini dia tidak membuka "recruitment" bahkan ketika beberapa teman mencoba menarik simpatinya. Barangkali, "Hanya dia." Tapi, di lain majelis dia telah memberikan pernyataan resmi bahwa dia akan mulai membuka diri --dia hanya perlu membuka diri tanpa harus sibuk mencari sebenarnya-- setelah mempunyai pekerjaan tetap. Jadi, kawan, jika kamu membaca blog ini, saya merekomendasikan buku "Jalan Cinta Para Pejuang". Bukan bermaksud menempatkanmu untuk ikut serta dalam "perjuangan" yang dimaksud Salim A. Fillah dalam buku itu, tapi ada bagian dari buku itu yang menjelaskan bagaimana sebaiknya mencintai #UpsKetiga. Buku bisa dipinjam dari Mr. I.

Di forum ini saya adalah orang yang paling tidak terendus rekam jejak dalam urusan berhubungan dengan wanita. Lah, memang tidak ada. Lagipula, membahas tentang pernikahan masih merupakan hal tabu di keluarga saya. Bahkan mbak saya pun belum memperlihatkan tanda-tanda itu. Yang jelas, dia baru semester pertama pada pendidikan S2-nya. Sepertinya, jarang terpikirkan bagi seseorang yang berada di tengah masa pendidikan untuk melakukan pernikahan. Setidaknya, satu setengah tahun lagi.

Tapi bukan berarti saya tidak terkena sindrom anak STAN yang mempunyai tabiat untuk membicarakan pernikahan meski kamu baru saja lulus --BARU SAJA lulus?--. Pada forum lain yang lebih kecil pesertanya, saya seringkali diinterogasi dan dinvestigasi sebagai tersangka pelaku sebuah gerakan gerilya :D

Kesimpulan
Mungkin, Pamakja 2009 (perkumpulan anak Kebumen di STAN angkatan 2009) akan mendahului Pamakja 2008 dalam urusan per-keluarga-an. Sekian.

Peluk bersahabat dari Taman Inspirasi,
@elmabruri

Tuesday, February 12, 2013

PHP, Pengalihan Isu, atau Manajemen Konflik?

Timses2012 mengeluarkan 'perintah' untuk mengumpulkan pas foto, data berat badan, dan data tinggi badan. Pemberitahuan itu dikeluarkan melalui akun twitter dengan HURUF KAPITAL! Tentu mengagetkan meski membawa angin segar bersamanya. Namun sayangnya tidak disertai dengan keterangan untuk apa data-data itu. Hanya saja, di akhir pemberitahuannya, timses mengatakan bahwa semakin cepat pengumpulan, semakin cepat penempatan.

Ha? How could it be?

Apa hubungannya pas foto 4X6, berat badan, dan tinggi badan dengan penempatan? Yah, mungkin ada hubungannya sekalipun dipaksakan. Tapi, timses tidak mengatakan mengapa kami harus mengumpulkan barang-barang macam itu dengan status SEGERA dan mendadak.

Melakukan sesuatu tanpa mengetahui kenapa harus melakukan sesuatu itu adalah seperti kuda yang dihentak tali kekangnya. Kuda itu akan berlari dan menurut saja perintah belok kanan atau kiri tanpa tahu kemana ia menuju, apakah ke penjagalan atau kandang.

Beberapa kali saya mengamati, memang demikianlah isu berkembang dengan lebih pesat jika dilempar ke kampus yang satu ini. Belum apa-apa sudah ribut. Sebagian besar memang terlihat bahagia dengan kabar itu. Sayangnya, kurang adanya sikap kritis utuk sekedar bertanya untuk apakah itu. Terlalu "sendiko dawuh". lah, boro-boro bertanya, ada kabar angin sepoi-sepoi saja sudah begini menyejukkan?

