Friday, October 11, 2013

Gelembung Udara

Rutinitas dua minggu terakhir ini adalah seperti membuat gelembung udara di ruang terbuka. Udara di dalam dan di luar gelembung (yakni di udara terbuka), tetaplah zat yang mengandung nitrogen, oksigen, uap air, karbon dioksida, dan gas lainnya. Dua minggu ini status kami (saya) tidak lagi pengangguran akut, tapi pegawai magang di Kementerian Keuangan.
sumber: google.com
Begitu gagah, dengan sepatu pantofel mengilat -setelah setahun dijadikan koleksi-, kemeja putih setiap Senin dan Rabu, Kamis berpakaian bebas-rapi, atau batik pada hari Selasa dan Kamis, berpasangan dengan celana kain hitam atau gelap --intinya orang kantoran banget lah yang mirip-mirip eksmud-- dan berkantor di gedung megah yang dari jendela kantornya terlihat Monas dan Masjid Istiqlal. Penampilan luar begitu memukau -agak lebay sih-, sementara kami (saya) sekarang ini sejak dua hari yang lalu sedang duduk menunggu mitra kerja mengambil surat pengesahan revisi anggaran. Kalau minggu pertama kemarin sih hanya mengikuti orientasi -duduk, mendengarkan, bertanya, dan makan.

Bukankah gelembung-gelembung udara menjadi hiasan indah ruang terbuka, lebih berwarna dan ceria, meski hanya berisi kekosongan? Bukan kosong sih, tapi ada udara, sebagaimana jika tak ada gelembung yang membungkus. Udara masih tetap udara meski dibungkus cantik oleh gelembung. Jadi, sebenarnya kami -saya- tidak banyak-banyak bergerak --dalam artian bekerja memeras keringat--, masih lebih banyak menghabiskan energi hanya untuk stand by.

However, alhamdulillah it's friday. Masih ada waktu untuk memperbanyak sholawat dan membaca al Kahfi.

Menunggumu di Lapangan Banteng,
@elmabruri

No comments:

Post a Comment