Sunday, February 3, 2013

Trust Me, I'm STANer: Berkuliah di Kampus Plat Merah


Teman, saya pernah menulis artikel "Campus Undercover" di majalah kampus. Secara teori, tulisan kritis terhadap kampus itu hanya dikonsumsi oleh pihak internal civitas akademika STAN. Di sini, sekarang, saya ingin memberikan beberapa pandangan terhadap almamater saya yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan bagi adik-adik yang sangat berminat berkuliah di kampus kedinasan ini.

Sebab, saya masih sering mendengar, ketika orang tahu saya pernah kuliah di mana, orang-orang terdekat mereka akan direkomendasikan (sedikit disuruh) untuk berkuliah di STAN juga. Pada satu sisi, saya khawatir dengan "pengarahan masa depan seseorang oleh orang lain". Pada sisi lain, saya menghargai pengetahuan dan harapan orang dengan berkuliah di STAN atau PTK lain.


Nah, berhubung tidak mungkin saya memaksakan pemahaman untuk "tidak perlu" kuliah di STAN, lebih baik saya menceritakan pengalaman saya (tentu sangat subjektif) berkuliah di STAN.

Pertama, saya ingin mengatakan: Janganlah kamu memilih STAN karena ini adalah kampus yang bebas biaya pendidikan dan ikatan dinas. Jangan begitu. Kalau demikian, kamu berkuliah memang tujuannya hanya mencari pekerjaan dan tujuan mencari ilmu menjadi tersisihkan. Percayalah, mereka yang mencari ilmu akan dimudahkan rizkinya. Jadi, tidak usah mencari sekolah yang gratis dengan memaksakan diri masuk ke STAN atau perguruan tinggi kedinasan (PTK) lainnya. Ikutilah kata hatimu di mana ia nyaman menuntut ilmu, termasuk konsentrasi keilmuan yang akan diambil. Di STAN hanya ada jurusan yang sangat umum, dalam artian tidak memerlukan insting khusus intelegensia, yaitu: akuntansi, perpajakan, penganggaran, piutang dan lelang, dan kepabeanan dan cukai. Semua itu, saya bilang, bisa dikuasai siapa saja tanpa perlu bakat khusus (cukup otak yang mampu saja, ditambah sedikit rajin).

Nah, apa yang saya maksud "konsentrasi keilmuan dengan insting intelegensia khusus" adalah ilmu-ilmu semacam: kimia, teknik penerbangan, elektro, astronomi, ekonomi dan bisnis, matematika, olah raga, bahasa, sastra, dll. Untuk mengetahuinya cukup mudah: seseorang dapat begitu paham dengan kimia tapi tidak dengan matematika dan sebaliknya, juga seseorang yang jago bidang sastra biasanya tidak mudah mengerti soal angka dan data. Masing-masing orang memiliki kecenderungan sendiri. Maka, pada kesempatan kedua ini, saya ingin mengatakan: temukanlah minatmu pada keilmuan yang khusus (spesialisai diri). Ada yang mengatakannya sebagai 'passion'.

Tidak usah khawatir soal biaya pendidikan. Ini adalah stereotip kacau yang diturunkan orang tua kepada anaknya. Orang tua yang tidak mengikuti gerak informasi masih beranggapan bahwa kuliah pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jadi wajar bila kebanyakan teman kuliah di STAN disebabkan oleh (berdasarkan beberapa pengakuan): mematuhi saran orang tua.

Oke, saya ralat. Memang biaya pendidikan tidak murah, tapi bisa diusahakan. Jaman sekarang, beasiswa begitu melimpah. Sejak Bidik Misi 2010 (tepat 1 tahun setelah saya lulus SMA), pemerintah benar-benar telah memperhatikan pendidikan tinggi. Perusahaan swasta pun mengalokasikan tanggung jawab sosialnya pada bantuan untuk pendidikan. Jadi, kita hanya perlu tahu di mana informasi beasiswa itu dan yakinkan pada orang tua bahwa kamu bisa meringankan beban mereka dengannya.

Saya tidak mengatakan pendidikan di STAN itu buruk. Tidak. Bukan begitu. Tapi, konsentrasi institusi pendidikan ini memang secara nyata adalah keilmuan teknis. Jadi, mahasiswa STAN memang disiapkan untuk melaksanakan pekerjaan dan bukannya menentukan kebijakan.

By the way, Sistem DO (drop out) telah memberikan efek samping tersendiri. Mahasiswa STAN sangat "output oriented". Saya tidak tahu apakah di perguruan tinggi lain demikian adanya (mendapat kiriman kabar dari seorang teman di Nanyang Technology University Singapura, mahasiswa Indonesia yang berkuliah di sana ternyata juga 'mark oriented'). Opini saya ini tidak didukung oleh data survey. Tapi, bolehlah kamu datang sendiri ke kampus ini selama musim ujian. Kamu akan tahu itu menyedihkan. Tidak sedikit mahasiswa yang belajar hanya berdasarkan kisi-kisi. Semua itu, tidak lain hanya untuk memenuhi passing grade IP atau IPK senilai 2,4 atau 2,75. Hanya angka.

Kemudian soal pekerjaan. Saya tahu ini tidak mengenakan. Tapi saya harus jujur mengatakan: saat ini saya sedang menganggur dan telah masuk ke bulan keempat (dalam artian tidak dipekerjaan di Kementerian Keuangan). Ini fakta, Teman. Jadi, kalau kamu ingin berkuliah di STAN karena jaminan pekerjaan, silahkan dipikirkan ulang. Memang, pekerjaan tetap dijanjikan adanya, tapi kita harus menunggu tanpa 'boleh' meminta. Menanyakan nasib pun tidak menambah pencerahan. Prosedur akan tetap berjalan seperti biasa (tahulah kamu kalau birokrasi selalu berjalan lambat) meski kamu merengek-rengek bertanya kepastian waktu kapan ditempatkan kerja.

Belum lagi dengan keharusan bekerja dulu sekaligus larangan untuk melanjutkan pendidikan (bukan tidak boleh sih, tapi tidak diakui ijazahnya). Jadi, kalau kamu memilih berkuliah di STAN, siap-siaplah karir pendidikanmu akan tersendat-sendat. Dan yang terbaru adalah larangan menikah sesama pegawai Kementerian Keuangan. Kamu mungkin ingin protes dengan kebijakan yang ada, nantinya jika kamu telah masuk STAN, tapi ketahuilah bahwa kamu tidak mempunyai bargaining position yang kuat. Meminjam istilah seorang penulis opini di Kompas (saya lupa nama penulisnya) 'seperti mendorong tronton mogok', jika kamu berusaha menghentak pemerintah.

Saya menuliskan ini antara kejujuran dan pengungkapan aib. Pasti akan ada pihak yang kontra dengan pendapat ini. Mungkin mereka akan mengatakan: "Kalau itu sebuah keburukan (aib), mengapa tak kau simpan saja?".

Kembali pada tujuan awal tulisan ini dibuat. Saya ingin berbagi pengalaman yang mungkin akan dipertimbangkan oleh mereka yang sangat ingin berkuliah di STAN.

Terakhir, tulisan ini tidak mungkin berimbang. Namanya juga opini pribadi. Dan, secara nyata saya mempunyai hubungan istimewa dengan STAN (karena saya alumninya). Saya memohon maaf jika ada kalimat yang tidak berkenan di hati para pembaca.

Salam,
@elmabruri

No comments:

Post a Comment