Dalam bahasa politik, saya lebih menyebutnya sebagai pengalihan isu. Anak muda mengatakan, Kemenkeu adalah masih PHP (pemberi harapan palsu). Menurut modul perkuliahan, ini namanya manajemen konflik. Oh, sebenarnya saya tidak belajar tentang manajemen konflik. Kira-kira saja. Lha iya, ribuan masa yang dianggurkan bisa saja berbuat kelalaian yang mengkhawatirkan Kemenkeu. Seperti yang terjadi dengan Peristiwa 28 Desember lalu yang saya sendiri penyulut konfliknya. Maka, digelindingkanlah isu yang cukup menarik. Dan, saya ikut terjebak.

Ohya, sebenarnya saya kemarin bersiap mengucapkan "ahlan wasahlan" untuk sebuah inisiasi gerakan yang direncanakan teman saya. Sebelum tulisannya di post di grup angkatan, dia sempat berdiskusi dengan beberapa teman termasuk saya (adalah suatu kehormatan saya diajak berdiskusi). Saya suka dengan yang beginian, tapi ternyata berdasarkan pertimbangan teman lain, rencana itu belum jadi dikeluarkan. Ya, ada untungnya memang tulisan itu belum jadi di post; gegap gempitanya akan langsung redam karena "isu" hari ini. Atau, sebenarnya demikian jalan cerita "isu" ini -ada semacam kesengajaan?

Memang, dibutuhkan katalis untuk membuat masyarakat menjadi dinamis. Gejolak-gejolak itu perlu, baik secara alamiah ataupun sengaja dicipta.

Bukan ingin berprasangka buruk, tapi saya mencoba mengingatkan diri sendiri untuk kritis terhadap suatu perintah, kecuali jika perintah itu datang dari Allah dan Rosul-Nya. Semoga saja, semua ini menjadikan kita lebih baik. Aamiin.

Salam,
@elmabruri

Monday, February 11, 2013

Jika Kami Bersama, Nyalakan Tanda Bahaya

Negara sedang gonjang-ganjing. Perhatian presiden terbagi antara negara dan partai. Kalau istana diserang demonstran, bisa jadi SBY tidak tutup masa jabatan dengan "khusnul khotimah".

Beberapa partai besar diuji integritasnya dalam mewakili suara rakyat. Misalkan saja, jutaan umat militan PKS dikerahkan ke istana untuk ikut menggoyangkan kursi presiden, wah...sejarah ini. Entah apa alasannya, partai ini bisa saja mengambil gerakan ini, mungkin masih sebagai bagian dari persangkaan konspirasi kemarin.

Nah, meski kecil, seribuan calon birokrat yang dianggurkan Kemenkeu pun bisa turut memberi efek geli pada tubuh birokrasi. Paling tidak, para menteri jadi panas kupingnya.

Sayangnya, seorang pengangguran terdidik harus membungkam mulutnya ketika menyuarakan tanda tanyanya. Dan, mereka yang membungkam adalah tema-teman sendiri.

Sayangnya lagi, lebih banyak pemuda yang akan merayakan Valentine dan sama sekali tidak peduli dengan urusan negara. Ya sudahlah....

Salam,
@elmabruri
di Masjid Agung Kebumen

Sunday, February 10, 2013

Desain Sederhana untuk Rumah Sederhana: Bait As Salam

Ketika ditanya: liburan ngapain saja? Terus terang saya bingung menjawabnya. Empat bulan telah habis, tapi tak ada 'sesuatu' yang saya kerjakan. Barangkali karena tidak ada hal pasti dan tetap yang saya kerjakan sebagai rutinitas. Sedikit banyak, inilah hasil pekerjaan saya: desain rumah.

Ini bukan kali pertama saya mencorat-coret kertas untuk membuat denah rumah, entah itu untuk sendiri di masa depan atau hanya untuk 'mengisi' waktu. Nah, yang akan saya publish di sini adalah salah satu dari sekian denah yang saya selesaikan secara lengkap. Kebanyakan hanya sampai pada denah 2 dimensinya saja.

