Saturday, November 9, 2013

On the Job Training Week 5

Kami adalah pemuda gagah dan pemudi anggun dengan pekerjaan bersih, pakaian tersetrika rapi, berkantor di gedung -bagi saya- lumayan megah (terutama tampak luar dan lobby-nya), dengan gaji berada pada kisaran pertengahan untuk umur dan pendidikan yang bersaing di ibu kota. On the job training ini bukan tanpa manfaat, dan tidak pula saya berani mengatakan sia-sia. Setelah melewati seleksi akademis-kognitif yang ketat selama 3 tahun pendidikan, pekerjaan pertama-tama kami adalah tak jauh-jauh dari aktivitas administratif-klerikal, bahkan cenderung tidak berbuat apa-apa (dalam arti mendekati sebenarnya).

Tapi saya mencoba membela dengan mengatakan bahwa pekerjaan ini adalah dukungan bagi tugas dan fungsi utama suatu organisasi pemerintahan. Seperti kata ibu Sesdirjen Anggaran, Ibu Anandy, 1 M kurang 1 rupiah tetap bukan satu milyar. Iya, saat ini kami masih sedemikian itu kontribusinya.


Jika tebakan dan harapan kami benar, berdasarkan SPMT (surat perintah melaksanakan tugas) kami telah terhitung mendapat kompensasi (a.k.a. gaji) yang ditangguhkan pembayarannya dan sementara hanya diberikan dalam bentuk honor yang -lagi-lagi seperti yang dibilang dalam iklan provider Three "3"- habis sampai tanggal 15an untuk hidup standar Jakarta. Secara jujur, dengan penilaian yang sama sekali subjektif, take home pay seorang birokrat muda Kemenkeu itu overpaid berdasarkan beban kerja. Tapi, sebagai pemuda potensial yang telah melalui seleksi ketat sebelum dan selama kuliah, penghasilan itu hanyalah rata-rata air. Tertebak dan terbatas.

Dari jalanan ibu kota, memakai identitas berbendera Kementerian Keuangan, barangkali tukang ojek sangat iri pada kami dan satu-dua mungkin berharap dapat mengambil jadi mantu. Begitu memasuki ruangan, pesona itu menguap bersama kebosanan duduk di belakang meja, di depan komputer, tanpa bukti nyata pengabdian pada negara.

Bagaimanapun saya telah "terjebak" pada pusaran birokrasi, mencari hikmah di antara ketetapan-ketetapan Allah adalah yang terbaik. Ketika akhir-akhir ini waktu sholat dzuhur di ibu kota terjadi saat pukul 11.45, sejak 15 menit sebelumnya kita sudah pantas meninggalkan ruangan -meski tidak langsung menuju masjid. Lalu kembali ke ruangan sekitar pukul 13 atau lebih "sedikit". Siapa yang berani "menghalangi" kita beribadah? Lagi pula itu adalah jam istirahat siang selama sejam, ditambah "kurang lebihnya".

Kalau kau cukup bijak memanfaatkan waktu luang dan jeda, kau bisa membaca 1 juz dari al Quran setiap hari pada jam kantor 7.30-17.00. Dan juga 1000 halaman buku per pekan. Setelah absen sebelum pukul 7.30 pagi pun kamu sebaiknya melipir dulu ke mushola untuk sholat dhuha. Ketika ashar, jam 3 misalnya kita mulai turun ke mushola, lalu kembali sejam kemudian. Dan ini adalah kewajaran statistika, dengan tidak mengurangi gaji yang kau dapatkan. Kau pun bisa sambil mengelola bisnis online dari komputer kantor, sebab pada dasarnya tersedia fasilitas internet acces untuk setiap pegawai. Daripada membuka-buka tread tak penting, download film tak manfaat, baca berita ecek-ecek, apalagi bermain Solitaire, sementara pekerjaan benar-benar tidak ada (ada kalanya hectic, ada kalanya selow), kan mending memantau forum jual beli Kaskus di sela-sela pekerjaan, tanpa memangkas kinerja.

You see? Betapa sejahteranya.... dan fleksibel meski setiap pegawai mempunyai kontrak kinerja yang jelas dan dituntut stand by di kantor 7.30-17.00. Yah, namanya juga standby, seperti misalnya di front office, mereka bekerja kalau ada tamu. Ada waktu tertentu sedikit tamu, ada kalanya istirahat pun tak sempat.

Yeah, tiga minggu lagi on the job training ini dijadwalkan selesai. Tapi, eh, apa kabar #850? -katanya sih minggu depan. Anyway, alhamdulillah it's Friday.

Salam senyum dari Harapan Mulya,

@elmabruri

1 comment:

  1. Ya, betul kang Abdul, harus memanfaatkan sebaik-baiknya, memang kondisinya yang kyk gitu. Great post )

    ReplyDelete