Sunday, February 10, 2013

Desain Sederhana untuk Rumah Sederhana: Bait As Salam

Ketika ditanya: liburan ngapain saja? Terus terang saya bingung menjawabnya. Empat bulan telah habis, tapi tak ada 'sesuatu' yang saya kerjakan. Barangkali karena tidak ada hal pasti dan tetap yang saya kerjakan sebagai rutinitas. Sedikit banyak, inilah hasil pekerjaan saya: desain rumah.

Ini bukan kali pertama saya mencorat-coret kertas untuk membuat denah rumah, entah itu untuk sendiri di masa depan atau hanya untuk 'mengisi' waktu. Nah, yang akan saya publish di sini adalah salah satu dari sekian denah yang saya selesaikan secara lengkap. Kebanyakan hanya sampai pada denah 2 dimensinya saja.

This is it: Bait As Salam. Bukan Bait Al Jauza, karena tak ada raksasa di sini, dan Betelgeuse terlalu tua dan renta untuk dijadikan nama sebuah harapan.
Perspektif dari Tenggara



Luas Lahan: 15m X 10m = 150m^2 (setara dengan 11 atau 12 ubin)
Luas bangunan: 88m^2 + 18m^2


 Lantai 1

#TBM/Garage
Maksud dari TBM/Garasi ini adalah ruangan tempat menyimpan koleksi buku pribadi yang diperuntukkan untuk umum dan diletakkan di garasi. Ohya, banyak penemuan besar dimulai dari garasi rumah lho... Contohnya: lampu pijar oleh Thomas A. Edison dan Apple Computer oleh duo Steve (Steve Job dan Steve Wozniak).

Rak-rak buku diposisikan menempel dinding agar tercipta ruang kosong di tengah. Kekosongan itu dapat difungsikan sebagai tempat parkir motor/sepeda, bukan mobil. Mobil, kalau suatu saat punya, cukup dibuatkan carport saja. Nah, halaman depan TBM/Garage untuk parkir pengunjung TBM.

#Ruang Tamu
TBM/Garage dan Ruang Tamu sebenarnya adalah satu ruangan. Sekat antara Ruang Tamu dan TBM/Garage bukan tembok permanen, melainkan dengan pintu geser tidak transparan a la rumah tradisional Jepang (fusuma). Ini dimaksudkan agar ada ruangan cukup luas untuk acara-acara tertentu. Jadi, tinggal dibuka lebar fusuma-nya saja.
#Ruang Tengah/Ruang Keluarga
Ruangan ini berukuran 5m X 4m yang digunakan untuk berkumpul keluarga dan makan. Agar terkesan tidak memenuhi ruangan, sebaiknya meja makan dibuat khusus untuk lesehan saja. Di sebelah timur ada rak tempat TV dan komputer beserta perangkat pendukungnya.

#Kamar Tidur
Kamar tidur utama luasnya standar, 3m X 3m. Cukup satu buah; untuk orang tua. Kamar tidur anak ada dua buah. Satu berukuran 3m X 3m yang berisi dua ranjang; satu berukuran 3m X 2m dengan satu ranjang. Rasanya memang agak sempit dua kamar khusus anak-anak ini, tapi memang itu bermanfaat agar anak-anak tidak memiliki kecenderungan untuk tinggal berlama-lama di kamar. Agar mereka banyak bermain di area ruang tengah saja.
#Dapur
Dapur yang kecil. Tapi cukup dibagi-bagi untuk memasak dan mencuci piring. Lemari dapur juga dapat ditempelkan di atasnya. Untuk "rajang-rajang" skala besar, bisa menggunakan bantuan meja makan.

#Mushola
Ini juga bisa dibilang kecil untuk sebuah tempat ibadah, berukuran 3m X 2m. Untungnya, memanjang ke barat. Meski begitu, saya menganggap ukuran dan arahnya sudah optimal untuk keluarga.

#Tangga
Kemiringan tangga memang cukup terjal, tapi ini tidak masalah karena tangga tidak diperuntukkan untuk kegiatan rutin. Berbeda jika di Lantai 2 ada kamar tidur, aktivitas naik turun tangga yang terjal tentu tidak nyaman. Tepat di bawah tangga adalah tempat wudhu.

#KM/WC
Bisa dibilang, kehadiran dua elemen penting ini masih kurang untuk sebuah rumah yang diisi mencapai 5 individu ini. Yah, katakanlah ini salah satu kekurangan dari desain ini. rata-rata rumah modern menyertakan KM/WC di dalam kamar tidur. Artinya satu KM/WC untuk satu kamar atau 1 orang. Tapi tidak masalah, namanya juga keluarga, harus penuh dengan kebersamaan kan?

Lantai 2
Luas latai dua adalah 9m X 3m. Ini adalah luas permukaan betonnya. Luas lorongnya hanya 9m X 2m. Itu karena terpotong tembok penyangga atap tumpang.

