Tuesday, February 12, 2013

PHP, Pengalihan Isu, atau Manajemen Konflik?

Timses2012 mengeluarkan 'perintah' untuk mengumpulkan pas foto, data berat badan, dan data tinggi badan. Pemberitahuan itu dikeluarkan melalui akun twitter dengan HURUF KAPITAL! Tentu mengagetkan meski membawa angin segar bersamanya. Namun sayangnya tidak disertai dengan keterangan untuk apa data-data itu. Hanya saja, di akhir pemberitahuannya, timses mengatakan bahwa semakin cepat pengumpulan, semakin cepat penempatan.

Ha? How could it be?

Apa hubungannya pas foto 4X6, berat badan, dan tinggi badan dengan penempatan? Yah, mungkin ada hubungannya sekalipun dipaksakan. Tapi, timses tidak mengatakan mengapa kami harus mengumpulkan barang-barang macam itu dengan status SEGERA dan mendadak.

Melakukan sesuatu tanpa mengetahui kenapa harus melakukan sesuatu itu adalah seperti kuda yang dihentak tali kekangnya. Kuda itu akan berlari dan menurut saja perintah belok kanan atau kiri tanpa tahu kemana ia menuju, apakah ke penjagalan atau kandang.

Beberapa kali saya mengamati, memang demikianlah isu berkembang dengan lebih pesat jika dilempar ke kampus yang satu ini. Belum apa-apa sudah ribut. Sebagian besar memang terlihat bahagia dengan kabar itu. Sayangnya, kurang adanya sikap kritis utuk sekedar bertanya untuk apakah itu. Terlalu "sendiko dawuh". lah, boro-boro bertanya, ada kabar angin sepoi-sepoi saja sudah begini menyejukkan?

Dalam bahasa politik, saya lebih menyebutnya sebagai pengalihan isu. Anak muda mengatakan, Kemenkeu adalah masih PHP (pemberi harapan palsu). Menurut modul perkuliahan, ini namanya manajemen konflik. Oh, sebenarnya saya tidak belajar tentang manajemen konflik. Kira-kira saja. Lha iya, ribuan masa yang dianggurkan bisa saja berbuat kelalaian yang mengkhawatirkan Kemenkeu. Seperti yang terjadi dengan Peristiwa 28 Desember lalu yang saya sendiri penyulut konfliknya. Maka, digelindingkanlah isu yang cukup menarik. Dan, saya ikut terjebak.

Ohya, sebenarnya saya kemarin bersiap mengucapkan "ahlan wasahlan" untuk sebuah inisiasi gerakan yang direncanakan teman saya. Sebelum tulisannya di post di grup angkatan, dia sempat berdiskusi dengan beberapa teman termasuk saya (adalah suatu kehormatan saya diajak berdiskusi). Saya suka dengan yang beginian, tapi ternyata berdasarkan pertimbangan teman lain, rencana itu belum jadi dikeluarkan. Ya, ada untungnya memang tulisan itu belum jadi di post; gegap gempitanya akan langsung redam karena "isu" hari ini. Atau, sebenarnya demikian jalan cerita "isu" ini -ada semacam kesengajaan?

Memang, dibutuhkan katalis untuk membuat masyarakat menjadi dinamis. Gejolak-gejolak itu perlu, baik secara alamiah ataupun sengaja dicipta.

Bukan ingin berprasangka buruk, tapi saya mencoba mengingatkan diri sendiri untuk kritis terhadap suatu perintah, kecuali jika perintah itu datang dari Allah dan Rosul-Nya. Semoga saja, semua ini menjadikan kita lebih baik. Aamiin.

Salam,
@elmabruri

Monday, February 11, 2013

Jika Kami Bersama, Nyalakan Tanda Bahaya

Negara sedang gonjang-ganjing. Perhatian presiden terbagi antara negara dan partai. Kalau istana diserang demonstran, bisa jadi SBY tidak tutup masa jabatan dengan "khusnul khotimah".

