Tuesday, December 24, 2013

Seandainya Mobil Murah Menjadi TransJakarta

Seandainya nanti ada adik kelas yang menulis di kolom pencarian di Google dengan keyword semacam "penempatan STAN DJA", mungkinkah mereka akan menemukan blog saya? Mungkin saja, tapi di urutan berapa? haha.

Seandainya 10 Daihatsu Ayla dibuat untuk membangun satu bus TransJakarta, tentu saya akan bersungguh-sungguh berdoa agar Pak Boed tidak dikejar-kejar KPK terkait bail out Bank Century ketika nanti beliau turun tahta tahun 2014.
sumber: tribunnews.com

Oke. Kembali saya tuliskan: saya penempatan di DJA. Katanya sih Di Jakarta Aja. Kenyataannya memang begitu, instansi eselon 1 di bawah Kemenkeu ini hanya berkantor di Jakarta sejak dipecah menjadi DJA (baru) dan DJPB. Dulu, DJA lama mempunyai kantor vertikal di daerah-daerah sampai ke pelosok-pelosok tanah air. Nah, sekarang ini bagian "pelosok-pelosok"-nya itu berada di DJPB --maaf ya, hehe.

Mau memilih penempatan di instansi pusat atau instansi daerah, itu tergantung kebijakan masing-masing lulusan STAN, atau memang ada kalanya "dipaksa" penempatan di instansi yang tidak diinginkannya. Mereka bilang, "Awalnya kecewa, lama-lama biasa saja kok." (sambil menahan air yang menggenangi mata :d ). Kok ngelantur?

Ada yang bilang, hidup di Jakarta akan tua di jalan. Inilah alasan utama mereka tidak ingin penempatan di instansi pusat. Iya bisa jadi, itu adalah resiko hidup di ibu kota sebuah negara berkembang dengan tingkat pendidikan yang yah....gitu-gitu aja. Banyak orang pinter, tapi egois. Mentang-mentang mampu membeli mobil, dibelanjakanlah penghasilan yang sedikit di atas pas-pasan itu untuk membeli mobil murah (LCGC: low cost green car). Saya memaklumi, sebagai seseorang yang masih muda dan merasa memiliki kemampuan finansial yang --sebutlah-- tertata dan teratur pada tingkat rata-rata jangka panjang (uoopoooo iki?), adalah wajar menginginkan sebuah mobil sederhana untuk keluarga kecilnya.

Tidak hanya saya, beberapa teman memang terpikir membeli mobil beberapa tahun ke depan. Tapi diri ini tersadar. Kita -saya- harus melihat kehidupan ini secara makro (ummat), tidak hanya mikro (sebatas diri dan keluarga). Permasalahan ini bukanlah sekedar: saya mempunyai uang untuk membeli mobil, maka wajar saya membelinya. Seharusya dipikirkan juga dampak makronya (cieh.... mentang-mentang udah deket banget sama Analisis Ekonomi Makro.... [iya deket banget, tapi masih terhalang pintu bernama gender... hiks #berkaca-kaca])

Mobil murah adalah barang konsumsi meskipun dikategorikan sebagai asset (karena mempunyai nilai ekonomi lebih dari setahun). Hampir tidak mungkin mobil ini memberikan tambahan penghasilan bagi si pemilik, misalnya dijadikan taksi atau direntalkan. Yoo tambah cepat rusak, rek! Selain itu, konsumsi bahan-bakar pasti meningkat (meskipun bukan yang bersubsidi) walaupun mobil ini diklaim hemat bahan bakar.

Padahal, dengan sejumlah uang yang sama (untuk mudahnya, kita pakai saja rata-rata harga mobil murah yakni sekitar 100juta), kita bisa meningkatkan transportasi masal dari segi kualitas maupun kuantitas. Seandainya, pemerintah memfasilitasi penanaman modal (investasi) dari masyarakat ke, salah satunya, pengelola TransJakarta, keuntungannya semakin berganda. Pengelola transportasi masal memperolah dana segar nan melimpah, masyarakat mendapat return on investment dan pemahaman pengelolaan keuangan dengan lebih baik, sekaligus merasakan pelayanan yang lebih memuaskan, sementara pemerintah dianggap berhasil membawa rakyatnya kepada kesejahteraan yang merata.

Yah, inilah cuap-cuap seorang calon analis ekonomi makro wanna be pegawai muda Kemenkeu.

Salam sejahtera dari ibu kota,
-M-
Gedung Sutikno Slamet, Lt. 18

No comments:

Post a Comment