Tuesday, January 22, 2013

Carpe Diem


Ini hanya analogi. Bukan karena gila misteri. Tapi apa yang akan saya bicarakan sedang terlalu sensitif bagi beberapa orang (karena ini saya tulis di blog pribadi [Taman Inspirasi] dan dapat dibaca siapa saja seandainya terang-terangan tertulis maksudnya). Tapi saya katakan bahwa ini adalah soal keributan kecil tempo waktu dan sayalah yang menyulut koreknya untuk menyalakan lilin kecil di siang hari.

Ajaibnya ilmu statistika. Bahwa survei terhadap sampel yang random dapat dipercayai hasilnya sampai pada tingkat kebenaran 90 persen lebih (kira-kira begitu kalau saya menyebutkan angkanya). Jadi, ketika pada suatu komunitas kecil terjadi keributan, bisa saja keributan tersebut diangkat sebagai isu regional yang mencerminkan kondisi cakupan wilayah yang luas.

Nah, itu jika kita melihatnya dari sudut pandang orang ketiga serba tahu di mana posisi kita semacam Tuhan yang mempunyai mata di langit-langit bumi. Sehingga keributan kecil tadi adalah kewajaran statistika.

Mungkin masih kurang jelas. Maka, saya memperjelas. Begini. Dalam sebuah kelas, akan selalu ada orang yang berperan protagonis, antagonis, netral, dan figuran. Suatu ketika ditimpakan kepada mereka suatu permasalahan, bahwa kelas tersebut dikecualikan dari suatu kompetisi antarkelas pada liburan musim kemarau. Sementara abaikan siswa-siswa netral dan para pemain figuran karena keberadaannya hanya akan berguna pada tindakan-tindakan kuantitatif macam pemungutan suara. Mereka tidak cukup berguna untuk bermusyawarah mengambil tindakan nyata yang berkualitas.

Kaum protagonis, misalnya, akan mengambil posisi menyerang. Artinya ia akan berdiplomasi dengan pihak panitia kompetisi liburan musim kemarau. Lain hal dengan kelompok di seberangnya, mereka berkongsi untuk melakukan gebrakan dengan aksi mogok dan agak tidak setuju dengan cara halus macam diplomasi empat mata.

Dan, tak dinyana tak diduga, seseorang yang tak diketahui entah protagonis, antagonis, netral, atau figuran malah berteriak-teriak di lapangan ketika upacara pembukaan kompetisi liburan musim keramau, mengabarkan pada dunia bahwa kelasnya tidak diikutsertakan dalam kompetisi.

Jika kita melihat secara subjektif (pelaku), kita boleh menganggap satu orang itu gila (dalam artian "crazy", bukan "mad"). Secara terang-terangan ia telah melakukan perlawanan, menggugat, atau mengibarkan bendera perang. Dan, kita sah-sah saja mengatakan bahwa ada yang tidak beres dengan kepribadiannya (bukan kejiwaannya).

Namun, tentu tidak bijak jika kita melihat itu hanya sebatas sebagai peristiwa indiviual-personal. Jika kita melihat dari sudut pandang orang ketiga di luar cerita dan serba tahu, lain hasilnya. Tidak lain, itu berarti bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak berjalan semestinya pada suatu himpunan/komunitas sehingga secara alamiah memunculkan gerakan reaktif yang di luar kebiasaan, bahkan (seperti yang tadi kita bilang) gila.

You get me?

Namun, kalau kita tidak ingin dicap gila dan tidak pula memberikan perubahan berarti, tetaplah di zona nyaman. Bukankah berada di tengah-tengah jalan lebih selamat daripada di pinggir jalan, seandainya jalan ini membentang di antara dua jurang? Dan memang, mereka yang selamat adalah mereka yang di tengah-tengah, bukan setengah-setengah. Maka, carpe diem. Diam itu emas!

Terima kasih.
Salam dariku,

@elmabruri (I'm now available on Twitter!)

No comments:

Post a Comment