Beberapa partai besar diuji integritasnya dalam mewakili suara rakyat. Misalkan saja, jutaan umat militan PKS dikerahkan ke istana untuk ikut menggoyangkan kursi presiden, wah...sejarah ini. Entah apa alasannya, partai ini bisa saja mengambil gerakan ini, mungkin masih sebagai bagian dari persangkaan konspirasi kemarin.

Nah, meski kecil, seribuan calon birokrat yang dianggurkan Kemenkeu pun bisa turut memberi efek geli pada tubuh birokrasi. Paling tidak, para menteri jadi panas kupingnya.

Sayangnya, seorang pengangguran terdidik harus membungkam mulutnya ketika menyuarakan tanda tanyanya. Dan, mereka yang membungkam adalah tema-teman sendiri.

Sayangnya lagi, lebih banyak pemuda yang akan merayakan Valentine dan sama sekali tidak peduli dengan urusan negara. Ya sudahlah....

Salam,
@elmabruri
di Masjid Agung Kebumen

Sunday, February 10, 2013

Desain Sederhana untuk Rumah Sederhana: Bait As Salam

Ketika ditanya: liburan ngapain saja? Terus terang saya bingung menjawabnya. Empat bulan telah habis, tapi tak ada 'sesuatu' yang saya kerjakan. Barangkali karena tidak ada hal pasti dan tetap yang saya kerjakan sebagai rutinitas. Sedikit banyak, inilah hasil pekerjaan saya: desain rumah.

Ini bukan kali pertama saya mencorat-coret kertas untuk membuat denah rumah, entah itu untuk sendiri di masa depan atau hanya untuk 'mengisi' waktu. Nah, yang akan saya publish di sini adalah salah satu dari sekian denah yang saya selesaikan secara lengkap. Kebanyakan hanya sampai pada denah 2 dimensinya saja.

This is it: Bait As Salam. Bukan Bait Al Jauza, karena tak ada raksasa di sini, dan Betelgeuse terlalu tua dan renta untuk dijadikan nama sebuah harapan.
Perspektif dari Tenggara

Tuesday, February 5, 2013

Tanabata (A Star Festival Held in Summer)

Mungkin sudah banyak yang berpikir bahwa satu orang saja penulis STuMK tidaklah cukup. Ini bukan propaganda dan saya tidak memprovokasi. Hanya saja, selamat memasuki usia bulan kelima sebagai pengangguran terselubung, bagi kawan-kawan yang menjalankannya.

Tapi kali ini saya sedang tidak ingin membicarakan (baca: mengritik) pemerintah. Dipergunjingkan pun, para pejabat tetap buncit perutnya. Eh, jangan salah lho ya. Masalah perut buncit ini saya hanya mendendangkan lirik lagu Sheila on 7: "perut buncitmu adalah kurusnya bayi mereka". Mungkin para pejabat tidak suka mendengar lagu-lagu band asal Jogja ini, maka saya menuliskannya di sini. Yah, meski tak ada pejabat yang membaca blog saya ini. Eh, siapa tahu kalian yang hendak jadi pejabat kala dewasa nanti menjadi malu bila perut mulai membuncit.

Lalu saya bercermin. Saya ini calon birokrat kan?

Sudahlah. Saya mau menulis tentang langit, bintang, dan malam saja. Meski tidak punya wewenang ilmiah menulis tentang astronomi, saya nekat saja. Siapa yang berani melarang saya menulis di Taman Inspirasi?

Sebab, saya ingin menjadi bagian dari kegiatan memasyarakatkan astronomi, mempopulerkan astronomi kepada masyarakat Indonesia. Barangkali memang belum ada langkah nyata yang saya lakukan, tapi mari kita mulai dengan kata-kata.

Sebab, setengah dari umur manusia adalah malam. Di sana langit membentangkan kitabnya. Tampaklah 6000-an bintang yang kasat oleh mata telanjang. Bukankah bintang memiliki tiga fungsi utama: menunjukkan arah, melempari setan, dan menghiasi langit?