This is it: Bait As Salam. Bukan Bait Al Jauza, karena tak ada raksasa di sini, dan Betelgeuse terlalu tua dan renta untuk dijadikan nama sebuah harapan.
Perspektif dari Tenggara

Tuesday, February 5, 2013

Tanabata (A Star Festival Held in Summer)

Mungkin sudah banyak yang berpikir bahwa satu orang saja penulis STuMK tidaklah cukup. Ini bukan propaganda dan saya tidak memprovokasi. Hanya saja, selamat memasuki usia bulan kelima sebagai pengangguran terselubung, bagi kawan-kawan yang menjalankannya.

Tapi kali ini saya sedang tidak ingin membicarakan (baca: mengritik) pemerintah. Dipergunjingkan pun, para pejabat tetap buncit perutnya. Eh, jangan salah lho ya. Masalah perut buncit ini saya hanya mendendangkan lirik lagu Sheila on 7: "perut buncitmu adalah kurusnya bayi mereka". Mungkin para pejabat tidak suka mendengar lagu-lagu band asal Jogja ini, maka saya menuliskannya di sini. Yah, meski tak ada pejabat yang membaca blog saya ini. Eh, siapa tahu kalian yang hendak jadi pejabat kala dewasa nanti menjadi malu bila perut mulai membuncit.

Lalu saya bercermin. Saya ini calon birokrat kan?

Sudahlah. Saya mau menulis tentang langit, bintang, dan malam saja. Meski tidak punya wewenang ilmiah menulis tentang astronomi, saya nekat saja. Siapa yang berani melarang saya menulis di Taman Inspirasi?

Sebab, saya ingin menjadi bagian dari kegiatan memasyarakatkan astronomi, mempopulerkan astronomi kepada masyarakat Indonesia. Barangkali memang belum ada langkah nyata yang saya lakukan, tapi mari kita mulai dengan kata-kata.

Sebab, setengah dari umur manusia adalah malam. Di sana langit membentangkan kitabnya. Tampaklah 6000-an bintang yang kasat oleh mata telanjang. Bukankah bintang memiliki tiga fungsi utama: menunjukkan arah, melempari setan, dan menghiasi langit?

Malam ini, rasi bintang yang akan mengangkangi langit pada jam 9 malam adalah Orion the Great Hunter. Kamu akan melihat 3 bintang sejajar di dalam suatu trapesium. Tiga bintang itu disebut sebagai sabuk Orion. Orang Jawa menyebutnya lintang waluku (Indonesia: rasi belantik). Yang paling redup dari ketiganya adalah Mintaka dan ia berada di equator langit. Dari sana kawan bisa menjabarkan lagi sebuah informasi. Jika pada saat itu kamu berada tepat di bawah Mintaka, tempat tinggalmu pasti berada di sekitar khatulistiwa (pulau Jawa masih termasuk lah..). Seandainya kamu berada di tengah hutan belantara tanpa kompas, tanpa smartphone, kamu segera tahu 4 arah utama: barat-timur-utara-selatan. (ah, tentu saja. Melihat sembarang bintang pun, selama ia berada di sekitar ekuator langit, kita tahu barat dan timur, lalu utara dan selatan).

Namun sayang, Januari adalah hujan sehari-hari. Malam ini hujan turun. Langit bagai rambutmu yang baru di-creambath. "Oh, nggak kok," katamu, "cuma pakai sampo." Iya, langit bagai rambut panjangmu yang hitam lurus tanpa ketombe. Karena, bintang-bintang menghilang begitu kamu membilas rambutmu.

Oh ya. Hati-hati. Hujan deras di malam gelap bisa membuatmu demikian berpuisi. Jauhkan gadget dari tanganmu, sebab jari-jarimu pasti ingin menari. Lalu jadilah kata-kata supergombal. Dan, pastinya kau ingin membaginya lewat twitter dan FB.

Mending tidur saja. Ritme suara hujan di genting adalah nyanyian suka cita. Gemuruh guntur, sesekali, hanyalah pertanda bahwa: jangan khawatir, hujan akan menemani tidurmu sampai habis. Rumahmu bukan di Jakarta.

