Thursday, February 27, 2014

Label

Sekian ribu warteg, adakah yang menempelkan logo halal di jendela warungnya? Lalu mengapa Solaria yang belum menampilkan -waktu itu- sertifikat halal dari MUI -semacam- mendapat boikot untuk tidak makan di sana? Alih-alih merealisasikan sikap kehati-hatian, bisa jadi fitnah yang disebarkan seandainya kita salah mengartikan urgensi label kehalalan. Atau jangan-jangan ada udang di balik tepung adonan? :-)
Logo halal pada kotak siap saji
(dokumen pribadi)

Apakah warteg itu dianggap tidak lebih bahaya -atau dianggap lebih aman- daripada restoran-restoran besar? Terus, daging tikus yang dibungkus tepung crunchy ala fried chicken itu ditemukan di restoran atau di gerobak pinggir jalan?



Persis pelabelan sarung kepada Muslim tradisionalis, celana mengatung kepada Muslim radikal, jenggot tipis kepada ikhwan gaul, dsb. Melalui tanda/label yang dikenakan itu, kita mudah saja memberi justifikasi yang sebenarnya tidak presisi. Tidak setiap mendung berarti hujan, sebagaimana tidak setiap tangis adalah pertanda derita.

Terjebak klasifikasi yang berkutub pada dua peran. Antara baik dan tidak baik. Halal-haram. Positif-negatif. Padahal, di antara positif dan negatif ada netral yang dilambangkan (dilabelkan) melalui "nol" kan?

Ketika label seolah menjadi "pelimpahan tanggung jawab" atas makanan yang kita makan. Padahal, kehati-hatian kita yang kurang. Atau nafsu kita yang terlalu serakah. Apakah dengan label "halal" itu membuat daging tikus yang dilapisi tepung renyah dan digoreng kering lalu dibungkus rapi dengan plastik/kardus bertulisakan "halal" menjadikan makanan itu halal dan menghilangkan efek buruk yang dibawa oleh material yang tidak baik -masuk ke tubuh kita? Tapi memang, yang ada, alhamdulillah kita menjadi ringan saja ketika memakannya.

Jadi, mohon maklum bila saya tidak mau diajak makan mie ayam dan bakso gerobak dorong (meskipun ditraktir) dan tidak akan mengajakmu mampir ke tenda-tenda sederhana ketika kita berjalan-jalan sore ke kota -nanti. Saya pun tidak akan hadir jika ada teman yang mengundang makan di rumah makan-rumah makan siap saji meskipun itu hari ulang tahunnya. Semua itu atas nama kehati-hatian.

Alangkah indah nasihat guru kami berikut ini:

--Makanan yang kita makan, sepanjang tidak disebutkan bahwa itu haram atau kita tidak tahu haram atau halalnya, pada dasarnya adalah boleh dikonsumsi. Namun, ketika di kemudian hari kita mendapati diri sendiri menjadi malas untuk berbuat baik, menurun kualitas ibadah, dan semakin mudah was-was, periksalah mula-mula pada makanan yang masuk ke tubuh kita. Karena sesungguhnya, makanan haram memang mempunyai karakter merusak tubuh pemakannya.--

Maka kesimpulannya: berhati-hatilah dan jangan serakah. Kita tidak akan mati karena menghindari makanan ringan pinggir jalan, tidak akan kurang gizi meskipun mengurangi makan daging ternak sembelihan di banyak restoran. Mencegah lebih baik daripada mengobati, katanya.

Salam sejahtera di bumi khatulistiwa,
@elmabruri

No comments:

Post a Comment