Malam ini, rasi bintang yang akan mengangkangi langit pada jam 9 malam adalah Orion the Great Hunter. Kamu akan melihat 3 bintang sejajar di dalam suatu trapesium. Tiga bintang itu disebut sebagai sabuk Orion. Orang Jawa menyebutnya lintang waluku (Indonesia: rasi belantik). Yang paling redup dari ketiganya adalah Mintaka dan ia berada di equator langit. Dari sana kawan bisa menjabarkan lagi sebuah informasi. Jika pada saat itu kamu berada tepat di bawah Mintaka, tempat tinggalmu pasti berada di sekitar khatulistiwa (pulau Jawa masih termasuk lah..). Seandainya kamu berada di tengah hutan belantara tanpa kompas, tanpa smartphone, kamu segera tahu 4 arah utama: barat-timur-utara-selatan. (ah, tentu saja. Melihat sembarang bintang pun, selama ia berada di sekitar ekuator langit, kita tahu barat dan timur, lalu utara dan selatan).

Namun sayang, Januari adalah hujan sehari-hari. Malam ini hujan turun. Langit bagai rambutmu yang baru di-creambath. "Oh, nggak kok," katamu, "cuma pakai sampo." Iya, langit bagai rambut panjangmu yang hitam lurus tanpa ketombe. Karena, bintang-bintang menghilang begitu kamu membilas rambutmu.

Oh ya. Hati-hati. Hujan deras di malam gelap bisa membuatmu demikian berpuisi. Jauhkan gadget dari tanganmu, sebab jari-jarimu pasti ingin menari. Lalu jadilah kata-kata supergombal. Dan, pastinya kau ingin membaginya lewat twitter dan FB.

Mending tidur saja. Ritme suara hujan di genting adalah nyanyian suka cita. Gemuruh guntur, sesekali, hanyalah pertanda bahwa: jangan khawatir, hujan akan menemani tidurmu sampai habis. Rumahmu bukan di Jakarta.

Juga, tak ada bintang-bintang yang kau tunggu. Seindah apapun konstelasi langit Januari: Canis Mayoris, Canis Minoris, Orion, Taurus. Kamu tahu, itu artinya ada Sirius, Bait Al Jauza, Rigel, Bellatrix, Procyon, Mintaka, Alnilam, Alnitak, Aldebaran, Pleiades, dan sederet nama besar tokoh perlangitan (meski mereka tertutup mendung). Itu tak menganggu tidurmu. Sebab, yang kau tunggu adalah Hikoboshi* dan Orihime* yang akan berpentas di musim panas semester depan.

Tapi, omong-omong, saya baru saja mengunggah salam, rindu, dan doa ke langit malam. Dengan begitu, hujan tak pernah jatuh sendiri, ada senyawa rindu dalam setiap butir air yang bertamu ke jendelamu.

Aku tak perlu tahu di mana rumahmu, karena hujan tak perlu alamat untuk mengirimkan rindu.

Salam damai dari Taman Inspirasi,
@elmabruri

PS:

*)Hikoboshi symbolizes the star Altair, while Orihime is the star Vega. In mythology, the two represent a pair of lovers who can only meet on Tanabata (a star festival held in Summer).

Di Bawah Langit Januari

Mengawali tahun 2013, umurku yang ke-22 telah genap. Bisa dibilang dengan mudah, tahun ini adalah umurku yang ke-23 karena aku lahir di sepuluh hari pertama bulan terawal tahun 1991.

Tidak. Bukan aku ingin merayakan hari ulang tahun, atau semacamnya. Tapi, yang namanya tanggal lahir adalah identitas nonfisik seseorang. Dalam setiap tanda pengenal, biodata, catatan administratif, tanggal lahir adalah unsur dasar identifikasi seseorang, setelah nama. Jadi, sedikit banyak, tanggal lahir adalah istimewa.

