Wednesday, February 5, 2014

Gua

Di kehidupan yang serba cepat ini, tampaknya sesekali kita harus berhenti. Dalam satu hari yang lelah, setidaknya ada lima pemberhentian utama. Dan sepertinya itu tidak cukup. Dalam seminggu yang dipenuhi rutinitas kerja dan karya, teramat perlu tempat-tempat pemberhentian. Tempat menyembunyikan diri dari putaran zaman.

Dan di kota semegah ibu kota Jakarta ini, di manakah pemberhentian itu?
Sumber foto: www.digitaltrends.com

Semacam tempat "melarikan diri" Nabi kita -sejak sebelum diangkat jadi Nabi- dari jahiliahnya zaman itu. Tentu tidak ada gua di Jakarta. Dan maksudnya di sini pun bukan sebuah definisi tentang lubang yang menembus bumi. Kata "gua" agaknya beresonansi dengan hening, privat, dan terpisah. Dan ternyata, tempat itu banyak sekali di Jakarta. Hanya saja, aksesnya yang sulit -atau mahal.

Dan ternyata lagi, saya sering dihadapkan pada tawaran untuk berhenti di tempat yang hening, privat, dan terpisah itu. Kesempatan ini terjadi ketika kami melakukan rapat di hotel (fullboard) atau seperti yang telah saya tuliskan di post sebelumnya.

Bukan gila kemewahan. Bukan pula bergaya sok metropolitan. Sesekali kita perlu menutup telinga dari hiruk-pikuk di luar diri, untuk dapat mendengar rintihan hati sendiri yang begitu lirih. Dan sejujurnya, saya bisa mendengar kata hati saya (cielah) bahwa rapat di hotel sampai menginap segala adalah pemborosan anggaran, sementara banyak sekali rakyat Indonesia yang menjadikan tenda-tenda darurat di sekitaran Stasiun Senen sebagai tempat tinggalnya.

Tapi, saya mempunyai pembelaan diri: bahwa paket meeting fullboard ini sudah dipesan yang mau tak mau pasti dibayar oleh Pemerintah. Nah, kalau tidak dimanfaatkan? Ya, semakin mubadzir pengeluaran negara ini. Posisi saya di sini memang bukan penentu kebijakan, tapi tetap mencoba ngeli ning ora keli;  ikut arus, tapi tidak hanyut. Jadi, kalau ada kesempatan menyepi di hotel, saya berhak mengambilnya.

Kembali kepada gua. Pada intinya, di sini kita bisa melakukan kontemplasi, meditasi, semedi, bertapa, atau setidaknya istirahat dengan tenang, tidak sekedar berendam air hangat di bathtub, menonton channel Aljazeera, dan makan enak.

And the last: Loe... Gua... Not end!
(bukti di Jakarta banyak "gua")

Salam,
@elmabruri

No comments:

Post a Comment