Sunday, November 3, 2013

Terasing di Kampung Sendiri

Aku adalah kaum proletar yang Allah izinkan mengenyam pendidikan tinggi.
Pulang dari perantauan mencari ilmu, menetap hampir 10 bulan berturut-turut, saya seperti orang asing di kampung sendiri. Bukan karena secara fisik saya tak berbaur dengan masyarakat kampung, tapi lebih karena paradigma yang berbeda. Justru karena bersosialisasi dengan merekalah saya menghadapi permasalahan ini. Barangkali saya harus memaklumi, masyarakat umum tidaklah berkesempatan berpendidikan sebaik saya. Dan harus saya akui pula bahwa jalur pendidikan yang saya tempuh adalah pendidikan formal yang berbau kapitalis dengan sedikit bumbu religi modern yang cenderung instan.
 
Saya bersekolah di tempat formal yang cenderung kapitalis, dalam artian sekolah negeri dan bukan sekolah keagamaan: dari SD negeri kampung, SMP negeri hampir favorit, SMA negeri elit borjuis, dan sekolah tinggi liberalis. Pemahaman agama yang saya miliki pun tidak melalui proses pelembagaan ala pesantren: sedikit demi sedikit, istiqomah, dan patuh pada nasihat guru. Kombinasi keduanya bisa jadi merupakan salah satu faktor pembentuk watak saya yang berpotensi menjadi pemberontak.

Ataukah ini sepuluh bulan pertama dari hidup saya melepas diri dari kehidupan literer-tekstual bangku sekolah? Inilah kehidupan nyata yang daripadanya berasal asumsi-asumsi pembentuk teori di buku-buku pelajaran. Sekolah mengajari kita mengingat, bukan menemukan solusi.

Di kampung ini, sholat berjamaah di masjid pada siang hari adalah tabu. Paling hanya ada 5 atau 7 orang berjamaah termasuk imam. Tak ada pemuda yang pergi mengaji. Orang-orang berangkat kenduri padahal masjid sedang adzan asar. Di antara kebutuhan hidup yang terus menghimpit dan perekonomian yang jomplang, masih sempat membeli petasan untuk lebaran. Kebodohan menyelimuti, tapi tak mau mendengar nasihat orang tua yang lebih berpengalaman. Agama tidak membudaya, tapi budaya dianggap agama. Berziarah ke kuburan lebih dianggap penting daripada berdoa di masjid di antara adzan dan iqomah.

Dan, di antara semua itu saya terjebak dalam pusaran formalisme khas orang Jawa, termasuk kontrol sosial bernama sawang-sinawang.

Ataukah aku yang asing bagi diriku sendiri?

Sungguh pun saya punya banyak waktu untuk menanam, banyak pula bunga yang minta disemai, Taman Inspirasai sepi dari tanaman baru akhir-akhir ini. Yah, tidak semua pemikiran dapat dituliskan dan tidak semua tulisan dibacakan, sebagaimana beberapa sejarah tidak diungkapkan.


Memang tidak semua kepenatan seharusnya dituliskan, sebagaimana doa yang harus tetap dimohonkan meski Allah mengetahui segala hajat hamba-Nya.

Salam hangat,
@elmabruri
[ditulis 27 Ramadhan lalu]

No comments:

Post a Comment