Aku sengaja menyembunyikan tanggal lahir di FB, agar tak ada teman yang mendapatkan notifikasi. Akhir-akhir ini, keramaian bukan suasana yang kuinginkan. Tapi, terima kasih buat teman-teman dan saudara yang mengirim doa buat saya baik melalui telepon, SMS, atau mention di TL. Karena memang, 11 Januari adalah tanggal yang seharusnya mudah diingat (atau hanya aku yang merasa? Haha). Mungkin juga hanya Gigi (Arman Maulana dan Dewi Gita, sebenarnya) dan Indosiar yang begitu mengistimewakan 11 Januari. Tak pentinglah itu.

Dua tahun ke depan, pada umurku yang ke-23 ini dan ke-24, aku merencanakan untuk lebih peduli pada diri sendiri. Maksudku, membuang jauh-jauh pikiran yang belum saatnya atau tak perlu. Pikiran yang belum saatnya adalah menikah (salah satunya, mungkin) dan pikiran yang tak perlu adalah tentang wanita (haha, sama saja). Kembali pada rencana awal, menikah nanti saja di umur yang ke-25 (soal target ini kan rencana, realisasi ya tergantung Yang Maha Menentukan; bisa lebih cepat, tapi semoga tidak lebih lambat). Lagian, mbakyu juga belum menikah (kapan mbakyu? hehe. Mungkin akhir 2014, sesaat setelah selesai S2. Tapi, lebih cepat insyaAllah lebih baik lhoo xp).

Jadi, dua tahun ini aku ingin fokus pada diri sendiri. Bukan berarti egois. Maksud saya memikirkan diri sendiri adalah memperbaiki diri (insyaAllah, harus selalu). InsyaAllah akhir tahun ini sudah menjadi kuli birokrasi (dalam artian sudah magang). Kalau ada lembur, ambil lembur. Tidak usah tergiur jalan-jalan meski sudah punya gaji. Investasikan saja. Tabung juga. Produktif menulis. Kejar setoran buat 2014: menghajikan kedua orang tua (Aamiin).

Oh ya, soal menjadi kuli birokrasi ini perlu mendapat paragraf tersendiri. Nasibku masih tergantung pemerintah. Leherku seperti telah ditali kekang. Sampai saat ini, kabar penempatan masih misteri. Tak tahulah aku mau ditempatkan di mana. Hanya ada 2 kemungkinan: di ibu kota atau di luar ibu kota. Nah, untuk menyusun rencana jangka panjang, tentu harus diketahui dulu di manakah aku akan ditempatkan. Meski, rasa-rasanya tempat itu begitu familiar (perasaan dan harapan). Tapi tetap saja, ini tidak bisa dijadikan pijakan untuk menentukan rencana-rencana. Lha iya, misalkan ditempatkan di ibu kota (berarti Jakarta dan dalam artian kantor yang hanya ada di Jakarta, bila tidak pindah ibu kota :D), tentunya selama hidup sebagai PNS aku akan berada di Jakarta. Termasuk urusan rumah dan keluarga. Nah, jika penempatan di daerah luar ibu kota, maka hidup nomaden mungkin dijalani (selama menjadi PNS tentu saja). Urusan berumah tangga dan memiliki rumah menjadi berbeda, terutama seandainya ditempatkan di daerah luar pulau Jawa.

Dan, ternyata ada satu perhatian khusus lagi soal penempatan. Apakah di instansi Kemenkeu atau bukan (BPK/BPKP). FYI: Kementerian Keuangan sudah-sedang membahas peraturan formal tentang larangan menikah sesama PNS Kemenkeu, seperti yang telah diterapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Belum tahu sih isi detail peraturan itu. Tetap saja ini berpengaruh pada sebaran dan kemungkinan-kemungkinan atas berkorespondensinya manusia dalam ikatan suci (halah). Nah, tentunya kalau penempatan di BPK/BPKP, sudah pasti lolos dari jebakan batman itu kan? Hehe.

