Tuesday, September 17, 2013

Exit-Poll Penempatan

Sewaktu diberi kesempatan memilih instansi penempatan, dari 11 instansi yang ada di bawah Kementerian Keuangan, saya memilih sebagai berikut.

1. Badan Kebijakan Fiskal (BKF): pilihan idealistis
Sesuai minat: ekonomi makro. Cenderung nonteknis. Di ibu kota; tidak berpindah-pindah. Meski gaji standar dan kuota kecil. Sedikit banyak saya dapat merencanakan masa depan melalui instansi ini: menjadi pengamat ekonomi, peneliti, penulis, atau mungkin finansial planner, mungkin pula bisa mendalami ilmu ekonomi syariah secara formal dan langsung. Selain itu, bagi saya, BKF mempunyai prestis tersendiri. BKF ini terkenal hanya menempatkan alumni STAN dengan kualifikasi super (IPK tinggi). Bonus kerjanya adalah banyaknya kesempatan beasiswa, mudahnya melanjutkan kuliah, dan adanya peluang perjalanan dinas ke luar negeri (denger-denger sih).


2. Direktorat Jenderal Anggaran (DJA): pilihan konservatif
Masih kolot dan berharap penempatan di ibu kota dengan kuota lebih banyak dan gaji lebih baik dari pilihan pertama. Hanya berdasarkan feeling saja, DJA bisa terpilih mengalahkan kandidat lain instansi yang hanya ada di ibu kota seperti Sekretariat Jenderal (Sekjen), Inspektorat Jenderal (Itjen), Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang (DJPU), dan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK). Memilih DJPU dan DJPK untuk pilihan kedua mungkin adalah blunder dalam posisi saya berharap penempatan di ibu kota, karena kuotanya yang supersedikit. Duet primadona Sekjen dan Itjen sampai terlewatkan hanya karena saya tidak tahu mau kerja apa di sana (kurang info). (Beberapa hari setelah mengisi polling, ada info baru bahwa Inspektorat Jenderal [Itjen] bisa jadi pilihan yang lebih "menguntungkan" dari DJA. Sebabnya adalah di Itjen banyak dinas luarnya alias jalan-jalan keliling Indonesia, meski sekalinya dinas luar bisa sampai sebulan tidak ketemu istri:D)

3. Direktorat Jenderal Pajak (DJP): pilihan materialistis
Kalau minat tidak memungkinkan terpenuhi tersebab keadaan, ya sudah, penempatan di daerah dengan gaji yang --katanya-- tertinggi di Kemenkeu adalah pilihannya.

Ketiganya ini adalah pilihan rasional --khas otak kiri. Kombinasi pilihan instansi Pusat-Pusat-Daerah untuk pilihan 1-2-3 adalah kombinasi paling aman. Kunci pengamannya ada di pilihan ketiga, sebab DJP memiliki kuota terbanyak --bisa mencapai 50%. Sebab, saya menghindari dua instansi ini: Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dan Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB). Seandainya pilihan 1 dan 2 terlewatkan, insyaAllah mentok di pilihan ketiga: DJP. Dua instansi lain yang tidak saya pilih adalah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) dan Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK). Saya tidak tahu banyak tentang DJKN, sementara BPPK hanya diminati orang-orang tertentu, yaitu mereka yang memiliki idealisme untuk mengajar dan melatih meski gaji standar. (Seorang nara sumber mengatakan, di antara salary resmi instansi di bawah Kemenkeu, BPPK adalah yang terendah. Namun, ada banyak keuntungan di BPPK yang tidak bisa dihitung dengan uang, seperti sertifikat seminar, peluang beasiswa, dan kemudahan melanjutkan kuliah).

Menjelang hari pengumuman, yang terbayang adalah "kalau tidak di BKF, ya Pajak". Beberapa kali hati ini tergiur untuk memusatkan harapan agar penempatan di Pajak (DJP) saja karena bisa magang di Kebumen (menekan biaya pengeluaran ketika SK belum turun). Tapi sering pula teringat bahwa saya adalah anak laki-laki dan anak ragil yang biasanya tak boleh jauh-jauh dari orang tua, maka saya kembali mengeraskan doa agar bisa penempatan di BKF, termasuk memberdayakan tambahan doa dari keluarga.

Namun, alhamdulillah beginilah jadinya. Saya ditempatkan di Direktorat Jenderal Anggaran yang hanya berkantor di Jakarta. Setidaknya, harapan ibu tercapai: saya bekerja di tempat di mana saya bisa sering pulang dan Biyung bisa berkunjung sendiri. Meski, saya tidak tahu akan menjadi apa di sana (tidak hanya menjadi pelayan masyarakat yang baik tentunya). Bagi saya, DJA adalah medioker dari banyak segi. Bukan favorit tapi tak dihindari. Sementara ini: ing madya, mangun karsa saja lah. Menjadi golongan pertengahan.

Meski saya sadar diri tidak berpantas penempatan di BKF, saya sempat kecewa tidak berhasil di pilihan pertama (karena mungkin terlalu meninggikan harapan untuk BKF). Akhirnya, setelah bertemu dengan teman-teman Kebumen, saya harus sangat-sangat bersyukur penempatan di Jakarta (hanya ada 3 orang Pamakja 2009 yang penempatan instansi pusat, dua di antaranya penempatan di DJA; ada teman yang sampai menangis karena penempatan di DJPB yang tidak dipilihnya). Bahkan, teman-teman Obrolan Jumat Pagi menjadikan saya pemegang pole position sebagai orang yang telah jelas akan tinggal di mana, maka harusnya berkeluarga duluan --begitulah mereka bercanda.

Di Jakarta banyak sekali tantangan dan peluangnya. Kantor DJA hanya berjarak 1 kilometeran dari Masjid Istiqlal, dekat Stasiun Pasar Senin, tidak jauh kalau mau ikut kegiatan rutin HAAJ di Planetarium Cikini. Banyak majelis ilmu dan guru. Tentunya, menetap di satu tempat, tidak pindah-pindah secara periodik karena mutasi kerja seperti di DJP, DJPB, dll., membangun rumah tangga dan berkeluarga menjadi lebih terencana.

Kesimpulan

Kini, DJA telah menjadi bagian dari takdir saya. Maka, ikhlas menjalankan takdir adalah pilihan terbaik yang harus saya ambil. Alhamdulillah...

Ohya, bagi perempuan, penempatan itu gampang-gampang susah. Jika ingin penempatan tidak nun jauh di pelosok Nusantara sana, caranya cukup mudah: segeralah menikah dengan mereka (kami) yang penempatan di Ibu Kota Indonesia #superKode :-).

Sampai jumpa di Lapangan Banteng.
Salam,
@elmabruri

1 comment:

  1. mas mau tanya kalo di direktorat jenderal anggaran gajinya berapa ya? karena ada teman saya yg ingin masuk kemenkeu. trmksh :)

    ReplyDelete