Sunday, March 24, 2013

Yamaha New Xeon RC: Sang Srikandi

"Semua mata tertuju padamu."

Rasanya ungkapan yang biasa digunakan untuk melabeli juara ajang pemilihan ratu kecantikan Indonesia ini cocok benar digunakan untuk menyambut lahirnya ratu baru motor skutik bebek dari rahim Yamaha. Betapa tidak, skubek (skuter bebek) ini menjadi andalan Yamaha demi menjawab tantangan konsumen akan motor matik serbabisa dengan menyematkan banyak keunggulan dan teknologi canngih terbaru.




Kehadiran motor matik di Indonesia tak lepas dari andil Yamaha mendatangkan Nouvo pada 2002. Tentu saja, dengan ini kita harus mengakui kehebatan Yamaha dalam membentuk opini publik bahwa motor matik tidak bisa dipandang sebelah mata dari tipe motor lainnya. Sehingga, sangat layak bagi Yamaha dinobatkan sebagai "Bapak" motor matik. Maka, ahlinya motor matik? Pasti Yamaha.

Saturday, March 16, 2013

Menyalakan Lilin di Siang Hari

Awalnya, tulisan ini akan berjudul "[Bukan] Press Release: Menyalakan Lilin di Siang Hari". Terlalu menggelitik, nanti jadi banyak pembacanya. Sebab, tulisan ini diperuntukkan bagi yang merasa biasa membaca tulisan saya tanpa di-tag. Biarlah saya menggantung selembar tulisan ini di Taman Inspirasi. Dan mari, tulisan saya yang membuat keributan kecil itu sebut dengan STuMK (tak ada lagi tulisan itu dalam kepanjangannya).

Mengapa tidak menulis catatan ini di grup tertutup atau di catatan FB?

Pertama, keributan kecil itu diketahui oleh khalayak lebih luas daripada lingkup yang merasa hanya "terkena panasnya" api lilin itu.

Kedua, teman saya di FB hanya sekitar 1370. Padahal, lulusan STAN 2012 prodi D3 saja lebih dari 1700. Jadi, banyak teman seangkatan yang tak bisa membaca tulisan ini padahal mereka terkena dampak atas tindakan saya dulu. Saya hanya perlu menuliskannya, lalu mem-publish-nya tanpa memaksa orang untuk membacanya (meski saya berharap kalian dan mereka tahu).

Mungkin ini akan terlihat sebagai pembelaan diri, ataupun rasionalisasi. Apapun itu, setidaknya menuliskan catatan ini adalah media terapi atas rasa tidak enak saya memikirkan keributan kecil itu.

Mengapa tidak melakukan diskusi dulu dengan teman-teman seangkatan?

Sistem yang ada mengharuskan sebuah aspirasi merangkak melalui jalur hieraskis (dari kaum proletar kepada kaum ningrat). Oke, saya memang tidak membicarakan tindakan saya di forum tertutup itu. Namun, saya melakukan jajak pendapat sederhana melalui status FB beberapa minggu sebelumnya. Hasilnya, selalu ada pro dan kontra.

Nah, kalau aspirasi saya adalah "publik perlu tahu masalah ini". Bagaimana aspirasi ini bisa terwujud jika menghadapi sistem demokrasi yang selalu memenangkan golongan mayoritas? Apalagi dengan penyaluran aspirasi dengan sistem hieraskis itu?

Sebelum merilis tulisan itu, saya telah berkonsultasi dengan seorang dosen STAN bukan widyaiswara. Beliau, tidak usah sebut nama, melihat bahwa hal itu (menulis surat terbuka di media online) merupakan hak siapa saja. Beliau mewanti-wanti agar dalam menulis saya tidak menunjukkan emosi berlebihan. Harus senetral mungkin. Selalu ada tiga sisi dalam setiap masalah: your side, the other side, and the truth.

