Saturday, January 12, 2013

Kembali ke Sekolah


Kembali ke sekolah: membicarakan lagi (sedikit tentang) astronomi dengan sang sinuhun muda astronomi Kebumen (siapa lagi kalau bukan Mba Sulis) dan adik-adik SMA khususnya Science Club bidang Astronomi. Mungkin iya, sedikit banyak ini tentang masa lalu.

Pada masa lalu saya pernah mengatakan, ketika ditanya soal keberlanjutan di dunia astronomi, bahwa astronomi hanyalah sekedar mampir saja. Artinya, saya tidak akan berkecimpung di dunia astronomi baik dalam rangka menuntut ilmu maupun pekerjaan. Cukup astronomi sebagai ilmu yang menyenangkan dan hiburan yang menarik hati, maka baik adanya.


Dan saya lebih memilih STAN. Nah, pada awal tahun kedua saya di kampus plat merah itu, saya pernah mengatakan, "Hal yang membuat saya bertahan di STAN adalah karena adanya IMAN (Ikatan Mahasiswa Nahdliyyin)." Artinya, saya mulai kecewa dengan STAN dan sempat terpikir untuk keluar dari STAN. Namun, keinginan itu terlalu kecil untuk menghadapi kekhawatiran saya akan keterlambatan saya menyelesaikan kuliah dan bekerja nantinya.

[Tentang IMAN, sebenarnya saya sendiri tak ingin mendefinisikan diri dalam kotak-kotak macam itu. Niat awal bergabungnya saya dengan IMAN karena ingin melanjutkan mengaji kitab-kitab kuning ala pesantren. Sampai sekarang pun saya tetap berpendirian kritis terhadap kelompok Muslim tradisionalis yang satu ini. Sebab bagaimanapun, selama kuliah saya tumbuh dan berkembang dengan campur tangan ke-NU-an. Dan, kritis terhadap diri dan kelompok sendiri jauh lebih baik daripada menghujat kelompok lain, merasa benar sendiri, sekaligus mengkultuskan 'para petinggi' kelompok sendiri. Yang jelas, saya mengikuti kelompok damai dan yang suka perdamaian. Saya berpikir bahwa lebih baik istiqomah mengaji bersama para guru yang sudah cocok daripada mencari dan beradaptasi di tempat yang baru.]

Waktu lulus SMA memang tidak punya idealisme yang jelas tentang tempat kuliah. Saya tidak berani mengambil spesialisasi astronomi. Jadi, saya memilih kuliah yang umum saja. Dan, itu adalah STAN (di dunia birokrasi, kamu akan tetap hidup meski tak memiliki keahlian dan minat khusus; tentunya hidup yang sekadarnya saja).

Sekarang, ketika semuanya menjadi semakin jelas, apakah saya menyesal tidak melanjutkan di astronomi dan justru memilih dunia birokrasi?

Tidak ada yang salah dengan keduanya. Dan, tidak perlu disesalkan karena keduanya merupakan bagian dari takdir. Pertama, saya bersyukur tidak "terjebak" lebih jauh di dunia astronomi. Karena, dunia astronomi yang lebih lanjut adalah lebih banyak tentang langit dan isinya daripada langit dan makna penciptaannya. Saya berpikir, astronomi yang dibutuhkan manusia adalah ilmu yang membantu manusia dalam rangka peribadatan dan pemaknaan diri terhadap penciptaan alam semesta yang pada akhirnya mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Kalau untuk memahami bagaimana perhitungan kalender, penentuan jadwal sholat harian, menentukan arah dengan rasi bintang, dan semisalnya, tidak perlulah belajar sampai 4 tahun di ITB. Asalkan konsisten mempelajari keilmuan astronomi dalam lingkup sederhana, saya merasa itu pilihan yang baik dan bijak. Dan, tanpa pengetahuan sedikit pun tentang perbintangan, pemandangan langit malam tidak lagi menjadi hiburan yang baik, tak melenakan, dan menarik hati. Tanpa astronomi, bintang-bintang di langit hanyalah tidak-titik putih yang bisa kau rangkaian mitos sesuka hatimu.

Kedua, memilih birokrasi tak berarti meleburkan diri pada keseragaman yang dapat mengaburkan potensi diri. Tidak begitu. Malah, banyak yang menemukan spesialisasi diri setelah bergabung di sekolah calon birokrat itu. Lha iya, salah satu cara untuk menemukan apa yang kita suka adalah dengan berhadapan dengan apa yang tidak kita suka, lalu berusaha lari darinya atau hidup berdampingan tanpa saling mengganggu. Seringkali memang tabiat birokrasi Indonesia menjengkelkan. Pun sekarang saya sedang menghadapi itu.

Namun, keadaan ini seharusnya menjadi tantangan bagi saya untuk tetap menjadi diri sendiri yang lebih baik dan bermanfaat (semoga). Pun saya tak bisa berbuat banyak untuk menyatakan berhenti dari dunia birokrasi -bahkan sebelum dimulai. Belum bisa.

Semua tergantung pada diri sendiri. Saya pun mulai mendefinisikan diri yang satu ini. Saya mulai tahu jalan mana yang sebaiknya saya tempuh. Tentu saja, masih perlu keyakinan, kemantapan, dan tekad untuk memulai langkah-langkah awal (bismillah).

Dan semua pasti 'kan ada hikmahnya.

Pertemuan siang-sore itu diakhiri dengan traktiran adik SMA yang kemarin mendapat medali emas OSN Astronomi 2012.

Oh ya, ngomong-ngomong soal astronomi perolimpiadean, sejak 2006 sampai dengan 2012 (7 tahun), SMAN 1 Kebumen telah menorehkan prestasi 7 medali: 6 medali OSN (2 emas, 3 perak, dan 1 perunggu) dan 1 medali perunggu internasional. Di dalam lingkup SMA, bidang astronomi adalah yang paling produktif mengirimkan wakilnya ke OSN . Heheheww..

Saya berharap adik-adik SMA tidak terbebani oleh "tradisi" ini. Nikmatilah belajar astronomi. Datang, berkompetisi, dan jadilah yang terbaik (jargon OSN).

Ingin sekali saya berbagi tentang astronomi buat adik-adik SMA, tapi kemampuan saya dalam perolimpiadean sudah terlanjur layu sebelum matang. Yah, semoga saya tetap bisa berbagi sedikit tentang astronomi, setidaknya lewat tulisan.

Salam,

@elmabruri

No comments:

Post a Comment