Tuesday, September 17, 2013

The Beauty of August Sky

Sekian bulan di rumah, awalnya saya menanti langit bulan Juli dengan ciri Summer Triangle-nya yang terbit sepanjang malam. Tetapi ternyata langit tak terlalu pekat untuk menyertakan bintang-bintang remang sebagai lampu hias di pentas malam. Malam seringkali berawan tipis meski tak lagi musim penghujan.

Scorpio mendominasi langit selatan. Ekor lengkungnya tampak jelas sekali dimulai dari si bintang paling terangnya, yaitu Antares. Si Kalajengking ini lumayan spesial bagi saya. Yah, karena di bulan Juli-Agustus inilah Scorpio menjadi magnet penglihatan setiap kita menengadah muka, dengan serta-merta terlihatlah mereka. Dengan mudah mereka kita temukan saat pukul 8, 9, atau 10 malam. Oleh karena inilah, saya kira, teman-teman menjadikannya simbol tim Astronomi Jateng 2008 dan dipasang di belakang jaket kami --ah masa lalu.


Sagitarius selalu tak mudah saya visualisasikan. Orang tetap akan menamakannya manusia pemanah berkaki kuda meski saya selalu teringat teko (ceret) ketika merangkai bintang-bintang pendukungnya. Di sampingnya --ke timur, seharusnya ada Capricorn. Tapi saya tidak peduli. Nama-nama bintang tidaklah terlalu penting kecuali kamu akan ikut kompetisi. Mungkin diperlukan nama yang disepakati umum ketika menunjuki orang lain akan benda itu. Namun semua adalah semu ketika keindahan mengantarkan kita pada makna penciptaan.

Tamu spesial kita di bulan Juli-Agustus ini sebenarnya adalah Perseid Shower, hujan bintang dari sekitaran rasi Perseus. Puncaknya memang terjadi pada tanggal 12 (atau 13?), tapi sejak akhir Juli, di pagi hari sebelum fajar jika sedang beruntung kita bisa memergoki meteor terang melintas malu-malu. Malah saya kecewa saat dini hari H ternyata tak sebanyak harapan saya dapat melihat lintasan bola api. Overexpectation pokoknya. Mungkin karena beberapa hari sebelumnya saya dikejutkan (berarti tanpa berharap dulu) oleh kehadiran meteor terang melintas saat saya menengadah sambil menunggu di belakang rumah pada suatu waktu sebelum subuh.

Barangkali sampai tua pun saya akan tetap suka memandangi langit malam, untuk tujuan dan alasan yang berlainan serta pengalaman yang lebih kompleks. Nah, sekarang ini saya hampir selalu sendirian ketika malam-malam berdiri di pekarangan rumah dan kadang teringat kembali kawan lama yang semakin terlupa. Dan, entah apakah masih pantas ber-stargazing dalam kerumunan ramai di umur yang kesekian. Mungkin suatu saat, kalau ada kesempatan umur, ada beberapa momen ketika saya memandu teman-seperjalanan saya berwisata di antara ribuan bintang yang berpentas kolosal melakonkan cerita yang tak perlu kita mengerti alurnya.

Tapi saya yakin, ada banyak teman yang sebenarnya berminat menikmati pemandangan langit malam. Hanya saja mereka tak di sini dan saya tak di sana. Mungkin juga masih banyak keterbatasan yang membuat mereka malas berlama-lama telentang di bawah bentangan langit. Buktinya, banyak obrolan tentang langit di jagat maya suatu komunitas astronomi. Beberapa teman juga sebenarnya sering bertanya jika ada pertunjukkan langit suatu bulan.

Dan mungkin, suatu saat saya harus mengalokasikan dana khusus untuk berwisata langit malam demi menikmati pemandangan langit terbaik dari negeri ini. Misalnya dengan berkemah di kampung antah berantah yang masih jauh dari polusi udara. Yeah, maybe. Dan saat itu saya tak sendiri lagi :d.

Salam,
@elmabruri

No comments:

Post a Comment