Saturday, March 16, 2013

Obrolan Jumat Pagi

Apa yang akan dibicarakan jika ada 6 alumni STAN berkumpul?

Setiap Jumat pagi adalah jadwal rutin futsal DPPKAD Kebumen. Tahun lalu 5 mahasiswa STAN melaksanakan studi lapangan di kantor itu. Singkatnya, sejak saat itu sampai sekarang, jika kami kebetulan sedang berada di Kebumen, mereka selalu mengajak kami futsal. Nah, selama masa menunggu penempatan, inilah rutinitas kami yang hampir pasti setiap pekannya.

Kira-kira pukul 9 lebih, kami selesai bermain. Sambil menunggu keringat kering, kami duduk mengobrol. Topik yang tak pernah luput dari pembicaraan adalah tentang nikah dan penempatan. Atau, penempatan dan nikah (suka-suka kau lah menyebut mana duluan). Ketika pembicaraan tentang penempatan masuk jalur buntu ketidakpastian dan kami tak tega mengumpat pemerintah, topik berlari menuju angan-angan di masa depan: berkeluarga. Nah, sepertinya menarik nih untuk di post di Taman Inspirasi. Hitung-hitung menambah koleksi taman yang akhir-akhir ini jarang ditanami.

Mari saya mulai dari Mr. I yang sebenarnya sudah tak asing lagi untuk berbicara soal nikah muda. Sejujurnya saya tidak percaya dengan sepak terjangnya dalam berburu --obrolan pribadi saya dengannya jarang menyentuh sisi yang beginian. Menurut cerita teman-teman, dia begitu aktif mencari tulang rusuknya yang hilang: telah banyak nama target berbeda yang saya dengar dari teman. Maka, dia harus menimpali setiap 'tuduhan' terhadap dirinya itu di berbagai forum meski bukan dia yang membawa kabar dirinya sendiri. Sepertinya, Mr. I ini lebih nyaman berbicara terbuka secara 4 mata dengan semua orang. Statusnya saat ini tetap masih mencari --saya tidak tahu apakah agendanya ke Jakarta minggu ini ada kaitan dengan gosip terbaru tentangnya. #ups

Kemudian Mr. Q. Sungguh kawan, ini menarik. Namun maafkan jika saya tidak lihai menyampaikannya dengan baik di sini. Mr. Q ini cukup bisa dikategorikan ke dalam para pencari yang aktif, sebenarnya. Namun, ia terganjal peraturan tak tertulis dari orang tua, khususnya ibu, tentang kriteria calonnya. Tidak perlu dijabarkan di sini apa saja permintaan ibunya tersebut. Yang jelas, terjadi benturan kepentingan antara ibu, saudara kandung, dan dia. Selain ibunya memberikan syarat yang mengikat yang memberi dampak kesulitan baginya menemukan si calon yang memenuhi hasrat sang Ibu, Mr. Q juga tidak berada dalam status lampu hijau. Dia masih mempunyai 2 (kalau tidak salah) kakak lelaki yang bujang.

Lanjut Tuan P (khusus yang satu ini saya merasa tidak enak menggunakan Mr.). Barangkali, di antara peserta kongres ini, yang paling terlihat konstelasinya hanyalah Tuan P. Dia sudah memiliki calon sejak SMA! Wow. Itu bukan kabar mengejutkan sebenarnya. Tapi, jika kawan tahu latar belakang Tuan P dan calonnya, diketahui bernama Miss I, barangkali kawan akan tercengang. Ini seperti kisah dalam sinetron-sinetron di mana ada putri istana jatuh hati dengan anak rakyat biasa dan kedua belah pihak telah merestui. Oke, mungkin perumpamaan ini terlalu berlebihan. Saya sendiri pun baru tahu bahwa, sebagaimana saya dengar dari Mr. Q yang diaminkan oleh Tuan P, Miss I merupakan anak dari sebuah keluarga berpengaruh di Kebumen sedangkan Tuan P adalah orang kebanyakan. [Saya hanya berusaha menyampaikan fakta dengan bahasa halus tanpa bermaksud menyinggung sentimental masyarakat tentang strata sosial]. Awalnya orang tua Mr. P merasa keluarga Miss I terlalu berlebihan untuk putra ragil mereka. Tapi, Tuan P masih belum mendaftarkan diri di KUA karena 1) Miss I baru akan lulus kuliah September depan, 2) SK belum di tangan, dan 3)Tuan P masih mempunyai kakak perempuan yang lajang. [namun, katanya sudah memberikan lampu hijau.]

Next: Mr. J. Sebenarnya, Mr. J tidak PKL di DPPKAD. Berhubung dia pernah ikut futsal ini, masuklah ia pada daftar orang yang akan saya kupas di sini. Haha. Yah, meski saya sendiri tidak tahu peta perjuangan dan jejak langkahnya dalam urusan ini. Saya tidak tahu jika telah ada target tertentu setelah dia tidak lagi dengan, katanya sih, Miss R yang adalah teman SMA. #UpsLagi

Berikutnya, Mr. N. Kawan, tentang yang satu ini, sebenarnya saya tidak enak membicarakannya di tempat umum -blog- ini. Kisah ini mirip-mirip cerita khayalan di mana ada seorang laki-laki yang hanya mempunyai perasaan-ketertarikan dengan seorang wanita meski wanita itu telah terikat-tidak-resmi dengan lelaki lain. Kisah mengharukan, bukan? Atau justru miris --maaf saya harus mengatakan ini. Sampai saat ini dia tidak membuka "recruitment" bahkan ketika beberapa teman mencoba menarik simpatinya. Barangkali, "Hanya dia." Tapi, di lain majelis dia telah memberikan pernyataan resmi bahwa dia akan mulai membuka diri --dia hanya perlu membuka diri tanpa harus sibuk mencari sebenarnya-- setelah mempunyai pekerjaan tetap. Jadi, kawan, jika kamu membaca blog ini, saya merekomendasikan buku "Jalan Cinta Para Pejuang". Bukan bermaksud menempatkanmu untuk ikut serta dalam "perjuangan" yang dimaksud Salim A. Fillah dalam buku itu, tapi ada bagian dari buku itu yang menjelaskan bagaimana sebaiknya mencintai #UpsKetiga. Buku bisa dipinjam dari Mr. I.

Di forum ini saya adalah orang yang paling tidak terendus rekam jejak dalam urusan berhubungan dengan wanita. Lah, memang tidak ada. Lagipula, membahas tentang pernikahan masih merupakan hal tabu di keluarga saya. Bahkan mbak saya pun belum memperlihatkan tanda-tanda itu. Yang jelas, dia baru semester pertama pada pendidikan S2-nya. Sepertinya, jarang terpikirkan bagi seseorang yang berada di tengah masa pendidikan untuk melakukan pernikahan. Setidaknya, satu setengah tahun lagi.

Tapi bukan berarti saya tidak terkena sindrom anak STAN yang mempunyai tabiat untuk membicarakan pernikahan meski kamu baru saja lulus --BARU SAJA lulus?--. Pada forum lain yang lebih kecil pesertanya, saya seringkali diinterogasi dan dinvestigasi sebagai tersangka pelaku sebuah gerakan gerilya :D

Kesimpulan
Mungkin, Pamakja 2009 (perkumpulan anak Kebumen di STAN angkatan 2009) akan mendahului Pamakja 2008 dalam urusan per-keluarga-an. Sekian.

Peluk bersahabat dari Taman Inspirasi,
@elmabruri

1 comment: