Friday, May 17, 2013

Catatan 7 Bulanan

Apa yang dulu saya tanyakan adalah: KAPAN? Kalau saja dijawab: SEPTEMBER, itu lebih melegakan meski bukan yang diharapkan. Dan, karena tindakan inilah saya dihujat, dianggap melakukan tindakan makar yang merusak kekompakan dan berpotensi membahayakan teman-teman seangkatan. Kenyataanya sekarang?

Yah, pilihannya memang antara maju serentak atau diam bersama. Tapi bukan berarti mendiamkan kan? Mungkin, terpaksa diam. Atau, dipaksa diam? Hati ini mencoba memaafkan meski otak ini menolak lupa.

Awalnya memang saya berdiri pada dua posisi. Pertama, sebaiknya saya menggunakan waktu luang yang melimpah ini untuk meningkatkan kompetensi diri. Kedua, saya boleh-boleh saja mempertanyakan kejelasan proses pengangkatan dan penempatan; kritis terhadap kebijakan yang mungkin dirasa tidak memenuhi keadilan para pihak. Saya memutuskan untuk mengambil kedua peran tersebut dengan cara saya sendiri. Penundaan ini adalah bagian dari qadha Allah, tapi kita punya kesempatan untuk mengubahnya, mengusahakan agar waktu luang ini lebih singkat daripada prediksi kita berdasarkan pengalaman tahun lalu. Maka, sudut pandang masalah yang bisa diambil adalah hubungan antara kita --temen-temen alumni 2012-- dan birokrasi.

Sekarang sudah lewat tujuh bulan. Adalah perbuatan yang hampir sia-sia jika melakukan aksi protes serentak, apalagi mengulang kicauan yang sama di pagi buta. Waktunya kian dekat, meski belum bisa dipastikan. Apa yang sebaiknya dilakukan sekarang adalah benar-benar menyelamatkan diri sendiri dari kehampaan. Sekarang, penundaan itu telah nyata menjadi takdir Allah, dan tidak mungkin mengubah masa lalu. Hidup harus berlanjut.

Mulai dari sini, sudut pandang haruslah antara kita dan Tuhan. Sebab hidup memang akan dimintai pertanggungjawaban. Tentu tidak keren jika ditanya untuk apa hidup ini dan saya menjawab: 7 bulan di antaranya saya adalah pengangguran meski saya sepenuhnya sadar pada usia seproduktif ini seharusnya saya bekerja untuk diri saya sendiri dan ummat. Pertanggungjawaban ini subjektif, tergantung apa yang kita kerjakan untuk merespon takdir Allah berupa penundaan ini.

Saya pun sebenarnya bisa memprediksi penundakaan ini bakalan lama. Bagaimana tidak lama kalau waktu itu (Desember) tidak ada kepastian apa-apa. Jelas, mereka tidak bisa berjanji apa-apa dalam waktu dekat. Ya karena khawatir akan mengecewakan. Juga karena mereka tahu, tidak mungkin pengumuman penempatan bisa dalam waktu dekat sementara berkas masih di tangan mereka, para pejabat yang belum petinggi itu. Kepastian prosedural administratif, jikapun ada, biasanya memakan waktu yang tidak singkat.

Barangkali, saya terlalu peduli pada apa yang seharusnya saya tidak ambil pusing. Dalam hal ini, berusaha menyelamatkan diri sendiri sama sekali bukanlah egoisme. Lagipula, sok menolong orang dengan cara yang mereka sendiri tidak berkenan bukanlah heroisme.

Tetap semangat, masih mengirim rindu dan salam hangat untuk pengunjung Taman Inspirasi dari mana pun asalnya.

Tukang kebun,
@elmabruri

No comments:

Post a Comment