Salah satu kesalahan saya adalah tidak mengkonsultasikan isi tulisan itu kepada beliau. Namun, salah seorang teman FB yang telah biasa menulis berkomentar: tulisannya "well prepared". Berarti dia memiliki penilaian yang sama dengan saya. Juga, ini cukup mewakili bahwa tulisan itu sudah memenuhi kriteria "berirama rendah". Kalau ada yang bilang tulisan itu tidak cerdas, bolehlah disebut begitu, kadang kecerdasan tidak diperlukan untuk bersopan santun.

Ada yang berpendapat bahwa ini adalah masalah internal kita, tidak ada orang luar yang berkepentingan. Lagi-lagi, saya tak bisa memaksakan pemahaman saya. Bahwa publik (dalam bahasa demokratis berarti "rakyat") berhak untuk tahu segala sesuatu yang diwakilkan kepengurusannya kepada lembaga yudikatif, eksekutif (pemerintah) dan legislatif.

Ini bukan lagi jaman geosentris, maka jangan egosentris. Egosentris dan geosentris sama-sama mempunyai pijakan yang jelas: egois alias mementingkan diri sendiri. Dan, Galileo dihukum karena mengatakan kebenaran, bahwa bumi bukanlah pusat dunia. Lho, apa hubungannya?

Kecenderungan orang memang menutupi apa-apa yang terjadi di tungku perapian rumah tangganya. Kalau itu memang aib, anggota keluarga justru wajib menutupinya. Masyarakat bukanlah stakeholders rumah tangga orang, tapi rumah tangga negara. Dan, pemerintah adalah bagian dari negara. Di negara demokratis ini, rakyat berdaulat mengetahui aib-aib di dalam rumahnya.

Dalam pandangan saya, publik perlu tahu realisasi kebijakan pemerintah terkait uang (APBN) yang mereka percayakan. Dan adalah sah-sah saja bila "orang dalam" mengabarkan ini kepada rakyat dalam bentuk ocehan burung di pagi hari. Sebab, birokrat sebenarnya adalah abdi negara, bukan abdi pemerintah.

Jadi, rakyat adalah pihak yang berkepentingan.

Namun, saya tidak bisa memaksa pemahaman orang lain tentang ini. Pun, jika didiskusikan terlebih dahulu, minoritas akan selalu kalah dalam dunia demokrasi. Golongan mayoritas secara alamiah telah menjelma menjadi kaum tiran.

Bagaimanapun, saya tetap merasa tidak enak (nah lho, biasanya orang merasa tidak enak itu karena bersalah?).

Tidak perlu meminta maaf bagi kalian yang telah mengolok-olok saya dengan perbendaharaan kata kotor yang kalian miliki. Mulutmu harimaumu. Mulutku juga harimauku.

Segala perbendaharaan kotor yang sempat sampai ke mata saya, tidak masalah bagi saya. Setiap orang mempunyai keberanian masing-masing untuk menyatakan sikap tidak suka kepada tindakan saya, meski dengan cara yang menyedihkan.

Tidak semua hal terkait peristiwa pascaterbit STuMK saya tulis di sini. Beberapa karena saya tak ingin mengompori kebakaran lain (saya menerima saja apa yang mereka katakan, meski saya tahu itu terlalu lucu; ada kusimpan saja beberapa potong informasi). Beberapa karena akhirnya informasi tersebut dirilis oleh pihak yang berwenang.

Kalem saja. Masyarakat akan belajar. Tapi saya juga tidak bisa memaksakan pemahaman bahwa tidak perlu khawatir dengan efek negatif dari tindakan ini. Maksud saya, seorang pemimpin tidak akan memecat seorang OB (office boy) karena dia mengatakan, "Maaf Pak, upil Anda kelihatan." Kalau Si OB itu dipecat? Ya berarti Si Bos sebenarnya ingin memelihara upil sebagai trademark. Biarkan saja.

Sebuah kelahiran, selalu disertai dengan darah dan tangis, Kawan. Jadi, kalau hanya melamun di pinggir sungai, pasti dia bukan Michael Phelps.

