Saturday, May 11, 2013

Titip Rindu Buat Mbakku

Kepada kakak perempuanku tercinta seorang dan satu-satunya,
di Jakarta

Assalamu 'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Kedhini-kedhana. Anak yang hanya dua: perempuan dan laki-laki. Ada yang bilang, keluarga sudah lengkap jika sudah hadir 2 anak dengan kombinasi laki-laki dan perempuan. Tapi sungguh, ternyata dua anak saja tidak cukup.


Seperti yang telah kusampaikan tempo waktu, keluarga ini tidak mempunyai banyak waktu berkumpul lengkap anggota keluarganya. Padahal, hanyalah 4 orang jumlahnya. Waktu kita kecil, Bapak merantau. Sebagai perantau, meski cukup sering pulang, tetap tidak sama dengan keluarga dengan kehadiran seorang ayah di tengah-tengahnya setiap hari. Baru lima atau enam tahun keluarga ini berkumpul, mbak Arum yang kemudian "terpaksa" hijrah (sebagai mana kosakata yang dipakai mbakyu) ke Jakarta.

Dipisahkan oleh jarak, jujur aku kehilangan sosok kakak yang seharusnya menjadi temanku saat aku beranjak remaja. Tak ada mentor belajar. Tak ada juga partner menghafal. Aku menjadi anak tunggal dan manja. Keadaan yang seharusnya tidak terjadi. Tapi yah, semua telah terlewati. Kita harus pandai-pandai menangkap setiap hikmah dari lika-liku kehidupan.

Dan masa-masa itu telah lewat. Kita sekarang sudah sama-sama berumur. Hampir bisa dipastikan aku pun akan merantau entah kemana, terkait dengan ikatan dinas yang harus kujalani. Mbak Arum tentunya juga akan tinggal bersama suami nantinya, entah di mana. Semakin kecil kesempatan kita berkumpul sekeluarga secara spasial.

Sudah 8 tahun lebih mbak Arum tinggal di Jakarta. Kata mbak Arum sih ingin menggenapkan 10 tahun berhijrah ke Jakarta sebagaimana selama itu Nabi kita juga hijrah dari tanah kelahirannya. Meski, kampung halamanmu bukanlah tanah airmu Kebumen mungkin tempat di mana mbakyu ingin selalu pulang --karena di sinilah orang tua kita. Lahir di Tegal, tumbuh di Kebumen, berkembang di Jakarta; mbak Arum telah menjadi seorang perantau sejak berumur 40 hari. Jadi, di mana pun mbakyu akan memilih untuk tinggal nantinya, jadilah bunga yang berkenan tumbuh di manapun dan membagi harumnya tanpa orang perlu menyentuh tangkainya.



Yah, doakan saja adikmu biar disegerakan penempatan. Kalau bisa sih di tempat yang tetap (tidak berpindah-pindah secara berkala). Kata dan harapan ibu, penempatan di mana ibu bisa menjenguk sendiri dan aku bisa sering pulang. Setidak-tidaknya, Kebumen dan Jakarta adalah dua tempat yang bisa kita gunakan untuk memudahkan bersilaturrohmi, jika memang tidak ada satu tempat untuk kita bisa selalu berkumpul. Tersebab pula, kita semua pernah merantau dan tinggal di Jakarta (kalau aku sih belum benar-benar tinggal di Jakarta, mungkin baru akan).

Maafkan kami tidak selalu ada di dekat mbak Arum dalam setiap perjuangan hebat yang pasti berat. Tapi, justru banyak sekali pengorbanan yang mbak Arum baktikan untuk keluarga ini. Sekarang saatnya mbakyu mulai banyak memikirkan untuk diri sendiri. Termasuk dalam kategori "memikirkan diri sendiri" adalah urusan berkeluarga :D Semoga dimudahkan dalam pertemuan jodoh yang baik dan yang membawa diri lebih dekat kepada Allah.

Kau lahir di keluarga ini, tapi tumbuh dan besar dengan andil keluarga lain. Berbahagialah orang yang mempunyai banyak keluarga: banyak orang tua dan banyak saudara. Karena itu berarti semakin banyak doa mustajab yang bisa kau pinta-doakan dari mereka. Keluarga mba Umi adalah keluarga mba Arum juga. Perbedaannya, tidak ada keterikatan hukum secara syariat di sana. Walaupun begitu, adalah baik jika mbak Arum memberikan perhatian yang sama untuk keduanya. Malah, kami di sini terlalu tidak tahu diri jika menuntut sesuatu dari mba Arum.

Barangkali, yang kupunya hanyalah kata-kata. Dan dengan kata-kata yang kumiliki inilah aku berdoa: semoga kita --keluarga ini-- dikumpulkan lagi di jannah-Nya, selamanya. Semoga keberkahan selalu melimpahi mbak Arum. Di umur 25+ ini dan seterusnya, semoga Allah selalu melimpahkan kasih sayang dan melindungi mbak Arum dalam kebaikan.

Tidak setiap doa terucap kata-katanya, dan tentu saja tidak selalu seseorang tahu kalau dirinya disebut dalam doa-doa saudaranya. Tapi, semoga Allah menampilkan pengabulan dari doa-doa itu agar kita tahu bahwa keluarga dan saudaralah yang utama dalam doanya.

Maafkan aku tak cukup pandai mengungkapkan sayang dan cinta. Namun tetap kupaksakan juga melalui kata-kata. Aku pun tak punya sesuatu yang kuberikan sebagai pertanda kasih sayang. Tak mungkin juga aku hanya memberikan janji. Maka doakanlah adikmu ini bisa berbagi ilmu lewat tulisan, setidaknya satu buku bisa kupersembahkan untuk mbakyu :xp Dan doakanlah supaya adikmu ini bisa menjadi dirinya sendiri yang lebih baik.

Bahkan untuk membuat tulisan ini pun aku lewat waktu, tapi semoga tidak terlambat.

Sekian dulu dari adikmu di Taman Inspirasi. Masih mengunggah doa, salam, dan rindu kepada Pemilik alam untuk kita bersaudara.

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

@elmaburi

No comments:

Post a Comment