Wednesday, October 23, 2013

Reportase Jakarta Night Religious Festival

Dari Masjid Istiqlal kami bertolak ke Monas dengan sepeda motor. Sebagai warga Jakarta yang newbie, kami tak menyangka malam iduladha akan semacet ini, dan banyak jalan ditutup dan dialihkan. Sehingga kami sukses berputar-putar tanpa bisa mencapai Monas yang hanya sepelemparan batu dari Istiqlal. Ternyata euforia hari raya Islam sama saja dengan di kampung saya: banyak orang berbondong ke pusat kota untuk mengekspresikan suatu perayaan.

Setelah menyerah oleh kebingungan urusan arah jalan yang sebenarnya hanya keliru satu-dua blok dari Medan Merdeka, kami kembali ke Istiqlal untuk memarkir kendaraan. Lebih baik jalan kaki saja. Nah, sewaktu jalan saya dikenali dan dipanggil oleh seorang teman --berdua memakai sepeda motor-- yang waktu itu tidak saya ketahui identitasnya. Setelah saya konfirmasi, belakangan saya tahu mereka adalah kenalan sejak di kampus. Jika tebakan saya benar, mereka juga berkunjung ke acara itu lantaran ada Kyai Kanjeng sebagai salah satu pengisi acara. (kemudian dari mereka pula saya tahu bahwa Kyai Kanjeng tidak hadir.)


Tujuan saya menghadiri "Jakarta Night Religious Festival" adalah menjawab rasa penasaran saya terhadap sosok Kyai Kanjeng yang bagi beberapa orang termasuk tokoh penting, bahkan ternyata sudah go international. Sementara teman saya tertarik dengan Opick --dan mungkin juga Sulis. Kepada salah satu event organizer saya sempat bertanya soal rundown acara. Waktu itu masih pukul 21 lebih, masih acara-acara pembuka. Di susunan acara itu tidak ada nama pengisi Kyai Kanjeng sedang Opick dan Sulis akan berpentas sekitar pukul 23, maka kami memutuskan pulang tak lama setelah kami sampai. Tapi setidaknya teman saya membeli oleh-oleh dari lapak-lapak yang digelar di pintu timur laut Monas.


Namanya juga acara bertempat di area publik, pengunjung acara ini bercampur-campur penampilannya. Meski mengusung nama 'religious', kenyataannya di luar dugaan dan harapan saya. Tentunya dengan pandangan saya soal religiusitas dengan penggagas acara yang berbeda, saya menilai acara ini jauh dari substansi. Lebih cenderung kepada hiburan daripada perayaan iduladha sebagai bentuk syiar kepada masyarakat Jakarta.

However, this is JAKARTA!!! :-)

Meski terlambat, selamat hari raya Iduladha 1434 H.
@elmabruri

No comments:

Post a Comment