Tapi, sesuatu yang membuat saya melongo adalah pernyataan: kalau mau protes, nantilah kalau sudah turun SK; atau kalimat lain yang senada. Maka saya tahu, tindakan saya seperti menyalakan lilin di siang hari.

You see? No komen dah...

Saya seperti bintang pada fase deret utama, atau bahkan sekelas bintang katai, di kemeriahan langit nebula kepala kuda (horsehead nebula), begitu terasing dan terabaikan, yang tiba-tiba mengeluarkan cahaya terang melalui peristiwa bernama supernova. Dan, supernova adalah usaha penghabisan sebuah bola gas pijar menunjukkan dirinya secara jujur. Bahwa, supernova menguras hampir seluruh energinya.

Tahukah kamu apa yang mungkin terjadi setelah meledaknya bintang? Sebuah bintang mungkin akan menjadi bintang neutron atau lubang hitam, tergantung massanya. (oh tidak, ini hanya pengandaian yang saintifik dan keren; tapi tidak cukup relevan :D)

Sebenarnya saya ingin jadi golongan pertengahan, mereka aman. Tapi Tuhan tidak sedang bermain dadu ketika menentukan siapa manusia Bumi Indonesia yang harus menulis STuMK. Maka, ini bukan lagi masalah siapa si Penulis goblok ini. Tapi waktulah yang akan memunculkan orangnya dan akumulasi kekecewaan adalah amunisinya.

Pesan saya, kalau nanti saya ditempatkan di sudut sempit negeri timur jauh, kalian boleh tertawa sepuasnya. Tapi jangan lupa bahwa Tuhan tidak sedang bermain dadu. Nah, kalau pengangkatan kita lebih lambat lagi, artinya seorang penulis STuMK saja tidak cukup.

[Tapi sebenarnya ini aksi yang nanggung dan terlanjur saya padamkan sendiri sebelum ada kobaran kecil. Baru anget-anget tahi ayam].

Salam Satu Jiwa,
@elmabruri

NB:
Saya tidak mengizinkan seorang pun untuk mengkopi dan menyebar link posting tulisan ini.

Draf awal tulisan ini dibuat tanggal 14 Januari 2013.

Perlukah Melestarikan Budaya Leluhur?

Dulu saya berpikir bahwa kita harus melestarikan budaya nenek moyang, yang katanya luhur itu. Sebutlah misal: memahami dan mengaplikasikan aksara Jawa. Sekarang saya berpikir bahwa budaya sebagai anak kandung peradaban akan menyesuaikan masa/waktu berlakunya. Tidak ada urgensi apapun untuk mempertahankan budaya yang tidak sejalan dengan gerak zaman. Interaksi manusia akan menghasilkan kebudayaan baru. Tidak masalah dengan hilangnya suatu budaya asalkan tercipta budaya baru dengan nilai yang sama atau lebih baik.

Termasuk di dalamnya adalah kotak-kotak manusia dalam kelas-kelas fisik. Selama ini kita mengenal orang Papua (pedalaman) dengan rambut kribo dan koteka.

Selama ini kita didoktrin bahwa identitas suatu bangsa adalah sejarahnya. Sebuah bangsa yang lupa akan para pahlawannya, dianggap kehilangan jati dirinya. Ini tidak sepenuhnya benar. Di masa kini, jati diri suatu bangsa dilihat dari visinya di masa depan.

Visi di masa depan itu dibentuk oleh akal, ilmu, dan nurani. Akal adalah jalan pembuka menuju pengetahuan; ilmu akan menuntun kita pada kebijaksanaan; nurani yang datangnya dari hati -bisikan Tuhan- menjadi konfirmasi atas kebijaksanaan sang ilmu.

