Saturday, March 16, 2013

Perlukah Melestarikan Budaya Leluhur?

Dulu saya berpikir bahwa kita harus melestarikan budaya nenek moyang, yang katanya luhur itu. Sebutlah misal: memahami dan mengaplikasikan aksara Jawa. Sekarang saya berpikir bahwa budaya sebagai anak kandung peradaban akan menyesuaikan masa/waktu berlakunya. Tidak ada urgensi apapun untuk mempertahankan budaya yang tidak sejalan dengan gerak zaman. Interaksi manusia akan menghasilkan kebudayaan baru. Tidak masalah dengan hilangnya suatu budaya asalkan tercipta budaya baru dengan nilai yang sama atau lebih baik.

Termasuk di dalamnya adalah kotak-kotak manusia dalam kelas-kelas fisik. Selama ini kita mengenal orang Papua (pedalaman) dengan rambut kribo dan koteka.

Selama ini kita didoktrin bahwa identitas suatu bangsa adalah sejarahnya. Sebuah bangsa yang lupa akan para pahlawannya, dianggap kehilangan jati dirinya. Ini tidak sepenuhnya benar. Di masa kini, jati diri suatu bangsa dilihat dari visinya di masa depan.

Visi di masa depan itu dibentuk oleh akal, ilmu, dan nurani. Akal adalah jalan pembuka menuju pengetahuan; ilmu akan menuntun kita pada kebijaksanaan; nurani yang datangnya dari hati -bisikan Tuhan- menjadi konfirmasi atas kebijaksanaan sang ilmu.

Dan ketahuilah bahwa yang memiliki masa depan itu hanyalah Tuhan. Maka, kehidupan ini memang menuju Tuhan. Muaranya, mau tidak mau, adalah nilai yang dianggap paling universal dari kehidupan, yaitu kemanusiaan. Sehingga klasifikasi yang paling adil untuk mengenal manusia adalah dengan melihat siapa Tuhan dari seseorang (lho, kenapa Tuhan? Ya karena manusia ini ciptaan Tuhan; lalu Tuhan dikenal dengan lingkup agama). Dengan klasifikasi agama, setiap orang akan dikenal di luar batas-batas kewilayahan (negara, kota, pulau, RW, ataupun RT), gender, suku, warna kulit, dan sebagainya. Dan tentunya, dalam melaksanakan keagaman masing-masing diterapkan prinsip "agamamu agamamu; agamaku agamaku". Setiap agama boleh bersyiar, tapi tidak boleh mengganggu agama lain, apalagi memaksa.

Tapi, bukankah hikmah dari bersuku-suku dan berbangsa-bangsa adalah menjadikan kita saling mengenal?

Ya, kita mengenal suatu bangsa dengan karakternya. Perbedaan lainnya hanyalah identitas, bukan prioritas. Seperti ketika kita mengenal seseorang dengan namanya. Maka, sebenarnya saya begitu heran ada yang rela berkorban nyawa untuk kehormatan kelompok/golongan, suku, ras, bangsa, atau bahkan negaranya. Yang saya maksudkan adalah seperti contoh ini: seseorang akan marah jika bendera negaranya diinjak-injak orang asing. Karena hal ini, seseorang bisa mati terbunuh. Sangat lucu bukan?

Bahkan, orang Palestina yang menghadang peluru tentara Israel dengan niat kemerdekaan tanah airnya tidaklah mulia. Mereka seharusnya maju perang demi mendapat kemerdekaan dalam melaksanakan agamanya. Meski, kenyamanan dalam melaksanakan agamanya tidak bisa dicapai tanpa kedaulatan wilayah Palestina dari cengkeraman Yahudi. Sangat tipis memang, tapi jelas ada batas pembedanya. Ini seperti rizki yang sudah ditetapkan, tapi kita harus tetap berusaha menjemputnya. [sama juga dengan berbuat baik dengan niat untuk balasan syurga, padahal seharusnya berbuat baik hanya karena Allah, lalu terserah kepada Allah akan membalasnya dengan apa -tapi Allah telah berjanji akan membalas kebaikan dengan syurga-].


Fakta bahwa setiap yang bernyawa akan mati -apalagi sebuah negara, suku, ras, dll pasti akan sirna- menggiring kita untuk percaya bahwa ada kehidupan setelah mati (daripada tidak percaya bahwa tidak ada kehidupan setelah mati yang artinya kehidupan di dunia ini berhenti di liang kubur, kan lebih baik percaya -berharap- ada kehidupan setelah kematian yang pintunya adalah liang kubur?)

Maka, sekali lagi. Hidup ini untuk kebaikan masa depan. Maka, tidak usah ragu untuk melepaskan apa saja yang terjadi di masa lalu yang mengganggu tercapainya masa depan. Ingat juga, masa depan adalah akhirat dan Sang Pemilik Akhirat adalah Allah swt.

Salam,
@elmabruri

No comments:

Post a Comment