Tuesday, December 10, 2013

Musafir Muda v2.0

Beberapa hari ini saya mulai merasa fine kalau nanti harus tinggal -membeli/membangun rumah- yang cukup jauh dari tempat kerja di Jakarta Pusat. Biasanya sih ke arah selatan sampai Bojonggede-Bogor. Kalau ke arah barat daya, ya sekitaran Bintaro. Kebanyakan sih begitu. Ditinjau dari bebepara faktor, dari hasil membaca informasi di sana sini, tinggal di hunian horizontal di pinggiran kota masih lebih mending daripada tinggal di hunian vertikal di pusat kota -for me.

Kita tinggal menyiasati moda transportasi buat commuting-nya. Ya pilihan yang enak sebenarnya adalah kereta lokal: commuter line. Dan alhamdulillah Pemda DKI sudah mulai menambah armada kereta dan semoga semakin berbenah ke depannya di segala sektor. Lha iya, saya 'kan hendak tinggal di Jakarta bukan untuk waktu yang singkat, insyaAllah.

Menyoal commuting, untuk berangkat ke kantor nantinya saya bisa saja butuh waktu sampai 90 menit seandainya tinggal di daerah dengan radius antara 15-25 kilometer dari tempat kerja. Sekarang saja saya tinggal di kos yang berjarak kurang lebih 3 km bisa membutuhkan waktu 15 menit dengan sepeda motor untuk berangkat (nebeng temen) dan 30 menit untuk pulangnya (naik Metromini 47, 03, atau 07). Perkiraan ini adalah hitungan kotor perpindahan raga saya sejak keluar pintu gerbang kos sampai di depan handkey -mesin absen- dan sebaliknya.

Seandainya nanti punya alokasi anggaran, sepanjang saya masih tinggal di radius 5 km dari tempat kerja -kompleks Kemenkeu- saya akan ngonthel alias bersepeda.

Apapun pilihan moda transportasi, selalu ada positif dan negatifnya. Di commuter line, kita bisa melakukan banyak hal selama perjalanan, antara lain membaca (Quran maupun buku), online, nge-game, berdzikir, maupun hanya tidur.

Resikonya antara lain seperti tempo hari diberitakan bahwa sebuah truk tangki bensin TERTABRAK commuter line jurusan Serpong-Tanah Abang (CATAT ya: bukan "commuter line MENABRAK truk tangki"; karena bagaimanapun kereta itu berjalan di jalurnya sedangkan si truk seharusnya berhenti di belakang palang pintu). Resiko lainnya yang paling jamak dirasakan adalah keterlambatan jadwal karena banyak faktor, (masih) berdesakan, dan bisa memotong waktu magrib jika langsung pulang dari kantor ke Bogor. Yah, perlu siasat tentunya.

Tapi, kita tidak perlu fanatik atau justru trauma/phobia terhadap satu atau lebih moda transportasi tersebab kemungkinan kecelakaan yang menghantuinya. Karena, musibah dan kematian itu tidak berada di kendaraan apa yang kita gunakan, tapi melekat kepada subjek individu. Jika memang telah Allah takdirkan untuk mendapat kecelakaan di jalan raya, menaiki mobil antiteror pun tidak ada artinya. Tapi memang kita musti menerapkan safety riding ketika berkendara. Jika memang seseorang yang sedang menyopir Mitsubishi Outlander Sport ditakdirkan Allah untuk tertabrak Daihatsu Ayla, bisa saja si sopir tersebut meninggal sedangkan penumpang mobil murah itu selamat lantaran mengenakan sabuk pengamannya.

Jadi, yah, mari kita berdoa untuk para korban dan para insan perhubungan darat, udara, maupun laut (serta untuk manusia di Bumi ini pada umumnya): semoga ini menjadi peringatan sekaligus pembelajaran bagi kita semua bahwa musibah bisa datang kapan saja, di mana saja, dan kepada siapa saja. Maka, waspadalah... waspadalah... waspadalah.

BTW, sedikit banyak commuter line itu mendapat banyak perhatian dari teman-teman saya karena lewat jurusan inilah kami sering menumpangkan raga untuk berpindah koordinat, dari St. Pondok Ranji ke St. Tanah Abang, sewaktu kuliah dulu.

Kukirim senyum untuk kalian, para pengunjung yang budiman: :-)
-M-
@Gedung Sutikno Slamet, Lt. 18

No comments:

Post a Comment