Dan ketahuilah bahwa yang memiliki masa depan itu hanyalah Tuhan. Maka, kehidupan ini memang menuju Tuhan. Muaranya, mau tidak mau, adalah nilai yang dianggap paling universal dari kehidupan, yaitu kemanusiaan. Sehingga klasifikasi yang paling adil untuk mengenal manusia adalah dengan melihat siapa Tuhan dari seseorang (lho, kenapa Tuhan? Ya karena manusia ini ciptaan Tuhan; lalu Tuhan dikenal dengan lingkup agama). Dengan klasifikasi agama, setiap orang akan dikenal di luar batas-batas kewilayahan (negara, kota, pulau, RW, ataupun RT), gender, suku, warna kulit, dan sebagainya. Dan tentunya, dalam melaksanakan keagaman masing-masing diterapkan prinsip "agamamu agamamu; agamaku agamaku". Setiap agama boleh bersyiar, tapi tidak boleh mengganggu agama lain, apalagi memaksa.

Tapi, bukankah hikmah dari bersuku-suku dan berbangsa-bangsa adalah menjadikan kita saling mengenal?

Ya, kita mengenal suatu bangsa dengan karakternya. Perbedaan lainnya hanyalah identitas, bukan prioritas. Seperti ketika kita mengenal seseorang dengan namanya. Maka, sebenarnya saya begitu heran ada yang rela berkorban nyawa untuk kehormatan kelompok/golongan, suku, ras, bangsa, atau bahkan negaranya. Yang saya maksudkan adalah seperti contoh ini: seseorang akan marah jika bendera negaranya diinjak-injak orang asing. Karena hal ini, seseorang bisa mati terbunuh. Sangat lucu bukan?

Bahkan, orang Palestina yang menghadang peluru tentara Israel dengan niat kemerdekaan tanah airnya tidaklah mulia. Mereka seharusnya maju perang demi mendapat kemerdekaan dalam melaksanakan agamanya. Meski, kenyamanan dalam melaksanakan agamanya tidak bisa dicapai tanpa kedaulatan wilayah Palestina dari cengkeraman Yahudi. Sangat tipis memang, tapi jelas ada batas pembedanya. Ini seperti rizki yang sudah ditetapkan, tapi kita harus tetap berusaha menjemputnya. [sama juga dengan berbuat baik dengan niat untuk balasan syurga, padahal seharusnya berbuat baik hanya karena Allah, lalu terserah kepada Allah akan membalasnya dengan apa -tapi Allah telah berjanji akan membalas kebaikan dengan syurga-].


Fakta bahwa setiap yang bernyawa akan mati -apalagi sebuah negara, suku, ras, dll pasti akan sirna- menggiring kita untuk percaya bahwa ada kehidupan setelah mati (daripada tidak percaya bahwa tidak ada kehidupan setelah mati yang artinya kehidupan di dunia ini berhenti di liang kubur, kan lebih baik percaya -berharap- ada kehidupan setelah kematian yang pintunya adalah liang kubur?)

Maka, sekali lagi. Hidup ini untuk kebaikan masa depan. Maka, tidak usah ragu untuk melepaskan apa saja yang terjadi di masa lalu yang mengganggu tercapainya masa depan. Ingat juga, masa depan adalah akhirat dan Sang Pemilik Akhirat adalah Allah swt.

Salam,
@elmabruri

Fenomena Nikah Muda Jilid #2

Telah terbukti, alumni STAN terkena 'sindrom' nikah muda, bahkan ketika pengumuman penempatan belum jelas kabarnya. Anyway, saya mengucapkan selamat berbahagia dulu, semoga selamat sampai di tujuan, menjadi keluarga SAMARA, dan keberkahan Allah atas kalian kedua mempelai. Yah, meski 3 orang seangkatan yang saya tahu telah melangsungkan akad nikah tidak saya kenal persis orangnya.

Tidak sedikit alumni STAN yang terkena virus asmara lokasi, meski 'stok' mahasiswi di kampus ini hanya menutupi 1 dari 5 laki-laki yang ada. Kelangkaan individu berjenis perempuan justru berpotensi terjadinya anggota himpunan tak berpasangan dalam korespondensi satu-satu.

