Thursday, June 13, 2013

Aku Ingin Jogja Jadi Ibu Kota Sepeda Indonesia

Pariwisata termasyhur. Perekonomian stabil. Budaya lestari. Ilmu pengetahuan melangit. Religiositas membumi. Keramahtamahannya melekat di jiwa. Pemerintahnya mengayomi; masyarakatnya bersinergi. Begitulah Yogjakarta adanya. Pantas bila keistimewaannya melegenda.

Namun, Jogja yang romantis bukanlah negeri utopis. Kecantikan Jogja tidaklah nirmala. Pertumbuhan ekonomi yang ditandai modernisasi infrastrukur dan kemajuan teknologi membawa serta bayang hitamnya. Masyarakat mulai meresahkan kemacetan di beberapa jalan utama Kota Jogja. Jalan Malioboro padat merayap. Jalan Solo, Jalan Laksda Adisucipto, ramai kendaraan bermotor melaju kencang. Sebagian badan Jalan C. Simanjuntak diserobot untuk parkir sembarangan. Trotoar Jalan Kaliurang Sekip di sekitaran UGM digunakan oleh pedagang kaki lima berjualan mulai sore hingga malam. Dari Jalan Kusumanegara hingga Jalan R.E. Martadinata, sepeda motor dan mobil berderet-deret ketika terjebak lampu merah.


Rupanya program Sego Segawe (Sepeda kanggo Sekolah lan Nyambut Gawe) yang telah digalakkan oleh Pemkot Jogja sejak 2008 belum berhasil optimal. Sepeda belum menjadi gaya hidup sebagian besar masyarakat Jogja, baik bagi penduduk asli maupun kaum urban. Ini terbukti dengan semakin maraknya sepeda motor dan mobil di aspal-aspal Kota Jogja. Penggunaan sepeda masih berpusar di lingkup penggemar, pada kegiatan tertentu, saat momen yang tak biasa.

Siapa pula aku berani menjadi komentator sok peduli dengan Jogja dewasa kini?

Aku tidaklah lebih dari perantau yang sempat mampir meminum oase ilmu di Kota Pelajar selama sebulan, empat tahun yang lalu. Namun, waktu yang sebulan itu mampu membuatku selalu ingin kembali bertamu. Setiap mengunjungi Jogja pada sela-sela liburan kuliah, rasanya seperti berjumpa kawan lama. Selalu ada cerita berbeda yang disajikan Jogja dalam keluguannya.

Terlalu banyak kekagumanku pada Jogja untuk dituliskan, tapi sepertinya persoalan Jogja bersepedalah yang paling sesuai jika aku yang membicarakannya. Setidaknya aku pernah bersepeda ke Jogja dari rumahku yang berjarak seratusan kilometer. Beberapa kali aku juga sempat "blusukan" dengan sepeda di Jogja pada kesempatan berbeda. Dan, yeah, besar harapanku untuk menikmati harmoni Kota Jogja dalam kayuhan, menyaksikan pertunjukan istimewa Kota Budaya dalam simfoni kesahajaan roda sepeda. Aku ingin Jogja menjadi surga bagi pesepeda dengan gelar formal sebagai Ibu Kota Sepeda Indonesia.

Jogja memanglah kota yang paling ramah nomor wahid bagi pesepeda, setidaknya dari kota-kota lain yang pernah kukunjungi. Di jalan-jalannya terdapat rambu-rambu khusus pengguna sepeda. Bahkan pesepeda diistimewakan dengan adanya ruang tunggu paling depan pada pemberhentian lampu merah. Sebagian masyarakat Jogja mempraktikan gaya hidup bersepeda, sementara pemerintah mengerti maksud hati rakyatnya dengan mengeluarkan program-program yang mendukung penyelamatan lingkungan.

Sejak 1950, Jogja telah terkenal sebagai kota sepeda. Wajar saja, sebab waktu itu kendaraan bermotor masih barang langka. Untuk ukuran Jogja yang pernah menjadi ibu kota Indonesia, sepeda sudah merupakan barang umum pada saat masyarakat di daerah lain masih berjalan kaki. Lambat laun predikat kota sepeda semakin meredup beriring dengan jumlah kendaraan bermotor terus meningkat. Lalu, kemacetan menjelma hantu yang nyata bagi ketenteraman Jogja.

Sepertinya, Jogja tak punya banyak pilihan untuk mengantisipasi kemacetan yang sedang mengancam, kecuali menggerakkan masyarakatnya untuk bersepeda. Penerapan transportasi massal tak bisa leluasa, sebab lebar jalan di Jogja memang tidaklah lega, dan sulit diperluas. Bus TransJogja tidak bisa diperbesar ukurannya karena akan sulit melakukan manuver dan selap-selip di jalan sempit. Lebih tak mungkin lagi dibuat jalur khusus (busway) seperti di Jakarta. Lagipula, dengan ukuran bus TransJogja seperti yang sekarang ini, sulit memperluas daya jangkau melalui jalan-jalan tikus. Maka, sepeda memanglah teman setia yang telah lama ditemukan Jogja untuk mengantisipasi masa dewasa kota-kota besar: kemacetan, pemanasan global, dan kesenjangan sosial.

Jogja yang sudah identik dengan kereta kuda, becak, dan sepeda, tidak perlu setengah hati untuk menggugah kembali wajah kota wisata dengan kesahajaan. Citra kota sepeda bisa jadi daya tarik yang membuat Jogja semakin menjadi destinasi strategis para turis. Jogja harus berkayuh lebih serius untuk menjadi Ibu Kota Sepeda Indonesia. Perlu ada event akbar skala nasional, bahkan internasional semisal Bali Bike 2013 tanggal 31 Mei- 2 Juni lalu, untuk membumikan sepeda di Jogja sekaligus menarik perhatian dunia.

Terhimpunnya tokoh besar bangsa dan para civitas academica di Jogja, kampanye bersepeda semakin memikat banyak hati jika kaum cendekia ini memprakarsai gaya hidup sederhana bersepeda. Kemudian para penduduk asli yang tak tergoda kemolekan dandanan kendaraan para kaum urban, akan semakin menyadarkan kaum pendatang agar menyelaraskan irama dengan keaslian Jogja yang simpel bermakna.

Kumpulkan sebanyak mungkin sebutan kebanggaan untuk daerah istimewa ini. Rebut kembali predikat kota sepeda. Atau, barangkali Jogja sudah, masih, dan selalu menjadi Kota Sepeda, tapi bukan predikat itu yang sebenarnya kita harapkan. Tak berlebihan kiranya jika aku ingin Jogja bagi Indonesia adalah seperti Amsterdam bagi Belanda di mana sepeda digunakan tidak hanya sebatas kesenangan dan kesehatan semata.

Akhirnya, meski Jogjakarta menjabat sebagai ibu kota Republik Indonesia hanya beberapa tahun saja, mari kita jadikan Jogja sebagai Ibu Kota Sepeda Indonesia selama-lamanya. Dengan bersepeda, kita kembalikan wajah Jogja yang ayu bersahaja.

Cinta sepeda
Cinta Jogja
Cinta Indonesia

Salam rindu buat Jogja dari Taman Inspirasi,
@elmabruri

No comments:

Post a Comment