Saturday, March 16, 2013

Menyalakan Lilin di Siang Hari

Awalnya, tulisan ini akan berjudul "[Bukan] Press Release: Menyalakan Lilin di Siang Hari". Terlalu menggelitik, nanti jadi banyak pembacanya. Sebab, tulisan ini diperuntukkan bagi yang merasa biasa membaca tulisan saya tanpa di-tag. Biarlah saya menggantung selembar tulisan ini di Taman Inspirasi. Dan mari, tulisan saya yang membuat keributan kecil itu sebut dengan STuMK (tak ada lagi tulisan itu dalam kepanjangannya).

Mengapa tidak menulis catatan ini di grup tertutup atau di catatan FB?

Pertama, keributan kecil itu diketahui oleh khalayak lebih luas daripada lingkup yang merasa hanya "terkena panasnya" api lilin itu.

Kedua, teman saya di FB hanya sekitar 1370. Padahal, lulusan STAN 2012 prodi D3 saja lebih dari 1700. Jadi, banyak teman seangkatan yang tak bisa membaca tulisan ini padahal mereka terkena dampak atas tindakan saya dulu. Saya hanya perlu menuliskannya, lalu mem-publish-nya tanpa memaksa orang untuk membacanya (meski saya berharap kalian dan mereka tahu).

Mungkin ini akan terlihat sebagai pembelaan diri, ataupun rasionalisasi. Apapun itu, setidaknya menuliskan catatan ini adalah media terapi atas rasa tidak enak saya memikirkan keributan kecil itu.

Mengapa tidak melakukan diskusi dulu dengan teman-teman seangkatan?

Sistem yang ada mengharuskan sebuah aspirasi merangkak melalui jalur hieraskis (dari kaum proletar kepada kaum ningrat). Oke, saya memang tidak membicarakan tindakan saya di forum tertutup itu. Namun, saya melakukan jajak pendapat sederhana melalui status FB beberapa minggu sebelumnya. Hasilnya, selalu ada pro dan kontra.

Nah, kalau aspirasi saya adalah "publik perlu tahu masalah ini". Bagaimana aspirasi ini bisa terwujud jika menghadapi sistem demokrasi yang selalu memenangkan golongan mayoritas? Apalagi dengan penyaluran aspirasi dengan sistem hieraskis itu?

Sebelum merilis tulisan itu, saya telah berkonsultasi dengan seorang dosen STAN bukan widyaiswara. Beliau, tidak usah sebut nama, melihat bahwa hal itu (menulis surat terbuka di media online) merupakan hak siapa saja. Beliau mewanti-wanti agar dalam menulis saya tidak menunjukkan emosi berlebihan. Harus senetral mungkin. Selalu ada tiga sisi dalam setiap masalah: your side, the other side, and the truth.

Salah satu kesalahan saya adalah tidak mengkonsultasikan isi tulisan itu kepada beliau. Namun, salah seorang teman FB yang telah biasa menulis berkomentar: tulisannya "well prepared". Berarti dia memiliki penilaian yang sama dengan saya. Juga, ini cukup mewakili bahwa tulisan itu sudah memenuhi kriteria "berirama rendah". Kalau ada yang bilang tulisan itu tidak cerdas, bolehlah disebut begitu, kadang kecerdasan tidak diperlukan untuk bersopan santun.

Ada yang berpendapat bahwa ini adalah masalah internal kita, tidak ada orang luar yang berkepentingan. Lagi-lagi, saya tak bisa memaksakan pemahaman saya. Bahwa publik (dalam bahasa demokratis berarti "rakyat") berhak untuk tahu segala sesuatu yang diwakilkan kepengurusannya kepada lembaga yudikatif, eksekutif (pemerintah) dan legislatif.

Ini bukan lagi jaman geosentris, maka jangan egosentris. Egosentris dan geosentris sama-sama mempunyai pijakan yang jelas: egois alias mementingkan diri sendiri. Dan, Galileo dihukum karena mengatakan kebenaran, bahwa bumi bukanlah pusat dunia. Lho, apa hubungannya?

Kecenderungan orang memang menutupi apa-apa yang terjadi di tungku perapian rumah tangganya. Kalau itu memang aib, anggota keluarga justru wajib menutupinya. Masyarakat bukanlah stakeholders rumah tangga orang, tapi rumah tangga negara. Dan, pemerintah adalah bagian dari negara. Di negara demokratis ini, rakyat berdaulat mengetahui aib-aib di dalam rumahnya.