Jadi, sebenarnya saya mau membahas tentang pasangan-pasangan itu, wabil khusus mereka yang menganut metode 'penjajagan' pranikah dan status ini ditampilkan kepada khalayak ramai. Baik status yang tersurat seperti "in relationship with" di FB maupun yang tersirat (berdasarkan pengakuan dan/atau tindakan).

[Tersebab saya sedih melihat teman di socmed yang sudah terang-terangan ngebet nikah, udah ada pasangan, alumni STAN keduanya #ups, tapi belum menemukan titik temu kesepakatan nikah. Mohon maafkan sahaya, jikalau tulisan ini cukup kasar.]

Saya akan mengkategorikannya ke dalam dua kondisi: 1) mereka yang telah sepakat untuk menjalin hubungan pernikahan tapi belum berani dan 2) mereka yang telah merasa cocok tapi belum bersepakat untuk memulai ikatan resminya (tentu saja, belum berani juga).

Golongan pertama, biasanya terkendala masalah biaya. Entah itu maskawin, walimah, atau nafkah. Serius hanya ini masalahnya? Bukan, saya bilang. Masalah sebenarnya adalah gengsi. Lah, maskawin berupa sandal jepit saja boleh kok? Saya tidak bercanda. Sandal jepit boleh, artinya bahwa tidak perlu muluk-muluk yang namanya maskawin itu. Karena, sebaik-baik maskawin itu yang mudah (belum tentu murah lho ya). Yang bikin susah sebenarnya adalah tradisi dan persepsi, termasuk persepsi kita sendiri. Kita tahu sendiri, hidup di Indonesia yang kaya akan tradisi itu gampang-gampang susah (note that: 2X gampang, 1X susah; so?).

Tradisi ini berada di luar diri kita, sedangkan persepsi ada di dalam diri kita. Kalau yang ini: susah-susah gampang. Persepsi itu adalah: pernikahan adalah momen paling bersejarah dalam hidup sehingga harus benar-benar berkesan (nah, seringkali kita juga bepersepsi "berkesan" diartikan dengan "wah"). Jadi, ada dua persepsi dalam diri kita. Susah-susah gampang.

Golongan kedua saya bilang, secara kasar, sebagai pesakitan. Kenapa? Aneh saja. Kalau sudah merasa cocok, artinya tidak mau ganti dengan yang lainnya, mantep, tunggu apa lagi? Selanjutnya ya sama kayak golongan pertama, tidak usah pertimbangkan materilnya yang serba wah. Lebih cepat, insyaAllah lebih baik. Dan, yang terpenting segera HALAL.

[Lancar kamu ngomongin orang, kamu sendiri pegimana?]

Ane pan udeh bilang, mau kejer setoran 2014 dulu. Abis itu dah baru mikirin.

Saya sih tidak tahu seberapa biaya menikah beserta segala serba-serbinya pada kehidupan modern sekarang ini. Namun, kalau melihat sejarah, Ali memberikan baju perangnya senilai 400 dirham (setara 28jt saat ini) kepada Rasulullah sebagai mahar atas Fatimah, termasuk biaya pernikahan dan perlengkapan rumah tangga. Rasulullah sendiri pernah memberikan mahar 500 dirham (setara 35jt saat ini). Ada pula sahabat yang melapor telah menikahi perempuan dengan maskawin sebutir emas sebesar kurma, lalu Nabi memerintahkan kepada sahabat itu untuk mengadakan walimah setidaknya dengan seekor kambing. Secara ringkas, seyogyanya biaya walimah tidak melebihi maskawin.

