Saturday, January 12, 2013

Rabu Wekasan


Rabu wekasan adalah rabu terakhir yang dianggap sebagai hari sial, turunnya bala', atau sebagainya. Serangkaian ritual berlangsung pada hari ini: sholat rabu wekasan, mandi tolak bala', dan pencemplungan rajah ke sumur.

Setelah membaca penjelasan yang ada di portal online NU (sebagai golongan yang bertanggung jawab atas praktik-praktik kaum Muslim tradisionalis), saya memilih kecenderungan untuk tidak mempercayai hari sial itu. Di portal online itu pun disebutkan beberapa pendapat: ada yang menjalankan, ada yang tidak. Tapi saya melihat tidak ada urgensi dalam ritual-ritual yang khusus ada pada hari itu. Kalau untuk menolak bala', ikuti saja cara-cara yang jelas dan pasti: perbanyak sholat nafilah dan sedekah, misalnya.

Untuk soal rajah, pernah ada penelitian bahwa air yang ditiupkan kalimat-kalimat baik kepadanya memiliki kristal yang lebih baik daripada air biasa. Analog dengan ini, mungkin pencemplungan rajah ke sumur memiliki tujuan serupa, tetapi saya pun tidak melihat urgensinya harus dilakukan pada hari rabu wekasan.


Yah, rutinkan saja beribadah yang jelas dan pasti.

Lain daripada itu, saya bertanya-tanya siapa yang bertanggung jawab atas pengetahuan masyarakat akan rabu wekasan dan ritual yang menyertainya. Saya tidak tahu apakah selain muslim tradisional ada yang mempraktikkan hal ini. Namun, yang pasti perlu ada pelurusan pemahaman bagi masyarakat awam untuk mengutamakan ibadah-ibadah nafilah yang jelas (setelah ibadah wajib tentunya).


Kaum muslim tradisionalis sebenarnya mempunyai tingkat kepatuhan yang tinggi terhadap ajaran yang mereka terima. Sayangnya, tidak ada usaha pembaharuan ajaran tersebut oleh para ulama panutannya. Jaman telah berganti. Muslim masa kini bukanlah kaum yang masih baru mengenal Islam yang butuh permisivitas (sifat serba membolehkan) seperti tempo dulu ketika Islam baru masuk Indonesia yang masih didominasi hindu-budha, animisme, maupun dinamisme.

No comments:

Post a Comment