Dalam pandangan saya, publik perlu tahu realisasi kebijakan pemerintah terkait uang (APBN) yang mereka percayakan. Dan adalah sah-sah saja bila "orang dalam" mengabarkan ini kepada rakyat dalam bentuk ocehan burung di pagi hari. Sebab, birokrat sebenarnya adalah abdi negara, bukan abdi pemerintah.

Jadi, rakyat adalah pihak yang berkepentingan.

Namun, saya tidak bisa memaksa pemahaman orang lain tentang ini. Pun, jika didiskusikan terlebih dahulu, minoritas akan selalu kalah dalam dunia demokrasi. Golongan mayoritas secara alamiah telah menjelma menjadi kaum tiran.

Bagaimanapun, saya tetap merasa tidak enak (nah lho, biasanya orang merasa tidak enak itu karena bersalah?).

Tidak perlu meminta maaf bagi kalian yang telah mengolok-olok saya dengan perbendaharaan kata kotor yang kalian miliki. Mulutmu harimaumu. Mulutku juga harimauku.

Segala perbendaharaan kotor yang sempat sampai ke mata saya, tidak masalah bagi saya. Setiap orang mempunyai keberanian masing-masing untuk menyatakan sikap tidak suka kepada tindakan saya, meski dengan cara yang menyedihkan.

Tidak semua hal terkait peristiwa pascaterbit STuMK saya tulis di sini. Beberapa karena saya tak ingin mengompori kebakaran lain (saya menerima saja apa yang mereka katakan, meski saya tahu itu terlalu lucu; ada kusimpan saja beberapa potong informasi). Beberapa karena akhirnya informasi tersebut dirilis oleh pihak yang berwenang.

Kalem saja. Masyarakat akan belajar. Tapi saya juga tidak bisa memaksakan pemahaman bahwa tidak perlu khawatir dengan efek negatif dari tindakan ini. Maksud saya, seorang pemimpin tidak akan memecat seorang OB (office boy) karena dia mengatakan, "Maaf Pak, upil Anda kelihatan." Kalau Si OB itu dipecat? Ya berarti Si Bos sebenarnya ingin memelihara upil sebagai trademark. Biarkan saja.

Sebuah kelahiran, selalu disertai dengan darah dan tangis, Kawan. Jadi, kalau hanya melamun di pinggir sungai, pasti dia bukan Michael Phelps.

Tapi, sesuatu yang membuat saya melongo adalah pernyataan: kalau mau protes, nantilah kalau sudah turun SK; atau kalimat lain yang senada. Maka saya tahu, tindakan saya seperti menyalakan lilin di siang hari.

You see? No komen dah...

Saya seperti bintang pada fase deret utama, atau bahkan sekelas bintang katai, di kemeriahan langit nebula kepala kuda (horsehead nebula), begitu terasing dan terabaikan, yang tiba-tiba mengeluarkan cahaya terang melalui peristiwa bernama supernova. Dan, supernova adalah usaha penghabisan sebuah bola gas pijar menunjukkan dirinya secara jujur. Bahwa, supernova menguras hampir seluruh energinya.

Tahukah kamu apa yang mungkin terjadi setelah meledaknya bintang? Sebuah bintang mungkin akan menjadi bintang neutron atau lubang hitam, tergantung massanya. (oh tidak, ini hanya pengandaian yang saintifik dan keren; tapi tidak cukup relevan :D)

Sebenarnya saya ingin jadi golongan pertengahan, mereka aman. Tapi Tuhan tidak sedang bermain dadu ketika menentukan siapa manusia Bumi Indonesia yang harus menulis STuMK. Maka, ini bukan lagi masalah siapa si Penulis goblok ini. Tapi waktulah yang akan memunculkan orangnya dan akumulasi kekecewaan adalah amunisinya.

Pesan saya, kalau nanti saya ditempatkan di sudut sempit negeri timur jauh, kalian boleh tertawa sepuasnya. Tapi jangan lupa bahwa Tuhan tidak sedang bermain dadu. Nah, kalau pengangkatan kita lebih lambat lagi, artinya seorang penulis STuMK saja tidak cukup.

[Tapi sebenarnya ini aksi yang nanggung dan terlanjur saya padamkan sendiri sebelum ada kobaran kecil. Baru anget-anget tahi ayam].

Salam Satu Jiwa,
@elmabruri

NB:
Saya tidak mengizinkan seorang pun untuk mengkopi dan menyebar link posting tulisan ini.

Draf awal tulisan ini dibuat tanggal 14 Januari 2013.

No comments:

Post a Comment