Kalau saya sih berharap nantinya (walimah) yang serba sederhana saja. Tapi saya sendiri belum memikirkan konsepnya, tanpa meninggalkan jauh dari kebiasaan masyarakat (biar tidak kaget, gituuu). Intinya: SUBSTANCE OVER FORM. Sebagai orang akuntansi, kalau hanya mengerti kaidah itu tanpa paham aplikasinya, IPK tinggi tidak ada artinya masbro and mbaksist..... #eh.

Salam,
@elmabruri

Obrolan Jumat Pagi

Apa yang akan dibicarakan jika ada 6 alumni STAN berkumpul?

Setiap Jumat pagi adalah jadwal rutin futsal DPPKAD Kebumen. Tahun lalu 5 mahasiswa STAN melaksanakan studi lapangan di kantor itu. Singkatnya, sejak saat itu sampai sekarang, jika kami kebetulan sedang berada di Kebumen, mereka selalu mengajak kami futsal. Nah, selama masa menunggu penempatan, inilah rutinitas kami yang hampir pasti setiap pekannya.

Kira-kira pukul 9 lebih, kami selesai bermain. Sambil menunggu keringat kering, kami duduk mengobrol. Topik yang tak pernah luput dari pembicaraan adalah tentang nikah dan penempatan. Atau, penempatan dan nikah (suka-suka kau lah menyebut mana duluan). Ketika pembicaraan tentang penempatan masuk jalur buntu ketidakpastian dan kami tak tega mengumpat pemerintah, topik berlari menuju angan-angan di masa depan: berkeluarga. Nah, sepertinya menarik nih untuk di post di Taman Inspirasi. Hitung-hitung menambah koleksi taman yang akhir-akhir ini jarang ditanami.

Mari saya mulai dari Mr. I yang sebenarnya sudah tak asing lagi untuk berbicara soal nikah muda. Sejujurnya saya tidak percaya dengan sepak terjangnya dalam berburu --obrolan pribadi saya dengannya jarang menyentuh sisi yang beginian. Menurut cerita teman-teman, dia begitu aktif mencari tulang rusuknya yang hilang: telah banyak nama target berbeda yang saya dengar dari teman. Maka, dia harus menimpali setiap 'tuduhan' terhadap dirinya itu di berbagai forum meski bukan dia yang membawa kabar dirinya sendiri. Sepertinya, Mr. I ini lebih nyaman berbicara terbuka secara 4 mata dengan semua orang. Statusnya saat ini tetap masih mencari --saya tidak tahu apakah agendanya ke Jakarta minggu ini ada kaitan dengan gosip terbaru tentangnya. #ups

Kemudian Mr. Q. Sungguh kawan, ini menarik. Namun maafkan jika saya tidak lihai menyampaikannya dengan baik di sini. Mr. Q ini cukup bisa dikategorikan ke dalam para pencari yang aktif, sebenarnya. Namun, ia terganjal peraturan tak tertulis dari orang tua, khususnya ibu, tentang kriteria calonnya. Tidak perlu dijabarkan di sini apa saja permintaan ibunya tersebut. Yang jelas, terjadi benturan kepentingan antara ibu, saudara kandung, dan dia. Selain ibunya memberikan syarat yang mengikat yang memberi dampak kesulitan baginya menemukan si calon yang memenuhi hasrat sang Ibu, Mr. Q juga tidak berada dalam status lampu hijau. Dia masih mempunyai 2 (kalau tidak salah) kakak lelaki yang bujang.

