Monday, October 21, 2013

Musafir Muda

Bekerja di ibu kota, terutama Jakarta Pusat yang dari jendela kantornya terlihat Monas, dan pergi ke Istiqlal cukup dengan jalan kaki, pastilah jarang ada hunian murah di dekat tempat mengais rizki itu. Mencari kos pun tak bisa yang dapat dijangkau dengan hanya berjalan kaki -- kecuali sangat beruntung dan mungkin berkenan menurunkan standar kenyamanan. Maka, kita harus bersabar menghadapi mahluk menjengkelkan asli ibu kota bernama kemacetan, ketika pulang-pergi ke dan dari kantor.

Apalagi jika memikirkan tempat tinggal menetap di masa depan: rumah. Opsi yang ada, dengan standar harga pegawai muda Kemenkeu, adalah di beberapa tempat ini: Bintaro, Pondok Aren, Depok, Citayam, bahkan Bojong Gede. Semua ini berada di luar radius 15 km dari tempat kerja. Waktu tempuh 15 km di Jabodetabek tidak sama dengan jarak yang sama di Kebumen atau daerah lainnya. Mungkin tidak cukup ditempuh dalam waktu satu jam, apalagi jika menggunakan moda transportasi umum.

Saya ingin menganggap semua tempat adalah rumah, sekaligus sudut pandang sebaliknya, bahwa tak ada rumah tempat pulang selain surga. Maka, menjalanilah hidup ini bagai pengembara yang tak punya rumah pulang dan menginap di sembarang papan. Sehingga, kantor tempat kita bekerja tetaplah senyaman rumah dan tidak perlu cepat-cepat meninggalkannya ketika jam kerja telah usai.

Seolah-olah kantor adalah lampu lalu lintas yang menyala merah di suatu perempatan, padahal tak ada kendaraan lain yang melintas. Untuk apa buru-buru? "Mereka yang tergesa-gesa telah lama mati." (dari film "La Grand Voyage").

Bagi pemuda lajang mungkin ini mudah, tapi tidak demikian bagi mereka yang menikah muda. Apalagi bagi perempuan. Dan dalam angan saya, masa itu tidak akan lama lagi (tetap kejar 25 sih).

Menikmati hidup ini tidaklah dengan pergi dari zona nyaman di pagi hari, lalu pulang ke peraduan ketika malam hari. Seperti ketika pagi hari malas bangun untuk bersiap pergi ke kantor, lalu bersegera pulang ketika kantor selesai jamnya. Padahal jalan macet parahnya. Buat apa tergesa-gesa? Hidup ini tak perlu segera sampai pada tempat tujuan, sebab perjalanan ini sendiri adalah esensi kehidupan.

Ketika telah berkeluarga dan usia tak lagi muda, quality time bersama anak istri begitu bermakna. Tak mungkin pulang demikian larut sepanjang minggu, sementara keluarga telah gelisah menunggu. Nah, saya belum memiliki rencana pasti soal ini: tentang di mana akan menetap, tentang apakah istri juga akan sama sibuk bekerjanya, atau apakah akan berangkat-pulang sama-sama istri di kompleks Lapangan Banteng. #eh entahlah.

Karena sebagaimana hidup, perjalanan ini bisa terhenti tanpa kita restui, dan sebelum sempat mencapai puncak. Nikmati setiap kesibukan; manfaatkan setiap jeda.

Karena kita tidak pernah tahu kapan perjalanan ini terhenti, apakah telah berada di pangkuan istri dan orang-orang terkasih, ataukah seorang diri di belantara rimba.

Maka memang, hidup ini bersumber dari Yang Satu, dan bermuara pada Yang Satu. Di antara keduanya hanyalah perjalanan, yang harus kita isi dengan semangat perjuangan. Tak ada tempat pulang, selain di bawah naungan-Nya. Dan rumah itu ada di dalam diri kita sendiri, kita bawa ke mana jiwa melangkah. Sebab, kepercayaan kepada Yang Awal dan Yang Akhir ada di hati ini.

Salam dari Musafir Muda, yang masih mencari teman jalan untuk tujuan yang sama,

@elmabruri

No comments:

Post a Comment