Juga, tak ada bintang-bintang yang kau tunggu. Seindah apapun konstelasi langit Januari: Canis Mayoris, Canis Minoris, Orion, Taurus. Kamu tahu, itu artinya ada Sirius, Bait Al Jauza, Rigel, Bellatrix, Procyon, Mintaka, Alnilam, Alnitak, Aldebaran, Pleiades, dan sederet nama besar tokoh perlangitan (meski mereka tertutup mendung). Itu tak menganggu tidurmu. Sebab, yang kau tunggu adalah Hikoboshi* dan Orihime* yang akan berpentas di musim panas semester depan.

Tapi, omong-omong, saya baru saja mengunggah salam, rindu, dan doa ke langit malam. Dengan begitu, hujan tak pernah jatuh sendiri, ada senyawa rindu dalam setiap butir air yang bertamu ke jendelamu.

Aku tak perlu tahu di mana rumahmu, karena hujan tak perlu alamat untuk mengirimkan rindu.

Salam damai dari Taman Inspirasi,
@elmabruri

PS:

*)Hikoboshi symbolizes the star Altair, while Orihime is the star Vega. In mythology, the two represent a pair of lovers who can only meet on Tanabata (a star festival held in Summer).

Di Bawah Langit Januari

Mengawali tahun 2013, umurku yang ke-22 telah genap. Bisa dibilang dengan mudah, tahun ini adalah umurku yang ke-23 karena aku lahir di sepuluh hari pertama bulan terawal tahun 1991.

Tidak. Bukan aku ingin merayakan hari ulang tahun, atau semacamnya. Tapi, yang namanya tanggal lahir adalah identitas nonfisik seseorang. Dalam setiap tanda pengenal, biodata, catatan administratif, tanggal lahir adalah unsur dasar identifikasi seseorang, setelah nama. Jadi, sedikit banyak, tanggal lahir adalah istimewa.

Aku sengaja menyembunyikan tanggal lahir di FB, agar tak ada teman yang mendapatkan notifikasi. Akhir-akhir ini, keramaian bukan suasana yang kuinginkan. Tapi, terima kasih buat teman-teman dan saudara yang mengirim doa buat saya baik melalui telepon, SMS, atau mention di TL. Karena memang, 11 Januari adalah tanggal yang seharusnya mudah diingat (atau hanya aku yang merasa? Haha). Mungkin juga hanya Gigi (Arman Maulana dan Dewi Gita, sebenarnya) dan Indosiar yang begitu mengistimewakan 11 Januari. Tak pentinglah itu.

Dua tahun ke depan, pada umurku yang ke-23 ini dan ke-24, aku merencanakan untuk lebih peduli pada diri sendiri. Maksudku, membuang jauh-jauh pikiran yang belum saatnya atau tak perlu. Pikiran yang belum saatnya adalah menikah (salah satunya, mungkin) dan pikiran yang tak perlu adalah tentang wanita (haha, sama saja). Kembali pada rencana awal, menikah nanti saja di umur yang ke-25 (soal target ini kan rencana, realisasi ya tergantung Yang Maha Menentukan; bisa lebih cepat, tapi semoga tidak lebih lambat). Lagian, mbakyu juga belum menikah (kapan mbakyu? hehe. Mungkin akhir 2014, sesaat setelah selesai S2. Tapi, lebih cepat insyaAllah lebih baik lhoo xp).

Jadi, dua tahun ini aku ingin fokus pada diri sendiri. Bukan berarti egois. Maksud saya memikirkan diri sendiri adalah memperbaiki diri (insyaAllah, harus selalu). InsyaAllah akhir tahun ini sudah menjadi kuli birokrasi (dalam artian sudah magang). Kalau ada lembur, ambil lembur. Tidak usah tergiur jalan-jalan meski sudah punya gaji. Investasikan saja. Tabung juga. Produktif menulis. Kejar setoran buat 2014: menghajikan kedua orang tua (Aamiin).

