Tuesday, February 5, 2013

Di Bawah Langit Januari

Mengawali tahun 2013, umurku yang ke-22 telah genap. Bisa dibilang dengan mudah, tahun ini adalah umurku yang ke-23 karena aku lahir di sepuluh hari pertama bulan terawal tahun 1991.

Tidak. Bukan aku ingin merayakan hari ulang tahun, atau semacamnya. Tapi, yang namanya tanggal lahir adalah identitas nonfisik seseorang. Dalam setiap tanda pengenal, biodata, catatan administratif, tanggal lahir adalah unsur dasar identifikasi seseorang, setelah nama. Jadi, sedikit banyak, tanggal lahir adalah istimewa.

Aku sengaja menyembunyikan tanggal lahir di FB, agar tak ada teman yang mendapatkan notifikasi. Akhir-akhir ini, keramaian bukan suasana yang kuinginkan. Tapi, terima kasih buat teman-teman dan saudara yang mengirim doa buat saya baik melalui telepon, SMS, atau mention di TL. Karena memang, 11 Januari adalah tanggal yang seharusnya mudah diingat (atau hanya aku yang merasa? Haha). Mungkin juga hanya Gigi (Arman Maulana dan Dewi Gita, sebenarnya) dan Indosiar yang begitu mengistimewakan 11 Januari. Tak pentinglah itu.

Dua tahun ke depan, pada umurku yang ke-23 ini dan ke-24, aku merencanakan untuk lebih peduli pada diri sendiri. Maksudku, membuang jauh-jauh pikiran yang belum saatnya atau tak perlu. Pikiran yang belum saatnya adalah menikah (salah satunya, mungkin) dan pikiran yang tak perlu adalah tentang wanita (haha, sama saja). Kembali pada rencana awal, menikah nanti saja di umur yang ke-25 (soal target ini kan rencana, realisasi ya tergantung Yang Maha Menentukan; bisa lebih cepat, tapi semoga tidak lebih lambat). Lagian, mbakyu juga belum menikah (kapan mbakyu? hehe. Mungkin akhir 2014, sesaat setelah selesai S2. Tapi, lebih cepat insyaAllah lebih baik lhoo xp).

Jadi, dua tahun ini aku ingin fokus pada diri sendiri. Bukan berarti egois. Maksud saya memikirkan diri sendiri adalah memperbaiki diri (insyaAllah, harus selalu). InsyaAllah akhir tahun ini sudah menjadi kuli birokrasi (dalam artian sudah magang). Kalau ada lembur, ambil lembur. Tidak usah tergiur jalan-jalan meski sudah punya gaji. Investasikan saja. Tabung juga. Produktif menulis. Kejar setoran buat 2014: menghajikan kedua orang tua (Aamiin).

Oh ya, soal menjadi kuli birokrasi ini perlu mendapat paragraf tersendiri. Nasibku masih tergantung pemerintah. Leherku seperti telah ditali kekang. Sampai saat ini, kabar penempatan masih misteri. Tak tahulah aku mau ditempatkan di mana. Hanya ada 2 kemungkinan: di ibu kota atau di luar ibu kota. Nah, untuk menyusun rencana jangka panjang, tentu harus diketahui dulu di manakah aku akan ditempatkan. Meski, rasa-rasanya tempat itu begitu familiar (perasaan dan harapan). Tapi tetap saja, ini tidak bisa dijadikan pijakan untuk menentukan rencana-rencana. Lha iya, misalkan ditempatkan di ibu kota (berarti Jakarta dan dalam artian kantor yang hanya ada di Jakarta, bila tidak pindah ibu kota :D), tentunya selama hidup sebagai PNS aku akan berada di Jakarta. Termasuk urusan rumah dan keluarga. Nah, jika penempatan di daerah luar ibu kota, maka hidup nomaden mungkin dijalani (selama menjadi PNS tentu saja). Urusan berumah tangga dan memiliki rumah menjadi berbeda, terutama seandainya ditempatkan di daerah luar pulau Jawa.

Dan, ternyata ada satu perhatian khusus lagi soal penempatan. Apakah di instansi Kemenkeu atau bukan (BPK/BPKP). FYI: Kementerian Keuangan sudah-sedang membahas peraturan formal tentang larangan menikah sesama PNS Kemenkeu, seperti yang telah diterapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Belum tahu sih isi detail peraturan itu. Tetap saja ini berpengaruh pada sebaran dan kemungkinan-kemungkinan atas berkorespondensinya manusia dalam ikatan suci (halah). Nah, tentunya kalau penempatan di BPK/BPKP, sudah pasti lolos dari jebakan batman itu kan? Hehe.

Tahun 2013 ini pun aku punya program berkelanjutan yang insyaAllah baik jika terlaksana. Apa itu? Nantilah di bahas di blogpost selanjutnya. Aku tidak ingin koar sebelum itu menjadi fakta.

Menengok ke belakang, sebenarnya banyak kesempatan baik yang saya terima. Hanya saja saya kurang maksimal mengusahakannya. Banyak hal kesia-siaan yang menjadi bagian dari diorama kehidupanku. Banyak noda di sana-sini. Catatan buruk yang tercatat di BoA maupun di catatan amal yang sesungguhnya.

Bagaimanapun, masa lalu adalah fakta. Untuk masa kini dan masa depan, aku berharap termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung, yaitu orang-orang yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin.

Mohon doa ya teman-teman....

Umur adalah kesempatan yang terpenggal-penggal dalam satu perputaran bumi pada matahari. Dan tahun hanyalah perulangan hari. Tapi, ketika semua terlewati, tak ada satu pun kembali.

Di bawah langit januari,
aku sendiri berteman sepi
Januari, hujan sehari-hari
Bukan dingin yang kutakuti
Tapi anginlah yang mengetuk hati
bertanya: apa kabar Abdullah Mabruri?

Salam damai dari Taman Inspirasi, di bawah langit Januari yang menarik hati,
@elmabruri

No comments:

Post a Comment