Saturday, February 2, 2013

Totem Pro Parte

Sekian tahun saya menulis. Tak kunjung juga saya 'berkarya'. Menulis barangkali adalah bagian dari berkarya, tidak sebaliknya. Sedangkan sastra adalah bagian dari tulis-menulis. Namun orang cenderung mereduksi arti 'menulis' dengan kegiatan yang hanya berhubungan dengan sastra. Jadi, ada stereotip yang tak seimbang bahwa menulis itu susah. Padahal, menulis kan hanya menuangkan perkataan (pembicaraan) sebagai simbol-simbol untuk dibaca, bukan didengar, dan tidak harus sastrawi. Maka di sini, saya menggunakan makna 'menulis' dengan yang paling harfiah: menulis adalah berkata untuk dibaca. Benar-benar harfiah; bukan berupa suara. Menulis dalam artian tidak hanya sastra.
Nginjen langit via Zeiss

Tidak jelas apa hubungannya foto ini dengan posting ini. Hanya saja, saya sedang menyukai foto itu. Saya potong foto itu dan menjadikannya foto sampul di FB. Itu foto sungguh keren. Tidak ada persekongkolan antara saya dan si fotografer demi narsisme. Saya sedang mengintip lubang eyepiece pada Teleskop Zeiss, Observatorium Bosscha [Tidak sembarang loh orang yang boleh naik ke lantai Zeiss. Pengunjung biasa hanya boleh memandang dari jarak 3 meteran]. Sayang, saya belum sempat mengoperasikannya karena pada waktu itu langit mendung-hujan ringan sehingga kubah Zeiss pun mustahil dibuka. Oh ya, itu foto diambil pada seminggu terakhir menjelang selesainya Pelatnas 1 di Bandung, Oktober-November 2008. Sepulang dari Bandung inilah saya mulai 'menulis'. [nah, sekarang cukup ada hubungan antara foto dengan tulisan.]

Ada memang beberapa karya saya yang diakui publik. Ada juga yang pernah mendatangkan penghasilan. Tidak seberapa memang. Sangat jauh untuk membuktikan bahwa seseorang dapat hidup dari menulis.

Namun, berani-beraninya saya kini mengajakmu menulis. Mari menulis; sama-sama menulis. Saya membaca kamu; kamu membaca saya. Kita berkomunikasi dua arah kan? Dialog namanya. Sebab, melalui cara ini kita bisa berdiskusi. Cara lain, saat ini saya belum menemukan. Sebab kita haruslah menghormati keberadaan syariat maupun adat. Di Taman Inspirasi ini kau boleh membacaku kapan saja. Pun kamu boleh merespon tulisan-tulisan saya di tempat lain. InsyaAllah saya tahu, jika itu ditujukan untuk saya.

Lihatlah tagline blog ini "Mabruri Menulis: Hanya Ingin Kau Tahu". Ya, saya menulis untuk menyampaikan sesuatu agar pembaca menjadi tahu. Dari tulisan-tulisan saya, pembaca bisa mengetahui seperti apa saya. Dengannya pula saya berbagi, apa saja. Kamu adalah pembaca saya. Dan, saya beri tahukan bahwa, meski Taman Inspirasi ini adalah sebuah bangunan kata di lahan publik, tidak setiap pajangan ditujukan untuk khalayak ramai. Totem pro parte. Kadang-kadang hanya untukmu, pembaca Taman Inspirasi.

Nah, apapun masa lalu yang membuat saya menulis: mengenang teman-teman sekaligus melarikan diri dari kenangan 'Bandung, 18 Oktober', sekarang saya ada di sini. Duduk di Taman Inspirasi dan menulis, entah apapun yang tertulis. Meski itu hanya sampah. Kata seorang cendekiawan UGM, lebih baik menuliskan sampah itu di kertas (atau media lain) daripada sampah itu mencemari otak kita.

Saya bersyukur larinya ke aktivitas menulis. Karena, waktu itu saya tidak mempunyai teman dekat untuk berbagi. Dan kini saya telah 'terjebak' di dunia tulis-menulis. Tak peduli apakah entah akan menjadi apa nantinya.

Lalu sekarang, untuk apa saya menulis?

Mengambil peran apapun dalam kehidupan ini, seseorang harus menulis. Berbagi. Denganmu.

Jadi, mari kita menulis. Dan, tetaplah menulis.

Terima kasih untuk seseorang yang telah mengajak saya menulis lewat program #7HariMenulis. Silakah baca tulisannya di sini.

Taman Inspirasi, kutanamkan padanya kata-kata. Hingga ketika ia berbunga, semerbak wanginya, bersahaja warnanya, dan meneduhiku di bawahnya. Kepada bunga-bunga itu, kau dapat menikmati indah pemandangannya tanpa kau petik tangkainya.
Salam dari Taman Inspirasi,

@elmabruri

1 comment: