Tuesday, February 5, 2013

Tanabata (A Star Festival Held in Summer)

Mungkin sudah banyak yang berpikir bahwa satu orang saja penulis STuMK tidaklah cukup. Ini bukan propaganda dan saya tidak memprovokasi. Hanya saja, selamat memasuki usia bulan kelima sebagai pengangguran terselubung, bagi kawan-kawan yang menjalankannya.

Tapi kali ini saya sedang tidak ingin membicarakan (baca: mengritik) pemerintah. Dipergunjingkan pun, para pejabat tetap buncit perutnya. Eh, jangan salah lho ya. Masalah perut buncit ini saya hanya mendendangkan lirik lagu Sheila on 7: "perut buncitmu adalah kurusnya bayi mereka". Mungkin para pejabat tidak suka mendengar lagu-lagu band asal Jogja ini, maka saya menuliskannya di sini. Yah, meski tak ada pejabat yang membaca blog saya ini. Eh, siapa tahu kalian yang hendak jadi pejabat kala dewasa nanti menjadi malu bila perut mulai membuncit.

Lalu saya bercermin. Saya ini calon birokrat kan?

Sudahlah. Saya mau menulis tentang langit, bintang, dan malam saja. Meski tidak punya wewenang ilmiah menulis tentang astronomi, saya nekat saja. Siapa yang berani melarang saya menulis di Taman Inspirasi?

Sebab, saya ingin menjadi bagian dari kegiatan memasyarakatkan astronomi, mempopulerkan astronomi kepada masyarakat Indonesia. Barangkali memang belum ada langkah nyata yang saya lakukan, tapi mari kita mulai dengan kata-kata.

Sebab, setengah dari umur manusia adalah malam. Di sana langit membentangkan kitabnya. Tampaklah 6000-an bintang yang kasat oleh mata telanjang. Bukankah bintang memiliki tiga fungsi utama: menunjukkan arah, melempari setan, dan menghiasi langit?

Malam ini, rasi bintang yang akan mengangkangi langit pada jam 9 malam adalah Orion the Great Hunter. Kamu akan melihat 3 bintang sejajar di dalam suatu trapesium. Tiga bintang itu disebut sebagai sabuk Orion. Orang Jawa menyebutnya lintang waluku (Indonesia: rasi belantik). Yang paling redup dari ketiganya adalah Mintaka dan ia berada di equator langit. Dari sana kawan bisa menjabarkan lagi sebuah informasi. Jika pada saat itu kamu berada tepat di bawah Mintaka, tempat tinggalmu pasti berada di sekitar khatulistiwa (pulau Jawa masih termasuk lah..). Seandainya kamu berada di tengah hutan belantara tanpa kompas, tanpa smartphone, kamu segera tahu 4 arah utama: barat-timur-utara-selatan. (ah, tentu saja. Melihat sembarang bintang pun, selama ia berada di sekitar ekuator langit, kita tahu barat dan timur, lalu utara dan selatan).

Namun sayang, Januari adalah hujan sehari-hari. Malam ini hujan turun. Langit bagai rambutmu yang baru di-creambath. "Oh, nggak kok," katamu, "cuma pakai sampo." Iya, langit bagai rambut panjangmu yang hitam lurus tanpa ketombe. Karena, bintang-bintang menghilang begitu kamu membilas rambutmu.

Oh ya. Hati-hati. Hujan deras di malam gelap bisa membuatmu demikian berpuisi. Jauhkan gadget dari tanganmu, sebab jari-jarimu pasti ingin menari. Lalu jadilah kata-kata supergombal. Dan, pastinya kau ingin membaginya lewat twitter dan FB.

Mending tidur saja. Ritme suara hujan di genting adalah nyanyian suka cita. Gemuruh guntur, sesekali, hanyalah pertanda bahwa: jangan khawatir, hujan akan menemani tidurmu sampai habis. Rumahmu bukan di Jakarta.

Juga, tak ada bintang-bintang yang kau tunggu. Seindah apapun konstelasi langit Januari: Canis Mayoris, Canis Minoris, Orion, Taurus. Kamu tahu, itu artinya ada Sirius, Bait Al Jauza, Rigel, Bellatrix, Procyon, Mintaka, Alnilam, Alnitak, Aldebaran, Pleiades, dan sederet nama besar tokoh perlangitan (meski mereka tertutup mendung). Itu tak menganggu tidurmu. Sebab, yang kau tunggu adalah Hikoboshi* dan Orihime* yang akan berpentas di musim panas semester depan.

Tapi, omong-omong, saya baru saja mengunggah salam, rindu, dan doa ke langit malam. Dengan begitu, hujan tak pernah jatuh sendiri, ada senyawa rindu dalam setiap butir air yang bertamu ke jendelamu.

Aku tak perlu tahu di mana rumahmu, karena hujan tak perlu alamat untuk mengirimkan rindu.

Salam damai dari Taman Inspirasi,
@elmabruri

PS:

*)Hikoboshi symbolizes the star Altair, while Orihime is the star Vega. In mythology, the two represent a pair of lovers who can only meet on Tanabata (a star festival held in Summer).

No comments:

Post a Comment