Terlihat sekilas terjadi pemborosan tempat dan sumber daya untuk membuat lantai 2 yang begitu luas tanpa fungsi yang jelas. Padahal sebenarnya, fungsinya sangat penting. Pada lantai dua itulah dibuat tembok penyangga atap tumpang. Tanpa adanya tembok penyangga, atap tumpang tak mungkin bisa dibuat. Dan, saya belum mempunyai ide lain untuk membuat atap geser tanpa kehadiran atap tumpang.

#Lorong
Hanya selebar 2 meter, lantai 2 ini akan terlihat sebagai lorong sepanjang 9 meter. Nah, lorong panjang ini bisa juga difungsikan untuk penempatan barang-barang yang jarang dipakai, atau juga sebagai tempat bersembunyi (?). Oh, bisa juga untuk tempat bermeditasi. Kalau mau tidur di situ juga boleh-boleh saja. Mungkin juga sebagai tempat menunggu antrian jika ada saudara/teman anak-anak yang ingin belajar teleskop:-)

Ketinggian lorong di bagian tengahnya adalah 2,5m kotor. Boleh dibilang ketinggian efektifnya hanya 2 meter. Jadi, rata-rata orang akan melenggang dengan mulus tanpa khawatir kepala terbentur.

#Meja
Meja ini difungsikan untuk dudukan teleskop. Tanpa ini, field of view menjadi sempit. Tinggi meja setidaknya 1 meter. Luas permukaan bisa menyesuaikan. Eh, lebih canggih lagi bila dudukan teleskop bisa diatur ketinggiannya. Lebih tinggi, lebih luas sudut pandangnya.


 
#Atap Geser
Atap geser, saya mencontek dari sebuah rumah teleskop di Tivoli Farm, Namibia. Saya ambil foto itu dari film "Under the Namibian Sky".
 
Atap geser ini panjangnya bisa disesuaikan. Tentu saja, tergantung panjang lahan yang tersisa di halaman muka. Semakin panjang teras, semakin panjang area yang dapat ditopang olehnya, semakin lebar bukaan atap gesernya.
#Alternatif Lantai 2 dan Atap
Sebenarnya bisa sih Lantai 2 hanya seluas 3m X 3m di atas ruang tamu. Alternatif ini lebih murah dari sisi biaya, tapi cukup sulit menempatkan tangganya. Bukan berarti tak bisa lho ya.. Tangga bisa ditempelkan sejajar tembok utara ruang tamu; berada di ruang tengah; pangkal tangga miring dari timur ke ujung tangga di barat (di atas pintu ruang tamu-ruang keluarga). Konsekuensinya, atap tumpang hanya digunakan di atas lantai 2 saja, atap bangunan di belakangnya biasa saja. Nah, untuk keperluan atap tumpang, luas lantai dua menjadi 3m X 2m. Di tambah meja dudukan teleskop, lantainya menjadi sempit. Itu pun memasukinya harus nunduk. Susah kan? Yah, ada harga ada rupa kan? Jer basuki mawa bea.

Alternatif atap ini dapat disiasati dengan ketinggian tembok secara keseluruhan, kecuali ruang tamu, ditambah setengah meter saja. Jadi, sekarang kita bebas memilih desain mana yang akan dipakai (kita? Guwe aja kali). Setiap pilihan ada manfaat dan biayanya.

Catatan:
Barangkali ketinggian ruangan 3m untuk trend rumah saat ini sudah terlalu pendek. Namun, pada pembuatan desain ini adalah semata-mata dibuat mudah dari sisi ukuran. Kalaupun dipaksakan benar-benar dibangun 3m, itu tidaklah masalah, karena ketinggian orang rata-rata belumlah 2 meter. Masih lega. Desain ini pun tidak saklek dalam ukuran tinggi. Hanya saja, saya menantang diri sendiri untuk membuat desain rumah pada lahan ideal (sedang) dengan bangunan sederhana di atasnya.

Tidak ada pagar buatan di sini. Hanyalah menggunakan pagar berupa tanaman teh-tehan (teh hutan) karena desain ini diasumsikan berdiri di pekarangan kampung (di kampung, pagar besi/beton terkesan angkuh dan tidak membaur dengan masyarakat).

Desain ini adalah hasil imajinasi seorang yang tak pernah belajar arsitektur. Padahal, katanya, mimpi indah seorang arsitek adalah mimpi buruk seorang insinyur sipil. Nah, apalagi kalau ini mimpi seorang bukan arsitek? Tentu akan lebih merepotkan. Saya hanya menggunakan ilmu absurd bernama "kira-kira". Tapi, saya kira ini rasional.

Dan oh, mungkin ini adalah angan-angan konyol seorang pengangguran terselubung :-)

Salam,

@elmabruri

No comments:

Post a Comment