Wednesday, October 23, 2013

Review Buku "The Motor Cycle Diaries": Membonceng Che Guevara Berkelana ke Amerika Latin

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seorang kawan yang belum pernah saya temui ujung hidungnya yang telah mengenalkan --bahkan dengan berlebihannya menghubungkan-- Che Guevara, seorang revolusioner besar, dengan saya yang hanya berani melakukan pemberontakan kecil lewat surat terbuka. Di sinilah dia mengenalkan saya dengan Che [blognya].

sumber: goodreadscom


Maka, ketika tak sengaja menemukan judul "Che Guevara: The Motorcycle Diaries" pada katalog Perpustakaan-online DJA, saya segera menanyakannya kepada Mas Hisyami, sang pustakawan yang mudah sekali berkawan itu.

Membuka lembaran awal memoar seorang revolusioner ini saya merasa sulit memahami karena diksi yang meloncat-loncat, namun akhirnya terbiasa dengan buku terjemahan yang memang biasanya begitu. Mungkin karena kebiasan intelektual yang berbeda, buku terjemahan dari Barat rasanya selalu menantang pembaca dengan meninggalkan sedikit maksud yang tak dijelaskan definisinya. Ada lompatan-lompatan intelektual yang tak memanjakan pembaca, yang dengan kekhasannya buku-buku luar negeri tidak membuat jenuh lantaran penjelasan yang terperinci -yang ternyata tak perlu.

Memoar ini memang tidak mewakili seluruh cerita hidupnya, terutama tentang pandangan politik dan perjalanan hidupnya sebagai konsekuensi atas pilihan itu. Dan sebenarnya, melalui buku ini tidak ada bagian yang bisa ditautkan sama sekali dengan apa yang saya cari, yaitu bagian pemberontakan -terutama- kepada penguasa yang menurutnya tak seadil harapannya.

Perjalanan legendaris anak muda ini dimulai ketika Che hidup nyaman sebagai mahasiswa kedokteran tingkat akhir sementara Granado, teman seperjalanannya, juga hidup nyaman sebagai dokter muda. Dengan sepeda motor tua, mereka memulai perjalanan ke utara dari Argentina.

Sebagaimana sebuah cerita perjalanan, apalagi ini adalah perjalanan dengan model 'membuang diri untuk menemukan dirinya sendiri juga', pelajaran-pelajaran tentang sari pati kehidupan pastilah banyak didapat oleh Che dan Granado. Namun, pelajaran hidup itu tidak mudah ditemukan secara eksplisit dari penuturan Che. Tapi saya menikmati ceritanya, meski nilai moral yang menjadi unsur ekstrinsik buku ini tidak bersesuaian dengan kultur dan kepribadian saya sebagai muslim Indonesia -tentu saja.

And finally, yeah, this book isn't important to be read. But, it's better to read this book than to do nothing awaiting the train. [bener ga? Monggo dikoreksi]

Bukan Che Guevara,

@elmabruri

No comments:

Post a Comment