Oh ya, soal menjadi kuli birokrasi ini perlu mendapat paragraf tersendiri. Nasibku masih tergantung pemerintah. Leherku seperti telah ditali kekang. Sampai saat ini, kabar penempatan masih misteri. Tak tahulah aku mau ditempatkan di mana. Hanya ada 2 kemungkinan: di ibu kota atau di luar ibu kota. Nah, untuk menyusun rencana jangka panjang, tentu harus diketahui dulu di manakah aku akan ditempatkan. Meski, rasa-rasanya tempat itu begitu familiar (perasaan dan harapan). Tapi tetap saja, ini tidak bisa dijadikan pijakan untuk menentukan rencana-rencana. Lha iya, misalkan ditempatkan di ibu kota (berarti Jakarta dan dalam artian kantor yang hanya ada di Jakarta, bila tidak pindah ibu kota :D), tentunya selama hidup sebagai PNS aku akan berada di Jakarta. Termasuk urusan rumah dan keluarga. Nah, jika penempatan di daerah luar ibu kota, maka hidup nomaden mungkin dijalani (selama menjadi PNS tentu saja). Urusan berumah tangga dan memiliki rumah menjadi berbeda, terutama seandainya ditempatkan di daerah luar pulau Jawa.

Dan, ternyata ada satu perhatian khusus lagi soal penempatan. Apakah di instansi Kemenkeu atau bukan (BPK/BPKP). FYI: Kementerian Keuangan sudah-sedang membahas peraturan formal tentang larangan menikah sesama PNS Kemenkeu, seperti yang telah diterapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Belum tahu sih isi detail peraturan itu. Tetap saja ini berpengaruh pada sebaran dan kemungkinan-kemungkinan atas berkorespondensinya manusia dalam ikatan suci (halah). Nah, tentunya kalau penempatan di BPK/BPKP, sudah pasti lolos dari jebakan batman itu kan? Hehe.

Tahun 2013 ini pun aku punya program berkelanjutan yang insyaAllah baik jika terlaksana. Apa itu? Nantilah di bahas di blogpost selanjutnya. Aku tidak ingin koar sebelum itu menjadi fakta.

Menengok ke belakang, sebenarnya banyak kesempatan baik yang saya terima. Hanya saja saya kurang maksimal mengusahakannya. Banyak hal kesia-siaan yang menjadi bagian dari diorama kehidupanku. Banyak noda di sana-sini. Catatan buruk yang tercatat di BoA maupun di catatan amal yang sesungguhnya.

Bagaimanapun, masa lalu adalah fakta. Untuk masa kini dan masa depan, aku berharap termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung, yaitu orang-orang yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin.

Mohon doa ya teman-teman....

Umur adalah kesempatan yang terpenggal-penggal dalam satu perputaran bumi pada matahari. Dan tahun hanyalah perulangan hari. Tapi, ketika semua terlewati, tak ada satu pun kembali.

Di bawah langit januari,
aku sendiri berteman sepi
Januari, hujan sehari-hari
Bukan dingin yang kutakuti
Tapi anginlah yang mengetuk hati
bertanya: apa kabar Abdullah Mabruri?

Salam damai dari Taman Inspirasi, di bawah langit Januari yang menarik hati,
@elmabruri

Sunday, February 3, 2013

Trust Me, I'm STANer: Berkuliah di Kampus Plat Merah


Teman, saya pernah menulis artikel "Campus Undercover" di majalah kampus. Secara teori, tulisan kritis terhadap kampus itu hanya dikonsumsi oleh pihak internal civitas akademika STAN. Di sini, sekarang, saya ingin memberikan beberapa pandangan terhadap almamater saya yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan bagi adik-adik yang sangat berminat berkuliah di kampus kedinasan ini.

