Monday, January 20, 2014

Konsinyering

Sejak bekerja di Direktorat Penyusunan APBN, saya merasa malu jika masih membicarakan soal gaji, pangkat, penempatan instansi, dll. Meski begitu, saya juga merasa belum mampu berbicara soal kontribusi kepada negeri. Di hadapan saya (kami) adalah uang negara yang harus kami kelola dengan seoptimal mungkin, khususnya bidang penyusunan rencana keuangan Indonesia selama satu tahun secara berkelanjutan. Tidak lain, tujuannya seperti tertuang dalam UU Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, yaitu: memajukan kesejahteraan umum. Mulia sekali....

Allson Hotel, tepat di belakang gedung putih DJA (dokumen pribadi)  


Dan di genggaman kami pula diserahkan anggaran operasional untuk mendanai kegiatan-kegiatan yang menunjang tugas pokok dan fungsi keberadaan Direktorat Penyusunan APBN. Kegiatan-kegiatan itu tertuang dalam bentuk seperti rapat, perjalanan dinas, dlsb. Ini contoh kecilnya saja. Dan sebenarnya banyak kemubadziran yang terjadi. Misalnya, untuk rapat dalam kantor (RDK) yang harus dilaksanakan di luar jam kerja (setelah jam 17.00), ini ada konsekuensinya tersendiri, yakni sebutlah honor. Jumlahnya, menurut saya sih lumayan; setidaknya jika ikut RDK 4 kali dalam sebulan saja bisa untuk membeli smartphone low end. Belum lagi biaya untuk konsumsinya. Apakah ini menambah berat APBN? Saya rasa belum, tapi alhamdulillah anggap saja sebagai tambahan kesejahteraan bagi pegawai.

Kita beralih ke rapat di luar kantor, yang biasa disebut sebagai konsinyering atau konser. Biasanya dilakukan di hotel, baik paket fullboard ataupun hanya fullday meeting. Dalihnya mengapa rapat dilakukan di hotel sampai menginap segala adalah tidak memadainya ruang rapat milik direktorat (eselon II) dan atas nama penghormatan kepada tamu undangan (harus menyertakan peserta dari luar instansi eselon I). Atas konsinyering ini pula muncul konsekuensi, yaitu uang saku dan uang transport yang besarnya memang telah sesuai dengan standar biaya yang ditetapkan Kemekeu via Ditjen Anggaran. Dan ini bisa dibilang lumayanlah untuk beli pulsanya.

Nah, apakah konsinyering ini memberatkan APBN? Saya tidak dapat mengatakan bahwa ini memberatkan anggaran negara karena saya tidak dapat menunjukkan perhitungan sebagai penilaian yang rasional dan objektif. Hanya saja, saya berpendapat bahwa itu tidak perlu. Bahwa uang negara yang masuk ke hotel-hotel itu cukup besar adalah nyata dan sebenarnya itu sesuatu yang tidak berada pada level "penting". Maka sebenarnya bisalah kita melakukan penghematan ini.

Dan lain sebagainya, masih banyak hal yang sebenarnya bisa dilakukan untuk melakukan penghematan anggaran yang dengannya dapat dialih-alokasikan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan untuk ikut serta dalam perdamaian dunia, tidak melulu untuk memutarkan operasional birokrasi.

Saya menuliskan ini antara lain sebab rasa bersalah telah menikmati uang negara yang meskipun legal (sah secara hukum), tapi merasa tidak enak tersebab mata yang masih sering melihat kehidupan kaum proletar di antara meriahnya lampu Jakarta. Antara lain sebagai bahan pengingat akan tanggung jawab di balik pengelolaan keuangan negara, saya sering berjalan-jalan di antara kumuh dan padatnya pemukiman warga di antara kos saya dan kantor.

Dan, doakan kami semoga amanah ya...

Salam sejahtera,
@elmabruri
menuju Allson Hotel

No comments:

Post a Comment