Tuesday, February 18, 2014

Pulang

"Karena hatikuku adalah rumahku, aku tak perlu pulang untuk mendatangi kenyamanan. Tidak pula bepergian untuk mencari ketenangan, atau melarikan diri dari keramaian untuk mencapai kesunyian. Untuk meramaikan hati dengan kehangatan kasih sayang, adalah cukup dengan membisikan nama-nama Yang Maha Indah, sepanjang nafas selama hayat, dalam dalam diam maupun kelimpungan." (status FB Abdullah Mabruri)

Setelah 4 bulan merantau ke Jakarta, akhirnya datang juga kesempatan mudik. Meskipun hanya bisa mengambil 2 dari 3 hari libur panjang akhir pekan dan imlek karena terlambat memesan tiket kereta, mudik kali ini cukup berarti. Sebab, saya bukan pulang untuk menjenguk kampung halaman. Benar memang saya menuju Kebumen, tapi lebih tepatnya adalah kami -saya dan mbak Arum- pulang ke pangkuan Ibunda (cielah....) sekaligus membawa Ibu untuk berkumpul di Jakarta. Begitu Ibu bergabung di Jakarta, kini saya selalu pulang di akhir pekan.
Agenda lain dari mudik kemarin adalah menjenguk cucu. Walah iya, saya sudah punya cucu. Bahkan itu bukan cucu yang pertama. Saya harus memanggilnya sebagai cucu karena ia adalah anak dari cucu dari Budhe saya. Tidak ada agenda bertemu teman sekolah dan lain-lain. Itu pun sudah menghabiskan waktu.

Kembali pada "pulang". Hidup ini adalah perjalanan. Bagaimana mungkin kita terpikir untuk melangkah mundur? Life must go on, kata Celine Dion. Tapi, hidup ini melingkar. Tujuan perjalanan ini adalah kembali kepada tempat kita berawal. Tersebab perjalanan hidup yang melingkar inilah kita tidak tahu seberapa jauh garis bujur perjalanan yang telah kita tempuh dibanding dengan sisa kesempatan untuk mencapai tempat tujuan kita. Yang kita tahu, kita harus menyelesaikan lingkaran ini dengan sempurna, bukan kembali ke belakang dan menghapus jejak kehadiran.

Apalagi sebagai pekerja-perantau. Saya kembali ke kos karena di sanalah saya menyimpan barang-barang perlengkapan. Tidur bisa di mana saja; mandi juga sama. Yah, mungkin ini paradigma yang salah, bahwa kos/kontrakan adalah tempat tinggal sementara yang dengannya tidak menuntut kita untuk secara intens bersosialisasi antarpenghuni rumah satu atap. Rasanya cukuplah tegur sapa dan memanggil nama ketika bertemu di lorong, tangga, atau balkon jemuran (lain hal ketika telah bermukim dan bertetangga). Musim telah berganti, jagung pun telah berumur. Ketika masa depan datang membawa kedewasaan, manusia dituntut untuk berani hidup sendiri dan mampu mandiri (pada suatu titik balik di kemudian hari, manusia dewasa tadi perlu berkolaborasi dalam harmoni dengan -setidaknya- satu manusia dewasa dari jenis yang lain, yang dengannya menjadi alasan untuk selalu rindu pulang).

Tidak seperti ketika menjadi mahasiswa cupu tempo waktu yang masih nyaman dengan kecenderungan untuk bergerombol dan bercengkrama di depan TV untuk mengisi acara di luar kampus, kini hidup tak bisa hanya berporos pada dua kondisi: pagi-pergi-pulang-petang antara kantor dan kosan.

Di manapun dan kapanpun kita harus selalu merasa "pulang" karena memang kita tidak tahu kapan malaikat maut menjemput kita. Kita harus selalu bersiap pulang dan merasa nyaman bahkan ketika kita baru membuat langkah pertama suatu percobaan. Berputar dalam harmoni; bergerak dalam keseimbangan.

...dan aku tersesat di jalan pulang menuju hatimu...

@ elmabruri

No comments:

Post a Comment