Tahun 2013 ini pun aku punya program berkelanjutan yang insyaAllah baik jika terlaksana. Apa itu? Nantilah di bahas di blogpost selanjutnya. Aku tidak ingin koar sebelum itu menjadi fakta.

Menengok ke belakang, sebenarnya banyak kesempatan baik yang saya terima. Hanya saja saya kurang maksimal mengusahakannya. Banyak hal kesia-siaan yang menjadi bagian dari diorama kehidupanku. Banyak noda di sana-sini. Catatan buruk yang tercatat di BoA maupun di catatan amal yang sesungguhnya.

Bagaimanapun, masa lalu adalah fakta. Untuk masa kini dan masa depan, aku berharap termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung, yaitu orang-orang yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin.

Mohon doa ya teman-teman....

Umur adalah kesempatan yang terpenggal-penggal dalam satu perputaran bumi pada matahari. Dan tahun hanyalah perulangan hari. Tapi, ketika semua terlewati, tak ada satu pun kembali.

Di bawah langit januari,
aku sendiri berteman sepi
Januari, hujan sehari-hari
Bukan dingin yang kutakuti
Tapi anginlah yang mengetuk hati
bertanya: apa kabar Abdullah Mabruri?

Salam damai dari Taman Inspirasi, di bawah langit Januari yang menarik hati,
@elmabruri

Sunday, February 3, 2013

Trust Me, I'm STANer: Berkuliah di Kampus Plat Merah


Teman, saya pernah menulis artikel "Campus Undercover" di majalah kampus. Secara teori, tulisan kritis terhadap kampus itu hanya dikonsumsi oleh pihak internal civitas akademika STAN. Di sini, sekarang, saya ingin memberikan beberapa pandangan terhadap almamater saya yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan bagi adik-adik yang sangat berminat berkuliah di kampus kedinasan ini.

Sebab, saya masih sering mendengar, ketika orang tahu saya pernah kuliah di mana, orang-orang terdekat mereka akan direkomendasikan (sedikit disuruh) untuk berkuliah di STAN juga. Pada satu sisi, saya khawatir dengan "pengarahan masa depan seseorang oleh orang lain". Pada sisi lain, saya menghargai pengetahuan dan harapan orang dengan berkuliah di STAN atau PTK lain.

Trust Me, I'm STANer: Berkuliah di Kampus Plat Merah


Teman, saya pernah menulis artikel "Campus Undercover" di majalah kampus. Secara teori, tulisan kritis terhadap kampus itu hanya dikonsumsi oleh pihak internal civitas akademika STAN. Di sini, sekarang, saya ingin memberikan beberapa pandangan terhadap almamater saya yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan bagi adik-adik yang sangat berminat berkuliah di kampus kedinasan ini.

Sebab, saya masih sering mendengar, ketika orang tahu saya pernah kuliah di mana, orang-orang terdekat mereka akan direkomendasikan (sedikit disuruh) untuk berkuliah di STAN juga. Pada satu sisi, saya khawatir dengan "pengarahan masa depan seseorang oleh orang lain". Pada sisi lain, saya menghargai pengetahuan dan harapan orang dengan berkuliah di STAN atau PTK lain.

Trust Me, I'm STANer: Berkuliah di Kampus Plat Merah


Teman, saya pernah menulis artikel "Campus Undercover" di majalah kampus. Secara teori, tulisan kritis terhadap kampus itu hanya dikonsumsi oleh pihak internal civitas akademika STAN. Di sini, sekarang, saya ingin memberikan beberapa pandangan terhadap almamater saya yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan bagi adik-adik yang sangat berminat berkuliah di kampus kedinasan ini.

