Saturday, March 16, 2013

Fenomena Nikah Muda Jilid #2

Telah terbukti, alumni STAN terkena 'sindrom' nikah muda, bahkan ketika pengumuman penempatan belum jelas kabarnya. Anyway, saya mengucapkan selamat berbahagia dulu, semoga selamat sampai di tujuan, menjadi keluarga SAMARA, dan keberkahan Allah atas kalian kedua mempelai. Yah, meski 3 orang seangkatan yang saya tahu telah melangsungkan akad nikah tidak saya kenal persis orangnya.

Tidak sedikit alumni STAN yang terkena virus asmara lokasi, meski 'stok' mahasiswi di kampus ini hanya menutupi 1 dari 5 laki-laki yang ada. Kelangkaan individu berjenis perempuan justru berpotensi terjadinya anggota himpunan tak berpasangan dalam korespondensi satu-satu.

Jadi, sebenarnya saya mau membahas tentang pasangan-pasangan itu, wabil khusus mereka yang menganut metode 'penjajagan' pranikah dan status ini ditampilkan kepada khalayak ramai. Baik status yang tersurat seperti "in relationship with" di FB maupun yang tersirat (berdasarkan pengakuan dan/atau tindakan).

[Tersebab saya sedih melihat teman di socmed yang sudah terang-terangan ngebet nikah, udah ada pasangan, alumni STAN keduanya #ups, tapi belum menemukan titik temu kesepakatan nikah. Mohon maafkan sahaya, jikalau tulisan ini cukup kasar.]

Saya akan mengkategorikannya ke dalam dua kondisi: 1) mereka yang telah sepakat untuk menjalin hubungan pernikahan tapi belum berani dan 2) mereka yang telah merasa cocok tapi belum bersepakat untuk memulai ikatan resminya (tentu saja, belum berani juga).

Golongan pertama, biasanya terkendala masalah biaya. Entah itu maskawin, walimah, atau nafkah. Serius hanya ini masalahnya? Bukan, saya bilang. Masalah sebenarnya adalah gengsi. Lah, maskawin berupa sandal jepit saja boleh kok? Saya tidak bercanda. Sandal jepit boleh, artinya bahwa tidak perlu muluk-muluk yang namanya maskawin itu. Karena, sebaik-baik maskawin itu yang mudah (belum tentu murah lho ya). Yang bikin susah sebenarnya adalah tradisi dan persepsi, termasuk persepsi kita sendiri. Kita tahu sendiri, hidup di Indonesia yang kaya akan tradisi itu gampang-gampang susah (note that: 2X gampang, 1X susah; so?).

Tradisi ini berada di luar diri kita, sedangkan persepsi ada di dalam diri kita. Kalau yang ini: susah-susah gampang. Persepsi itu adalah: pernikahan adalah momen paling bersejarah dalam hidup sehingga harus benar-benar berkesan (nah, seringkali kita juga bepersepsi "berkesan" diartikan dengan "wah"). Jadi, ada dua persepsi dalam diri kita. Susah-susah gampang.

Golongan kedua saya bilang, secara kasar, sebagai pesakitan. Kenapa? Aneh saja. Kalau sudah merasa cocok, artinya tidak mau ganti dengan yang lainnya, mantep, tunggu apa lagi? Selanjutnya ya sama kayak golongan pertama, tidak usah pertimbangkan materilnya yang serba wah. Lebih cepat, insyaAllah lebih baik. Dan, yang terpenting segera HALAL.

[Lancar kamu ngomongin orang, kamu sendiri pegimana?]

Ane pan udeh bilang, mau kejer setoran 2014 dulu. Abis itu dah baru mikirin.

Saya sih tidak tahu seberapa biaya menikah beserta segala serba-serbinya pada kehidupan modern sekarang ini. Namun, kalau melihat sejarah, Ali memberikan baju perangnya senilai 400 dirham (setara 28jt saat ini) kepada Rasulullah sebagai mahar atas Fatimah, termasuk biaya pernikahan dan perlengkapan rumah tangga. Rasulullah sendiri pernah memberikan mahar 500 dirham (setara 35jt saat ini). Ada pula sahabat yang melapor telah menikahi perempuan dengan maskawin sebutir emas sebesar kurma, lalu Nabi memerintahkan kepada sahabat itu untuk mengadakan walimah setidaknya dengan seekor kambing. Secara ringkas, seyogyanya biaya walimah tidak melebihi maskawin.

Kalau saya sih berharap nantinya (walimah) yang serba sederhana saja. Tapi saya sendiri belum memikirkan konsepnya, tanpa meninggalkan jauh dari kebiasaan masyarakat (biar tidak kaget, gituuu). Intinya: SUBSTANCE OVER FORM. Sebagai orang akuntansi, kalau hanya mengerti kaidah itu tanpa paham aplikasinya, IPK tinggi tidak ada artinya masbro and mbaksist..... #eh.

Salam,
@elmabruri

No comments:

Post a Comment