Monday, July 1, 2013

Catatan 8 Bulanan: STAN Buka Pendaftaran Lagi

#CatatanTerlambatPosting

Kemenkeu RI membuka kesempatan bagi putra-putri terbaik bangsa (ceileh...) untuk mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Sila mencari infonya sendiri di laman-laman resmi milik STAN, BPPK, atau Kemenkeu.

Pada tiap kesempatan berbincang dengan calon lulusan SMA, saya tidak pernah mengajak-ajak mereka untuk berkuliah di STAN, bahkan cenderung "memboikotnya". Alih-alih mempromosikan kampus saya sendiri dengan pernak-pernik kemeriahannya, saya membeberkan hal-hal negatif yang mungkin bagi sebagian teman dianggap sebagai aib --yang harus ditutupi. Menariknya, ada seorang adik kelas SMA yang lulus tahun ini meminta kepada saya menceritakan sisi negatif itu untuk disampaikan ke orang tua agar dia tidak "disuruh" kuliah di STAN. Karena dia ingin kuliah di FTTM ITB. Alhamdulillah, kabar terakhir yang saya tahu, dia diterima di sana lewat jalur SNMPTN (yang udangan itu ya?). Jika pun motifnya sama, yakni pekerjaan-setelah-kuliah yang menjanjikan, FTTM ITB adalah lebih baik daripada PNS Kemenkeu. Sampai jumpa di gerbang kemerdekaan, brooo...

Semoga saya tidak salah meniatkan, bahwa dengan demikian saya berharap para lulusan SMA mempunyai bahan pertimbangan yang cukup adil untuk menilai sebuah institusi pendidikan tempatnya mengukir masa depan.

Sebab, kuliah adalah fase penting dalam perjalanan hidup manusia. Di milenium ketiga ini jangan ada lagi anak tak bersekolah karena tak ada biaya, remaja bersekolah dipaksa orang tuanya, dan pemuda yang memilih kampus yang tak dikehendakinya. Hidup ini terlalu singkat untuk melakukan hal-hal yang tidak kita cintai. Atau, cintailah jalan apapun jika itu harus kaulewati.

Tentunya juga, saya bersalah jika melarang seseorang untuk menjadi mahasiswa kedinasan, lalu menjadi PNS, karena memang ada orang-orang tertentu yang barangkali "passion"-nya adalah menjadi birokrat.

Saya pun tidak ingin menjadi oportunis-akut yang hanya mengambil keuntungan pribadi pada setiap keadaan. Misalnya, mengkapitalisasi pendidikan instan demi menyambut para calon STANners fanatik yang rela merogoh kocek-dalam agar diterima di kampus berikatan dinas itu. Dengan membuka bimbel USM, kita bisa meraup untung berlimpah. Efeknya sampingnya?

Entahlah. Mungkin saya terlalu berburuk sangka bahwa sekarang komposisi mahasiswa STAN tidak seperti dulu lagi yang didominasi oleh mereka yang ingin memperbaiki status sosialnya, seperti kata seorang STANner (saya tidak mengenalnya) di blognya di sini. Dari sisi ekonomi-bisnis, membuka bimbel adalah usaha yang menjanjikan. Dari sisi pendidikan, lagi-lagi, hanya mereka yang berduitlah yang mampu membayar biaya bimbel. Persaingan menjadi tidak seimbang, tidak alamiah.


Dan ternyata saya masih di sini, tak berbuat apapun, hanya menanam kata di Taman Inspirasi dan berharap tumbuh sesuatu yang hidup. Kalaupun tak berbunga, saya berharap setiap tanaman di Taman Inspirasi mampu mengubah karbon dioksida menjadi oksigen.

Salam,
@elmabruri

No comments:

Post a Comment