Sebab, saya masih sering mendengar, ketika orang tahu saya pernah kuliah di mana, orang-orang terdekat mereka akan direkomendasikan (sedikit disuruh) untuk berkuliah di STAN juga. Pada satu sisi, saya khawatir dengan "pengarahan masa depan seseorang oleh orang lain". Pada sisi lain, saya menghargai pengetahuan dan harapan orang dengan berkuliah di STAN atau PTK lain.

Trust Me, I'm STANer: Berkuliah di Kampus Plat Merah


Teman, saya pernah menulis artikel "Campus Undercover" di majalah kampus. Secara teori, tulisan kritis terhadap kampus itu hanya dikonsumsi oleh pihak internal civitas akademika STAN. Di sini, sekarang, saya ingin memberikan beberapa pandangan terhadap almamater saya yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan bagi adik-adik yang sangat berminat berkuliah di kampus kedinasan ini.

Sebab, saya masih sering mendengar, ketika orang tahu saya pernah kuliah di mana, orang-orang terdekat mereka akan direkomendasikan (sedikit disuruh) untuk berkuliah di STAN juga. Pada satu sisi, saya khawatir dengan "pengarahan masa depan seseorang oleh orang lain". Pada sisi lain, saya menghargai pengetahuan dan harapan orang dengan berkuliah di STAN atau PTK lain.

Trust Me, I'm STANer: Berkuliah di Kampus Plat Merah


Teman, saya pernah menulis artikel "Campus Undercover" di majalah kampus. Secara teori, tulisan kritis terhadap kampus itu hanya dikonsumsi oleh pihak internal civitas akademika STAN. Di sini, sekarang, saya ingin memberikan beberapa pandangan terhadap almamater saya yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan bagi adik-adik yang sangat berminat berkuliah di kampus kedinasan ini.

Sebab, saya masih sering mendengar, ketika orang tahu saya pernah kuliah di mana, orang-orang terdekat mereka akan direkomendasikan (sedikit disuruh) untuk berkuliah di STAN juga. Pada satu sisi, saya khawatir dengan "pengarahan masa depan seseorang oleh orang lain". Pada sisi lain, saya menghargai pengetahuan dan harapan orang dengan berkuliah di STAN atau PTK lain.

Trust Me, I'm STANer: Berkuliah di Kampus Plat Merah


Teman, saya pernah menulis artikel "Campus Undercover" di majalah kampus. Secara teori, tulisan kritis terhadap kampus itu hanya dikonsumsi oleh pihak internal civitas akademika STAN. Di sini, sekarang, saya ingin memberikan beberapa pandangan terhadap almamater saya yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan bagi adik-adik yang sangat berminat berkuliah di kampus kedinasan ini.

Sebab, saya masih sering mendengar, ketika orang tahu saya pernah kuliah di mana, orang-orang terdekat mereka akan direkomendasikan (sedikit disuruh) untuk berkuliah di STAN juga. Pada satu sisi, saya khawatir dengan "pengarahan masa depan seseorang oleh orang lain". Pada sisi lain, saya menghargai pengetahuan dan harapan orang dengan berkuliah di STAN atau PTK lain.

Trust Me, I'm STANer: Berkuliah di Kampus Plat Merah


Teman, saya pernah menulis artikel "Campus Undercover" di majalah kampus. Secara teori, tulisan kritis terhadap kampus itu hanya dikonsumsi oleh pihak internal civitas akademika STAN. Di sini, sekarang, saya ingin memberikan beberapa pandangan terhadap almamater saya yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan bagi adik-adik yang sangat berminat berkuliah di kampus kedinasan ini.

Sebab, saya masih sering mendengar, ketika orang tahu saya pernah kuliah di mana, orang-orang terdekat mereka akan direkomendasikan (sedikit disuruh) untuk berkuliah di STAN juga. Pada satu sisi, saya khawatir dengan "pengarahan masa depan seseorang oleh orang lain". Pada sisi lain, saya menghargai pengetahuan dan harapan orang dengan berkuliah di STAN atau PTK lain.