Lanjut Tuan P (khusus yang satu ini saya merasa tidak enak menggunakan Mr.). Barangkali, di antara peserta kongres ini, yang paling terlihat konstelasinya hanyalah Tuan P. Dia sudah memiliki calon sejak SMA! Wow. Itu bukan kabar mengejutkan sebenarnya. Tapi, jika kawan tahu latar belakang Tuan P dan calonnya, diketahui bernama Miss I, barangkali kawan akan tercengang. Ini seperti kisah dalam sinetron-sinetron di mana ada putri istana jatuh hati dengan anak rakyat biasa dan kedua belah pihak telah merestui. Oke, mungkin perumpamaan ini terlalu berlebihan. Saya sendiri pun baru tahu bahwa, sebagaimana saya dengar dari Mr. Q yang diaminkan oleh Tuan P, Miss I merupakan anak dari sebuah keluarga berpengaruh di Kebumen sedangkan Tuan P adalah orang kebanyakan. [Saya hanya berusaha menyampaikan fakta dengan bahasa halus tanpa bermaksud menyinggung sentimental masyarakat tentang strata sosial]. Awalnya orang tua Mr. P merasa keluarga Miss I terlalu berlebihan untuk putra ragil mereka. Tapi, Tuan P masih belum mendaftarkan diri di KUA karena 1) Miss I baru akan lulus kuliah September depan, 2) SK belum di tangan, dan 3)Tuan P masih mempunyai kakak perempuan yang lajang. [namun, katanya sudah memberikan lampu hijau.]

Next: Mr. J. Sebenarnya, Mr. J tidak PKL di DPPKAD. Berhubung dia pernah ikut futsal ini, masuklah ia pada daftar orang yang akan saya kupas di sini. Haha. Yah, meski saya sendiri tidak tahu peta perjuangan dan jejak langkahnya dalam urusan ini. Saya tidak tahu jika telah ada target tertentu setelah dia tidak lagi dengan, katanya sih, Miss R yang adalah teman SMA. #UpsLagi

Berikutnya, Mr. N. Kawan, tentang yang satu ini, sebenarnya saya tidak enak membicarakannya di tempat umum -blog- ini. Kisah ini mirip-mirip cerita khayalan di mana ada seorang laki-laki yang hanya mempunyai perasaan-ketertarikan dengan seorang wanita meski wanita itu telah terikat-tidak-resmi dengan lelaki lain. Kisah mengharukan, bukan? Atau justru miris --maaf saya harus mengatakan ini. Sampai saat ini dia tidak membuka "recruitment" bahkan ketika beberapa teman mencoba menarik simpatinya. Barangkali, "Hanya dia." Tapi, di lain majelis dia telah memberikan pernyataan resmi bahwa dia akan mulai membuka diri --dia hanya perlu membuka diri tanpa harus sibuk mencari sebenarnya-- setelah mempunyai pekerjaan tetap. Jadi, kawan, jika kamu membaca blog ini, saya merekomendasikan buku "Jalan Cinta Para Pejuang". Bukan bermaksud menempatkanmu untuk ikut serta dalam "perjuangan" yang dimaksud Salim A. Fillah dalam buku itu, tapi ada bagian dari buku itu yang menjelaskan bagaimana sebaiknya mencintai #UpsKetiga. Buku bisa dipinjam dari Mr. I.

Di forum ini saya adalah orang yang paling tidak terendus rekam jejak dalam urusan berhubungan dengan wanita. Lah, memang tidak ada. Lagipula, membahas tentang pernikahan masih merupakan hal tabu di keluarga saya. Bahkan mbak saya pun belum memperlihatkan tanda-tanda itu. Yang jelas, dia baru semester pertama pada pendidikan S2-nya. Sepertinya, jarang terpikirkan bagi seseorang yang berada di tengah masa pendidikan untuk melakukan pernikahan. Setidaknya, satu setengah tahun lagi.

Tapi bukan berarti saya tidak terkena sindrom anak STAN yang mempunyai tabiat untuk membicarakan pernikahan meski kamu baru saja lulus --BARU SAJA lulus?--. Pada forum lain yang lebih kecil pesertanya, saya seringkali diinterogasi dan dinvestigasi sebagai tersangka pelaku sebuah gerakan gerilya :D

Kesimpulan
Mungkin, Pamakja 2009 (perkumpulan anak Kebumen di STAN angkatan 2009) akan mendahului Pamakja 2008 dalam urusan per-keluarga-an. Sekian.

Peluk bersahabat dari Taman Inspirasi,
@elmabruri