Thursday, November 14, 2013

Angin dan Kupu-kupu

/1/
setiap tiupannya hanyalah tarian atas ijin Sang Pengendali angin,
yang mengantar cinta dari benang sari kepada putik secara cuma-cuma
jangan kau bertanya, “Kepada siapa cinta kau teruskan?”
gerak arbiternya adalah titah Sang Makcomblang cinta satu-satunya

/2/
Dia mencipta kupu yang tak berakal dan tak bernafsu
yang bodoh dalam memilih, yang alpa dari berkeinginan
memilih putik adalah kehendak-Nya
mengantar cinta adalah titah-Nya
ia hanyalah jasa titipan cinta, kilat ataupun biasa

Dermaga

di seberang Malaka aku menantimu
mengharap dermaga memanggil kapalmu
menurunkan jangkar
mengantarmu
bersama seikat ilmu dalam tas cangklong

angin muson menyerbu tenggara
meniup mercusuar tanpa kabar
mencampur sari ke dalam putik
dikail arwana di antara hujan subuh
tapi kapalmu tiada berbau-bau

Rindu Palsu


hujan yang kejam selalu menyiksaku
dengan bunyinya yang memburu
seolah mengantar salam darimu

rindu menyuruhku menatap semu
selembar kertas berwarna dirimu
tipuan yang terabadikan
sebuah kebohongan yang nyata
tapi mata menyetuju
rinduku terkarantina, jinak sementara


April, 2011

Saturday, November 9, 2013

On the Job Training Week 5

Kami adalah pemuda gagah dan pemudi anggun dengan pekerjaan bersih, pakaian tersetrika rapi, berkantor di gedung -bagi saya- lumayan megah (terutama tampak luar dan lobby-nya), dengan gaji berada pada kisaran pertengahan untuk umur dan pendidikan yang bersaing di ibu kota. On the job training ini bukan tanpa manfaat, dan tidak pula saya berani mengatakan sia-sia. Setelah melewati seleksi akademis-kognitif yang ketat selama 3 tahun pendidikan, pekerjaan pertama-tama kami adalah tak jauh-jauh dari aktivitas administratif-klerikal, bahkan cenderung tidak berbuat apa-apa (dalam arti mendekati sebenarnya).

Tapi saya mencoba membela dengan mengatakan bahwa pekerjaan ini adalah dukungan bagi tugas dan fungsi utama suatu organisasi pemerintahan. Seperti kata ibu Sesdirjen Anggaran, Ibu Anandy, 1 M kurang 1 rupiah tetap bukan satu milyar. Iya, saat ini kami masih sedemikian itu kontribusinya.

Monday, November 4, 2013

Aku Ingin Tersenyum Saja

Facebook telah menjadi media mainstream sebagai ajang "curhat". Berbicara tentang dirinya sendiri: pikirannya, perasaannya, laporan temporer tentang keberadaannya, dan sikapnya.

Ketika menulis status, itu semacam berbicara sendiri sambil lalu di jalan yang ramai lalu lalang orang dan berharap mereka mendengar perkataan kita. Self-centered dan egosentrik. Atau ketika kita me-mention teman-teman FB kita, itu seolah-olah sedang berjalan-bergerombol dan mengobrol di antara sesamanya namun ingin orang lain memahami apa yang kita diskusikan. Seolah-olah pembicaraan kita adalah topik penting yang menguasai hajat hidup orang banyak.

Semacam ingat suatu iklan provider seluler? Ngomongin bisnis besar bareng teman-teman sambil suaranya digedein biar kedengeran sampai meja sebelah? It's just like that. Dan betapa tertipunya kita oleh keseolah-olahan.

Sunday, November 3, 2013

Family Gathering

It's a good Sunday to do everything. Jakarta has some great activities today: Jakarta Mandiri Marathon at National Monument, Monthly Islamic Lecture with Ustadz Yusuf Mansyur at Istiqlal, and Family Gathering of Finance Ministry. I love to do all of that. But, by the time schedule, I missed the marathon registration. And, I got none invitation to join the family gathering both formally nor informally --because I still on the job training. So, alhamdulillah it's the clue for me to visit Istiqlal totally --and only.

Terasing di Kampung Sendiri

Aku adalah kaum proletar yang Allah izinkan mengenyam pendidikan tinggi.
Pulang dari perantauan mencari ilmu, menetap hampir 10 bulan berturut-turut, saya seperti orang asing di kampung sendiri. Bukan karena secara fisik saya tak berbaur dengan masyarakat kampung, tapi lebih karena paradigma yang berbeda. Justru karena bersosialisasi dengan merekalah saya menghadapi permasalahan ini. Barangkali saya harus memaklumi, masyarakat umum tidaklah berkesempatan berpendidikan sebaik saya. Dan harus saya akui pula bahwa jalur pendidikan yang saya tempuh adalah pendidikan formal yang berbau kapitalis dengan sedikit bumbu religi modern yang cenderung instan.