Sebab, saya masih sering mendengar, ketika orang tahu saya pernah kuliah di mana, orang-orang terdekat mereka akan direkomendasikan (sedikit disuruh) untuk berkuliah di STAN juga. Pada satu sisi, saya khawatir dengan "pengarahan masa depan seseorang oleh orang lain". Pada sisi lain, saya menghargai pengetahuan dan harapan orang dengan berkuliah di STAN atau PTK lain.

Trust Me, I'm STANer: Berkuliah di Kampus Plat Merah


Teman, saya pernah menulis artikel "Campus Undercover" di majalah kampus. Secara teori, tulisan kritis terhadap kampus itu hanya dikonsumsi oleh pihak internal civitas akademika STAN. Di sini, sekarang, saya ingin memberikan beberapa pandangan terhadap almamater saya yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan bagi adik-adik yang sangat berminat berkuliah di kampus kedinasan ini.

Sebab, saya masih sering mendengar, ketika orang tahu saya pernah kuliah di mana, orang-orang terdekat mereka akan direkomendasikan (sedikit disuruh) untuk berkuliah di STAN juga. Pada satu sisi, saya khawatir dengan "pengarahan masa depan seseorang oleh orang lain". Pada sisi lain, saya menghargai pengetahuan dan harapan orang dengan berkuliah di STAN atau PTK lain.

Trust Me, I'm STANer: Berkuliah di Kampus Plat Merah


Teman, saya pernah menulis artikel "Campus Undercover" di majalah kampus. Secara teori, tulisan kritis terhadap kampus itu hanya dikonsumsi oleh pihak internal civitas akademika STAN. Di sini, sekarang, saya ingin memberikan beberapa pandangan terhadap almamater saya yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan bagi adik-adik yang sangat berminat berkuliah di kampus kedinasan ini.

Sebab, saya masih sering mendengar, ketika orang tahu saya pernah kuliah di mana, orang-orang terdekat mereka akan direkomendasikan (sedikit disuruh) untuk berkuliah di STAN juga. Pada satu sisi, saya khawatir dengan "pengarahan masa depan seseorang oleh orang lain". Pada sisi lain, saya menghargai pengetahuan dan harapan orang dengan berkuliah di STAN atau PTK lain.

Trust Me, I'm STANer: Berkuliah di Kampus Plat Merah


Teman, saya pernah menulis artikel "Campus Undercover" di majalah kampus. Secara teori, tulisan kritis terhadap kampus itu hanya dikonsumsi oleh pihak internal civitas akademika STAN. Di sini, sekarang, saya ingin memberikan beberapa pandangan terhadap almamater saya yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan bagi adik-adik yang sangat berminat berkuliah di kampus kedinasan ini.

Sebab, saya masih sering mendengar, ketika orang tahu saya pernah kuliah di mana, orang-orang terdekat mereka akan direkomendasikan (sedikit disuruh) untuk berkuliah di STAN juga. Pada satu sisi, saya khawatir dengan "pengarahan masa depan seseorang oleh orang lain". Pada sisi lain, saya menghargai pengetahuan dan harapan orang dengan berkuliah di STAN atau PTK lain.

Saturday, February 2, 2013

Totem Pro Parte

Sekian tahun saya menulis. Tak kunjung juga saya 'berkarya'. Menulis barangkali adalah bagian dari berkarya, tidak sebaliknya. Sedangkan sastra adalah bagian dari tulis-menulis. Namun orang cenderung mereduksi arti 'menulis' dengan kegiatan yang hanya berhubungan dengan sastra. Jadi, ada stereotip yang tak seimbang bahwa menulis itu susah. Padahal, menulis kan hanya menuangkan perkataan (pembicaraan) sebagai simbol-simbol untuk dibaca, bukan didengar, dan tidak harus sastrawi. Maka di sini, saya menggunakan makna 'menulis' dengan yang paling harfiah: menulis adalah berkata untuk dibaca. Benar-benar harfiah; bukan berupa suara. Menulis dalam artian tidak hanya sastra.
Nginjen langit via Zeiss