Thursday, June 20, 2013

Tour d' Dieng 2012

Minggu, 9 Desember 2012
@Masjid Kauman
Mengembarakan diri di kota bersuhu dingin, tidur di lantai tegel masjid kauman Wonosobo tanpa matras, ane tak betah dari tidur singkat malam Minggu tadi. Bahkan mimpi pun tidak. Alam ini seperti tak bergerak. Semuanya dalam diam bisunya. Masih jauh dari subuh. Ane ingin berpindah tidur yang lebih nyaman. Ternyata ada seorang lain selain ane yang tidur di masjid itu, setelah mondar-mandir mencari kemungkinan pengelana yang menganggap masjid sebagai rumahnya.

Uaassem rek! Seseorang tadi tidur di antara tumpukan meja kayu dan tersembunyi di seberang bedhug, dengan alas tidur dan sarung. Pastinya lebih hangat daripada ane yang hanya pakai sarung. Maksud ane, kenapa ane tidak mendapati tempat itu lebih dulu tadi. Ane melawan dingin dan nyamuk dengan tubuh kelelahan bergerak sejak pagi. Bukanlah ketakutan pada kegelapan di tempat asing pengancam jiwa yang ane pikirkan. Hanyalah sebuah ponsel agak pintar barang berharga yang menyertai pengembaraan tanpa modal ini.

Ya sudahlah. Ane memilih terjaga meski tenaga belum terestorasi penuh. Ke tempat wudhu, ternyata sudah ada marbot yang terjaga dan telah selesai membersihkan lantai wudhu. Baguslah, ane belum siap dengan interogasi mengapa ane bisa terdampar tidur di masjid ini, marbot sudah masuk ke dalam ruangan di sisi masjid. Dalam keadaan kedinginan itu, ane memaksa diri untuk mandi sebab kemarin sore tak sempat mandi -0^, dengan harapan pulihnya tenaga lebih cepat.

Kerennya adalah, di antara gelapnya ruang induk masjid, sudah ada beberapa jamaah yang beraktivitas sebelum subuh: entah sholat ataupun dzikir. Masjid Kauman ini tidak sama dengan masjid Agung Wonosobo. Mungkin perbedaannya, masjid yang lebih kecil ini dikelola bukan oleh pemerintah. Artinya, masjid kauman bukanlah masjid ikon Wonosobo. Letaknya pun tidak di dekat alun-alun. Ohya, di ruang induk ini lantai telah di lapisi karpet. Seharusnya akan lebih nyaman kalau bisa tidur di sini. Sayangnya, induk masjid ini terkunci.

@Masjid Agung
Bakda merampungkan serangkaian aktivitas subuh, ane menyambangi masjid Agung-nya. Sekedar melihat-lihat. Sepi, pagar utama pun tertutup (antara ditutup kembali atau memang belum dibuka). Ane membuka sendiri, masuk lewat pintu kecil di samping pintung gerbang utama (mungkin untuk pejalan kaki). Secara jujur, masih ramai masjid Agung Kebumen, perkiraan ane dengan hanya melihat keberadaan pintu gerbangnya. Hehe.

@Alun-alun Wonosobo
Kabupaten Wonosobo sungguh keren. Kotanya miring! Maksud ane, tanah dan jalan aspalnya miring bahkan di tengah-tengah kotanya (alun-alun). Di pusat kota pun banyak pohon, tidak seperti Kebumen yang panas. Tata kotanya pun lebih baik, setidaknya ada jalan satu arahnya yang sama sekali tak ada di Kebumen. Haha.

Mendaki Dieng
Dari salah satu sudut alun-alun, yakni sudut utara-barat (barat laut), tinggal lurus ke utara adalah jalan utama menuju Dieng. Di pojokan alun-alun itu, ane sarapan srabi dulu. Ane sisain juga beberapa untuk bekal perjalanan. Berangkatlah ane mulai mendaki menuju Dieng Plateau.

Menurut kabar di Suara Merdeka beberapa minggu sebelumnya, yang karena berita ini ane terdorong hasrat bersepeda ke Dieng, katanya banyak dijumpai pesepeda di sana. Tapi, ane masih sendirian di awal pendakian ini. Ane sempat keluar dari Jalan Raya Dieng demi mampir ke Telaga Menjer. Dan karena penyimpangan jalur ini, saya jadi menempuh jalan melingkar yang jauh. Ah..... Untungnya, jadi tahu wilayah perkebunan argowisata Tambi.
Sesuai dengan tagline Tour d' Dieng 2012 ini: "Cinta Alam; Cinta Sepeda; Cinta Indonesia", keindahan alam yang meliputi dedaunan hijau, suhu sejuk-dingin, gemericik air, tanah basah, lebih banyak ditemukan di ketinggian. Maka, mendaki dengan sepeda adalah tantangannya.
Perjalanan berangkat memang menantang, tapi perjalanan pulang ternyata mengerikan. Sebabnya: hujan, jalanan menurun, dan gelap. Tapi ane tidak ingin menuliskan pengalaman horor ini di Taman Inspirasi.
Kesimpulan
Pada dasarnya, alam pegunungan/perbukitan memang keren. Kalau ada tempat menginap tepat di sekitar perkebunan (bukan di sekitaran objek wisata Dieng-nya), mau deh tinggal beberapa hari di sana. Dan ane ingin merasakan lagi mendaki Dieng dengan sepeda yang sedikit lebih baik meski berjenis roadbike (yah, semacam United Milano lah) bersama-sama anggota komunitas pesepeda.

Dan tentu saja, pergi ke Dieng bersama keluarga merupakan pilihan wisata yang murah tapi berkualitas wah. Bukan karena mewah, tapi indah apa adanya. Menyusuri jalan perbukitan, perkebunan, bersama orang-orang terkasih... Nyessssss..


Salam,
@elmabruri
:::

1 comment:

  1. waduk sermo dul, pegunungan menoreh, aku pake motor kau pake sepeda, hahahha

    ReplyDelete